Berita Bangli

Data Warga Masih Hidup Tercantum Sudah Meninggal, Dukcapil Bangli Tidak Pungkiri Adanya Salah Input 

Kepala Disdukcapil Bangli menjelaskan, perihal nama warga yang masih hidup namun tercantum sudah meninggal itu merupakan data tahun 2020 ke bawah.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Kepala Disdukcapil Bangli, AA Bintang Ari Sutari 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Temuan nama-nama warga yang masih hidup namun tercantum meninggal dunia pada Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB), sejatinya telah diperbaiki oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Bangli.

Adanya nama-nama yang masih tercantum meninggal karena ada sisa data yang belum terhapus di server pusat.


Kepala Disdukcapil Bangli AA Bintang Ari Sutari mengungkapkan, data yang digunakan oleh KPUD Bangli sejatinya merupakan data lama yang ada di Dirjen Dukcapil Kemendagri.

Baca juga: Perbaikan Tiga Alat Berat Milik DLH Bangli yang Rusak Butuh Anggaran 500 Juta

Sebab sesuai data di Disdukcapil Bangli, seluruh kesalahan tersebut sudah diperbaiki. 


Bintang menjelaskan, perihal nama warga yang masih hidup namun tercantum sudah meninggal itu merupakan data tahun 2020 ke bawah.

Ia juga menegaskan, nama warga yang tercantum sudah meninggal bukan karena kesengajaan, melainkan salah input dari operator dinas saat memasukan data form kematian. 


"Misalnya yang meninggal adalah suami, namun yang dimasukkan adalah data istrinya. Kesalahan ini manusiawi, karena dalam setahun bisa ribuan kami menerbitkan akta kematian. Maka wajar satu atau dua ada salah input. Ketika salah input ini sudah menjadi draft, dan sudah terbit nomor akta," jelasnya Rabu (31/8/2022).

Baca juga: Seorang Warga di Bangli Jadi Korban Pencurian Emas Senilai 30 Juta, Maling Sisakan Wadah


Meski demikian, ujar Bintang, sebelum draft itu diterbitkan selalu dilakukan verifikasi berkala. Mulai dari tingkat Kasi hingga Kabid, sebelum ditandatangani oleh Kepala Dinas.

Apabila ada kesalahan maka akan dikembalikan ke operator untuk dilakukan proses pembatalan.


"Nah prosedur pembatalan atau penghapusan untuk akta kematian ini tidak ada di kabupaten. Sehingga metodenya kita melapor kepada Dirjen Dukcapil melalui surat ataupun WhatsApp."

"Itupun kadang-kadang responnya lambat. Mengingat saat itu (tahun 2020 kebawah) sistemnya masih menggunakan SIAK terdistribusi, walaupun by database di kabupaten sudah terhapus, tapi di server pusat masih ada datanya. Jadi harus melakukan konsolidasi untuk update data," ucap mantan Camat Susut itu.


Lanjutnya lagi, adanya nama-nama warga yang tercatat meninggal tapi masih hidup, kemungkinan karena sisa proses konsolidasi ini yang belum terhapus. Terkait hal tersebut, pihaknya juga sudah memberi jawaban pada KPU Bangli ihwal kebenaran jika warga bersangkutan masih hidup. 


"Kami juga sudah jelaskan pada KPU Bangli bahwa sudah ada pembatalan akta kematian itu. Disisi lain, sejak 2021 kami sudah menggunakan SIAK terintegrasi. Sehingga saat ada kesalahan input, ketika dihapus dari kabupaten, data di pusat juga sudah otomatis terhapus," pungkasnya. (*)

 

Berita lainnya di Berita Bangli

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved