Berita Jembrana

Ayunan Bingin Jembrana Pilihan Hiburan Masyarakat Saat Hari Raya, Hanya Buka Galungan dan Kuningan

Ayunan Bingin hanya buka saat hari besar Galungan dan Kuningan, lokasinya yang berdekatan dengan pohon beringin ukuran besar

Istimewa
Suasana serunya masyarakat saat menikmati mainan tradisional bernama Ayunan Bingin di Banjar Nusasakti, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Kamis 5 Januari 2023 - Ayunan Bingin Jembrana Pilihan Hiburan Masyarakat Saat Hari Raya, Hanya Buka Galungan dan Kuningan 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Ayunan tradisional di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali, masih menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Jembrana untuk merayakan hari Umanis Galungan, Kamis 5 Januari 2023.

Mainan tradisional yang dinamai Ayunan Bingin ini hanya buka saat hari besar Galungan dan Kuningan.

Masyarakat menegaskan tidak merasakan hari raya jika belum naik ayunan ikon Banjar Nusasakti sejak tahun 1970 silam ini.

Sesuai penuturan warga setempat, mainan tersebut diberikan nama Ayunan Bingin karena lokasinya yang berdekatan dengan pohon beringin ukuran besar.

Baca juga: Ganjar Pranowo Beli Mainan Tradisional, Sarimo Sumringah

Ayunan tradisional yang memiliki diameter sekitar 4 meter dengan tinggi 7 meter ini, digerakkan secara manual menggunakan tenaga manusia.

Kemudian kapasitasnya hanya untuk delapan orang, atau empat pasang.

Kemudian, untuk masyarakat yang ingin menikmati mainan tradisional ini hanya perlu membayar Rp 5.000 saja.

Jumlah tersebut akan memperoleh 20 kali putaran.

Namun, syaratanya adalah sabar untuk mengantri mengingat ramainya pengunjung yang datang.

Kelian Adat Banjar Nusasaksi, I Kadek Artawan menuturkan, mainan tradisional yang sudah ada sejak tahun 1970 silam ini memang menjadi ikon wilayahnya.

Selain lokasinya yang berada di sebelah pohon beringin besar, Ayunan Bingin ini hanya buka saat Hari Raya Galungan dan Kuningan saja.

"Kita hanya buka saat Galungan dan Kuningan. Mungkin itu yang menjadi spesial dan selalu dimintai oleh masyarakat. Mereka merasa jika belum menikmati ayunan ini, belum terasa Hari Raya Galungan," tutur Kadek Artawan.

Dia melanjutkan, meskipun sempat tutup selama kurang lebih dua tahun lamanya karena pandemi Covid-19, saat ini sudah kembali menggeliat.

Selain menjadi hiburan, juga menjadi pendapatan Banjar Adat setempat.

Bahkan, khusus tahun ini pihaknya berupaya untuk melakukan inovasi baru.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved