Berita Bali

Anak Mantan Sekda Buleleng Dijerat Pasal Berlapis, Sidang Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU

I Dewa Gede Rhadea Prana Prabawa (34) menjalani sidang perdana secara daring di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Denpasar, Kamis 8 September

KOMPAS.com
ilustrasi korupsi - Anak Mantan Sekda Buleleng Dijerat Pasal Berlapis, Sidang Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - I Dewa Gede Rhadea Prana Prabawa (34) menjalani sidang perdana secara daring di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Denpasar, Kamis 8 September 2022.

Terdakwa yang adalah anak mantan Sekda Buleleng, Dewa Ketut Puspaka ini menjalani sidang dengan agenda dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum.

Rhadea didakwa terkait perkara dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sejumlah proyek di Buleleng.


Dalam surat dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agus Eko Purnomo mendakwa terdakwa Rhadea dengan dakwaan berlapis.

Baca juga: Penyidik Serahkan Berkas Perkara Korupsi LPD Anturan ke PU,Minus Keterangan Saksi yang Menguntungkan

Dakwaan kesatu primair, perbuatan terdakwa diancam pidana Pasal 12 huruf e jo Pasal 18 ayat 1 huruf a dan b UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.


Subsidair, Pasal 12 huruf e jo Pasal 15 jis Pasal 18 ayat 1 huruf a dan b UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 56 ke-1 KUHP. Dan dakwaan kedua primair, Pasal 3 jo Pasal 10 UU RI No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.


"Subsidair, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 5 ayat 1 UU RI No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang," papar JPU Agus Eko Purnomo.


Menanggapi dakwaan JPU, terdakwa Gede Rhadea melalui tim penasihat hukumnya, Gede Indria dkk pun mengajukan eksepsi (keberatan).

Dengan diajukan eksepsi, majelis hakim pimpinan Heriyanti memberikan waktu kepada tim penasihat hukum terdakwa untuk menyusun nota keberatan.

Baca juga: KASUS KORUPSI MASKER, Yesi Anggani dan Sugiantara Enggan Ajukan Eksepsi


Diberitakan sebelumnya, Gede Rhadea terjerat kasus dugaan korupsi dan TPPU terkait perizinan pembangunan Terminal Penerima dan Distibusi LNG dan penyewaan lahan Desa Adat Yeh Sanih, Buleleng. Gede Rhadea ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik pidana khusus (pidsus) Kejati Bali yang dikomandoi Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Agus Eko Purnomo, 25 Januari 2022.


Ditetapkan Gede Rhadea sebagai tersangka bermula dari pengembangan perkara terpidana Dewa Ketut Puspaka yang adalah bapak kandungnya.

Dalam hal pengurusan perizinan pembangunan Terminal Penerima dan Distibusi LNG dan penyewaan lahan Desa Adat Yeh Sanih, penyidik telah menemukan sejumlah bukti.

Sehingga membuat terang peristiwa pidana dan menemukan keterlibatan Gede Rhadea.


Juga penyidik menemukan bukti-bukti yang mendukung dugaan Gede Rhadea menerima, baik secara langsung maupun melalui transfer ke rekening pribadinya, terkait pengurusan perizinan pembangunan Terminal Penerima dan Distibusi LNG, dan penyewaan lahan Desa Adat Yeh Sanih sejumlah kurang lebih Rp7 miliar.


Dimana sekitar Rp 4,7 miliar dinikmati Gede Rhadea. Atas dasar itu lah Gede Rhadea tetapkan sebagai tersangka. Disinyalir uang itu dipakai Gede Rhadea maju sebagai caleg DPRD Bali melalui Partai Golkar. Namun dia tidak lolos ke DPRD Bali. (*)

 

 

Berita lainnya di Korupsi di Bali

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved