Breaking News:

Berita Klungkung

Dulu 200an, Pembuat Garam di Pesisir Karangadi Klungkung Kini Hanya Tersisa 17 Orang 

I Nyoman Pegig sedang berteduh di sebuah gubuk penggaraman di pesisir Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, Bali.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
I Nyoman Pegig sedang berteduh di sebuah gubuk penggaraman di pesisir Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, Bali, Rabu 3 November 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - I Nyoman Pegig sedang berteduh di sebuah gubuk penggaraman di pesisir Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, Bali.

Ia merupakan salah seorang dari 17 petani garam yang masih tersisa di pesisir Karangdadi, Desa Kusamba.

Ia menjelaskan, saat ini hanya tersisa 17 orang yang masih aktif membuat garam secara tradisional di pesisir Pantai Karangadi.

Padahal sebelumnya ada sekitar 200 orang.

Baca juga: Siapkan Lahan hingga Gratiskan Pupuk Organik ke Petani, Klungkung Menuju Pertanian Ramah Lingkungan

" Generasi muda sekarang jarang ada yang mau buat garam. Karena kerjanya berat dan hasilnya tidak seberapa. Mereka lebih memilih cari kerja pariwisata dan yang lainnya," ungkap Pegig, Rabu 3 November 2021 kemarin.

Selain itu abrasi di Pesisir Karangadi, Desa Kusamba juga menjadi penyebab semakin berkurangnya pembuat garam.

" Ladang penggaraman warga semakin berkurang karena abrasi. Jadi produksi juga semakin berkurang," jelasnya.

Baca juga: 4 Objek Budaya di Klungkung Ditetapkan sebagai WBTB 2021, Pemkab Harap Ada Tindak Lanjut Pelestarian

Ketua Kelompok Petani Garam Tradisional Sarining Segara Desa Kusamba Wayan Rena menjelaskan, dalam sebulan 17 petani setempat dapat menghasilkan sekitar 4 ton Garam Kusamba.

1 Ton sudah dipasarkan untuk produksi garam beryodium Kusamba yang digagas Pemkab Klungkung, sementara sisanya dijual ke pasaran. (*)

Berita lainnya di Berita Klungkung

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved