Breaking News:

Berita Buleleng

Petani Keluhkan Sulitnya Memasarkan Produk, Dewan Desak Agar Koperasi Serap Produksi Arak Petani 

Dewan mendesak agar koperasi-koperasi dapat menyerap produksi arak dari para petani yang ada di Buleleng.

Ratu Ayu Astri Desiani
Anggota Komisi III DPRD Buleleng, Wayan Soma Adnyana 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA -  Dewan mendesak agar koperasi-koperasi dapat menyerap produksi arak dari para petani yang ada di Buleleng.

Sebab sejak pandemi Covid-19 ini, para petani mengeluh lantaran kesulitan untuk memasarkan produknya. 

Baca juga: BOR Pasien Covid di Buleleng Hanya 0.35 Persen

Baca juga: Daftar Hari Raya di Bulan November 2021, Lengkap dengan Maknanya 

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi III DPRD Buleleng, Wayan Soma Adnyana saat mengikuti rapat dengar pendapat bersama Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi (Disdagperinkop) dan UMK Buleleng, Jumat 12 November 2021. 

Soma Adnyana mengatakan, sejak pandemi Covid-19 ini, para petani arak khususnya yang ada di wilayah Kelurahan Banyuning dan Desa Penglatan kesulitan untuk memasarkan produknya.

Padahal sebelum pandemi, arak yang dihasilkan sering diserap oleh salah satu pabrik yang ada di wilayah Banjar Dinas Selombo, Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula untuk diolah kembali menjadi vodka.

Produk vodka yang dihasilkan pun bisa dipasarkan hingga keluar negeri. 

Baca juga: Banyak Arak Oplosan Beredar di Lapangan, Pemprov Bali Gelar Pembinaan dan Pengawasan di Karangasem

Baca juga: Dampak Pandemi, Tunggakan Tagihan Air di Buleleng Capai Rp8 Miliar

Baca juga: Daftar Hari Raya di Bulan November 2021, Lengkap dengan Maknanya 

"Sekarang karena pandemi, pabriknya itu tidak bisa melakukan pengiriman  ke hotel, restoran maupun ke luar negeri. Jadi saya harap koperasi-koperasi di Buleleng ini bisa menyerap arak yang diproduksi oleh para petani. Apalagi nanti kalau sudah tidak ada pandemi, para petani arak kan bisa membentuk kelompok dalam wadah koperasi agar lebih sejahtera," ucapnya. 

Sementara Kepala Disdagperinkop dan UMK Buleleng, Dewa Made Sudirata mengatakan, sejauh ini koperasi memang tidak boleh memasarkan atau membuat produk minuman beralkohol karena tidak memiliki izin.

Arak hanya bisa diproduksi oleh pelaku industri yang sudah mengantongi izin usaha industri (IUI). 

Baca juga: Dampak Pandemi, Tunggakan Tagihan Air di Buleleng Capai Rp8 Miliar

Baca juga: Daftar Hari Raya di Bulan November 2021, Lengkap dengan Maknanya 

Baca juga: Pengunjung Kafe di Denpasar Dikeroyok Sejumlah Pemuda, Polisi Kini Tengah Selidiki Kasusnya

Sudiarta pun menyebut sejauh ini baru ada satu koperasi yang ada di wilayah Desa Les, Kecamatan Tejakula yang telah menyerap bahan arak dari para petani.

Bahan arak itu kemudian didistribusikan kepada pelaku industri pembuatan arak. 

"Koperasi memang tidak boleh membuat produk minuman beralkohol. Yang boleh hanya pelaku industri yang sudah punya izin. Koperasi hanya menyerap bahan arak dari petani, lalu membantu memasarkannya ke pelaku industri yang sudah punya izin," ucapnya. 

Kedepan, Sudiarta pun menyebut pihaknya akan membina dan melakukan pendampingan kepada para petani agar bahan arak yang dihasilkan memenuhi standar dan bisa diserap oleh para pelaku industri minuman beralkohol.  

Baca juga: DISKON! Promo JSM Indomaret 12-14 November 2021, Soft Drink Ukuran 1,5L Beli 2 Hanya Rp 22 Ribuan 

Baca juga: Daftar Hari Raya di Bulan November 2021, Lengkap dengan Maknanya 

"Selama ini memang petani kendalanya dari aspek pemasaran. Sebelum pandemi memang sampai kekurangan stok.  Tapi setelah pandemi, serapannya jadi berkurang. Kami akan melakukan pembinaan agar setelah perekonomian mulai membaik dan pariwisata kembali bergeliat, bahan arak dari petani bisa diserap lagi dan koperasi bisa memasarkannya ke para pelaku industri minuman beralkohol," jelasnya. 

(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved