Berita Bangli
Lindungi Bangunan Adat dengan Subsidi, Berikut Kisah Desa Wisata Penglipuran Bangli
Lindungi Bangunan Adat dengan Subsidi, Berikut Kisah Desa Wisata Penglipuran Bangli
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Hingga bangunan khas bernama bale saka enem, sebagai tempat tatkala masyarakat desa adat melakukan berbagai ritual keagamaan.
“Tiga bangunan inilah yang kami sebut bangunan tradisional, dan menjadi ikon kami. Sehingga tetap kami lestarikan sampai saat ini,” imbuhnya.
Yang paling khas dari Penglipuran adalah atapnya dengan bambu.
Hal ini berbeda dari atap bangunan pada umumnya yang menggunakan genteng atau ilalang.
“Rata-rata rangka dari dapur tradisional di Penglipuran sudah lama usianya, dan kami tinggal merehab atau renovasi saja, biasanya diganti atapnya saja,” ujarnya.
Peran desa adat dalam membantu warga adat adalah dengan pembiayaan bagi warga yang mau renovasi bangunan tradisional ini.
Subsidi diberikan kepada ketiga bangunan kuno tersebut, dengan nominal sekitar Rp 5 juta per bangunan.
“Jadi kalau mau rehab tiga bangunan tradisional, ya desa adat akan menyubsidi Rp 5 juta dikali tiga dengan total Rp 15 juta,” sebut Budiarta.
Tujuan subsidi ini juga untuk melestarikan bangunan ikon di Desa Penglipuran.
“Apalagi bangunan tradisional ini, memang tidak mudah merawatnya. Bangunan dapur dengan suhu hangat di dalamnya, maka biasanya bertahan 15 tahun baru direnovasi,” katanya.
Baca juga: Penglipuran Festival Ditutup, Stand Masih Buka Hingga Akhir Tahun
Sementara untuk dua bangunan kuno lainnya, hanya bisa bertahan kisaran 10 tahun sebelum direnovasi kembali.
Renovasi penting dilakukan sebab bangunan kuno ini menjadi daya tarik wisatawan di Penglipuran.
Uniknya lagi, bambu yang digunakan untuk atap bangunan kuno ini diambil langsung dari hutan bambu yang ada di Penglipuran.
“Kami memang menjaga tanah, hutan bambu, dan kawasan lainnya di Penglipuran,” tegasnya.
(*)