Berita Bangli

Lindungi Bangunan Adat dengan Subsidi, Berikut Kisah Desa Wisata Penglipuran Bangli

Lindungi Bangunan Adat dengan Subsidi, Berikut Kisah Desa Wisata Penglipuran Bangli

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Kelihan Adat Desa Penglipuran (kiri) Wayan Budiarta dalam program Bali Sekala-Niskala. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Lindungi Bangunan Adat dengan Subsidi, Berikut Kisah Desa Wisata Penglipuran Bangli.

Udara sejuk disertai pemandangan asri adalah satu diantara ciri identitas Desa Adat Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali.

Desa wisata ini tidak hanya mempertahankan warisan adat budaya leluhur.

Tetapi pula mempertahankan lingkungan yang asri dan indah, serta tetap menjaga tanah dan alam di sekitarnya.

Bahkan pula menjaga hak-hak setiap warga desa, termasuk menjaga hak wanita.

Baca juga: Kajati Bangli Resmikan Rumah Restorative Justice Desa Penglipuran

“Memang Penglipuran ini adalah desa adat yang masih menjalankan tatanan desa adat tua di Bali,” sebut Wayan Budiarta, Kelihan Adat Desa Penglipuran dalam program Bali Sekala-Niskala Tribun Bali.

Tatanan itu disebut tatanan ulu apat, yang menggunakan sistem perwakilan desa adat pangarep.

Untuk itu, jelas dia, dari 240-an KK yang ada di Desa Adat Penglipuran hanya 78 orang yang menjadi dewan desa.

Kelihan yang bertugas sejak Januari 2021 ini menyebutkan, dewan desa adalah desa adat pangarep.

Serta merupakan forum tertinggi di dalam pengambilan berbagai keputusan dan kebijakan di desa adat.

Hal tersebut adalah bagian dari sistem tradisi desa adat tua, yang merupakan warisan leluhur di Penglipuran dan masih dijalankan sampai sekarang.

Selain itu, pria paruh baya ini menjelaskan ciri tatanan desa adat tua lainnya, adalah dari bangunan tradisional yang masih dijaga hingga kini.

“Melalui keputusan desa adat, kami semua berkomitmen melakukan konservasi terhadap bangunan tua yang ada di desa adat,” ucapnya.

Bangunan tradisional tua ini, ciri khas atapnya dibuat dari bambu.

Diantaranya ada bangunan angkul-angkul di depan rumah, dapur tradisional di masing-masing pekarangan.

Baca juga: Bunga hingga Kelapa Sebagai Sarana Upakara dan Maknanya Dalam Hindu

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved