Berita Bali

LUMPUH Gara-gara PMK, Peternak Babi di Bali Terkena Imbas Virus PMK!

Gara-gara PMK, peternak babi di Bali mengeluhkan turut anjloknya harga daging babi di pasaran. Lalu bagaimana nasib peternak? simak beritanya.

Adrian
Ketua Kadin Tabanan, I Ketut Loka Antara saat meninjau peternakan babi milik Pak Deyon di Tabanan, Bali, pada Kamis 7 Juli 2022 

TRIBUN-BALI.COM - Gara-gara PMK, peternak babi di Bali mengeluhkan turut anjloknya harga daging babi di pasaran.

Ini imbas lockdown pengiriman, ternak keluar daerah yang diberlakukan oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Setelah sejumlah ternak sapi di Bali, positif terserang Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK).

Koordinator Perkumpulan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia (PHMI) Tabanan Bali, I Made Sukariyono, mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh upaya pemerintah memberlakukan lockdown.

Untuk mencegah meluasnya PMK pada ternak.

Baca juga: AGUNG ANOM Minta Gencarkan Upaya Pencegahan PMK Pada Ternak

Baca juga: HILANG Ratusan Juta, PAD Karangasem Gara-gara PMK, Imbas Pasar Hewan Ditutup!

Ketua Kadin Tabanan, I Ketut Loka Antara saat meninjau peternakan babi milik Pak Deyon di Tabanan, Bali, pada Kamis 7 Juli 2022
Ketua Kadin Tabanan, I Ketut Loka Antara saat meninjau peternakan babi milik Pak Deyon di Tabanan, Bali, pada Kamis 7 Juli 2022 (Adrian)

"Kami mendorong pemerintah untuk serius melakukan penjagaan lalu lintas, di setiap penyeberangan tetapi jelas ada efek yang ditimbulkan karena lalu lintas terbatas.

Secara otomatis serapan babi di Bali, hanya bisa dilakukan oleh pemotor lokal," ungkap pria yang akrab disapa Pak Deyon itu.

Saat dijumpai Tribun Bali di peternakannya, Kediri, Tabanan, Bali, pada Kamis 7 Juli 2022.

Imbas dari lockdown pengiriman ternak, sejak 1 Juli 2022, kata Pak Deyon, terjadi over populasi babi di Bali karena tidak bisa diserap sepenuhnya oleh pasar lokal.

Harga daging babi merosot dari kisaran normal Rp 45 ribu per kilogram, menjadi Rp 39 ribu bahkan diprediksi terus merosot.

"Terjadi penumpukan populasi yang efeknya terjadi penurunan harga di lapangan, secara otomatis harga akan terus turun sementara harga tertinggi dilapangan Rp 39-40 ribu per kilogram.

Tidak dipungkiri akan turun karena populasi dan penyerapan dari pasar lokal terbatas," paparnya.

Baca juga: AGUNG ANOM Minta Gencarkan Upaya Pencegahan PMK Pada Ternak

Baca juga: AGUNG ANOM Minta Gencarkan Upaya Pencegahan PMK Pada Ternak

Ketua Kadin Tabanan, I Ketut Loka Antara saat meninjau peternakan babi milik Pak Deyon di Tabanan, Bali, pada Kamis 7 Juli 2022
Ketua Kadin Tabanan, I Ketut Loka Antara saat meninjau peternakan babi milik Pak Deyon di Tabanan, Bali, pada Kamis 7 Juli 2022 (Adrian)

Peternak babi mengalami kerugian, karena biaya pakan dan operasional terus berjalan namun harga babi cenderung anjlok.

"Harga Pokok Penjualan (HPP) peternak dan harga babi yang cenderung turun, membuat peternak merugi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved