Berita Jembrana

Lahan Terdampak Banjir Bandang DAS Bilukpoh Jembrana Diestimasi 600 Hektare

Banjir Bandang di Jembrana, Lahan Terdampak Diestimasi 600 Hektare, Instansi Terkait Gunakan Drone Resolusi Tinggi

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna saat mendampingi instansi terkait melakukan pemetaan udara terkait dampak banjir bandang sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bilukpoh, Kecamatan Mendoyo, Rabu 2 November 2022 - Lahan Terdampak Banjir Bandang DAS Bilukpoh Jembrana Diestimasi 600 Hektare 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna mendampingi langsung kegiatan pemetaan udara terkait dampak banjir bandang sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bilukpoh, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, Rabu 2 November 2022.

Hasil dari pemetaan dengan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone, estimasi luasan areal yang terdampak banjir bandang tersebut mencapai 600 hektare.

Tentunya, data ini menjadi modal Pemkab Jembrana untuk mengambil langkah strategis penanggulangan banjir kedepannya.

Menurut informasi yang diperoleh, proses pemetaan udara dampak banjir bandang DAS Bilukpoh ini dilakukan oleh Gerakan Fly for Humanity bekerja sama dengan Pusat Riset Teknologi Penerbangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Udayana, BPBD Provinsi Bali.

Baca juga: Sungai di Karangasem Alami Pendangkalan Pasca Bencana Banjir Bandang

Dari total 600 hektare itu, tingkat kerusakan paling parah adalah Desa Penyaringan dan Kelurahan Tegal Cangkring.

Pria yang lebih akrab disapa Ipat ini mengatakan, dari hasil foto udara tersebut tentunya pemerintah daerah memiliki gambaran pasca bencana.

Artinya, ke depan pemerintah bersama jajaran telah memilki langkah strategis penanggulangan banjir dari data yang dimiliki.

"Data ini dapat digunakan untuk perencanaan dan penanggulangan bencana. Jadi kita bergerak berbasis data nanti. Astungkara kedepannya tidak terjadi banjir lagi," katanya singkat.

Sementara itu, Penggagas gerakan Fly for Humanity, Septian Firmansyah mengatakan, pemetaan udara dampak bencana alam ini menggunakan drone dengan resolusi tinggi.

Foto dan video untuk arsip tentunya terpampang jelas secara detail.

Total sekitar 600 hektare yang terdampak.

"Foto udara dari hulu ke hilir sampai di Banjar terakhir Bilukpoh. Dengan dua kali terbang menggunakan fixed wing UAV, tim ini berhasil memetakan area terdampak banjir bandang seluas 600 hektar," kata Septian.

Dia menjelaskan, hasil pemetaan ini nantinya dapat digunakan untuk melakukan analisis dampak banjir bandang, membantu tim respon bencana dalam melakukan aksi yang tepat.

Selain itu, juga digunakan untuk mitigasi bencana.

"Pemetaan dampak banjir bandang ini diharapkan dapat membantu tim respon cepat dalam melakukan aksi yang tepat, terukur, serta harapan kami juga dapat menjadi dokumentasi kebencanaan. Terpenting nantinya dapat menjadi landasan upaya pengurangan risiko bencana kedepannya," jelasnya. (*).

Kumpulan Artikel Jembrana

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved