Breaking News:

Berita Buleleng

Termasuk Kecamatan Buleleng & Seririt, Berikut Daftar Kecamatan yang Masuk Zona Merah Rawan Tsunami

Tujuh kecamatan yang ada di Buleleng masuk sebagai wilayah zona merah rawan tsunami.

Istimewa
BPBD Buleleng bersama BNPB saat menggelar workshop penyusunan dokumen rencana kontingensi menghadapi ancaman tsunami di Buleleng, Rabu 3 November 2021 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Tujuh kecamatan yang ada di Buleleng masuk sebagai wilayah zona merah rawan tsunami.

Hal ini diketahui dalam workshop penyusunan dokumen rencana kontingensi menghadapi ancaman tsunami di Buleleng yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rabu, 3 November 2021. 

Baca juga: Dua WNA Pemalsu Surat PCR Dideportasi Pihak Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja

Baca juga: Tak Perlu Jauh-jauh ke Singaraja, Beberapa Rekomendasi Warung Siobak di Denpasar Ini Bisa Anda Coba

 
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengatakan, tujuh kecamatan yang masuk dalam zona merah rawan tsunami adalah Kecamatan Buleleng, Seririt, Tejakula, Sawan, Banjar, Gerokgak , dan Kubutambahan.

Ketujuh kecamatan ini memang berada di wilayah pesisir pantai.

Sementara dua kecamatan lainnya, yakni Busungbiu dan Sukasada dikategorikan sebagai wilayah tidak berisiko.

Dalam pemetaan itu juga terlihat potensi kerusakan akan cukup masif apabila bencana tsunami terjadi.

Dimana dari hasil analisis InaRisk menyebut ada sekitar 56 ribu penduduk yang akan terdampak. 

Ariadi menyebut, ketujuh kecamatan itu masuk sebagai zona merah rawan tsunami mengingat ada tiga patahan yang terdapat di laut Bali Utara.

Yakni patahan Tejakula, Patahan Pengastulan di Kecamatan Seririt, dan patahan Banyuwedang.

Jika terjadi gempa yang pusatnya berada di laut dan dekat dengan patahn tersebut, maka akan berpotensi terjadi tsunami. 

Baca juga: Desa Pupuan Sawah di Tabanan Masuk Zona Hijau, Belum Ada Satupun Warganya Terpapar Covid-19

Baca juga: Indonesia Masters 2021 Dipastikan Digelar di Bali November ini, Kento Momota & Axelsen Ikut

Untuk itu pihaknya akan segera menyusun jalur evakuasi serta menambah alat deteksi dini Tsunami Early Warning System (TEWS).

Mengingat TEWS saat ini hanya ada di wilayah Seririt.

"Dari workshop ini kami menyusun rencana kontingensi sebagai acuan rencana pencegahan dan evakuasi. Nanti akan ada peta spesifik untuk jalur evakuasi dan penyelamatannya, titik kumpul aman dan titik pengungsian," jelasnya. 

Sementara Kasubdit Perencanaan Siaga BNPB Dyah Rusmiasih mengatakan, workshop ini dilaksanakan untuk meminimalisir dampak dari bencana alam, khususnya bencana tsunami dengan meningkatkan kapasitas dari OPD di Buleleng.

"Kami melihat ada potensi bencana tsunami di Buleleng. Apabila tidak diantisipasi sejak dini, maka  bencana dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang besar. Sehingga kami melakukan pendampingan agar rencana kontingensi dapat disusun secara holistik," tutupnya. 

(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved