Human Interest

Ketut Nuryasta Jual Es Tuak Loloh Sejak 1973, Dijajakan Pertama di Depan Bioskop Singaraja Teater

Pria yang tinggal di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng ini menjual es tuak manis yang dicampur dengan loloh daun kayu manis dan daun belimbing

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Ketut Nuryasta menunjukan es tuak loloh miliknya, Minggu 19 Maret 2023. Es tuak ini sudah ia jual sejak 1973. 

Minumam tersebut diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit mulai dari mengatasi sembelit, diabetes, hingga menghaluskan kulit.

"Takarannya setengah gelas tuak manis, setengah gelas lagi loloh. Ada beberapa pembeli yang ingin tuak manis saja, ada juga yang minta dicampur dengan loloh," terangnya.

Baca juga: Masyarakat Bisa Konsultasi Hukum Lewat Halo JPN, Ini Kata Kejaksaan Buleleng


Segelas es tuak loloh ini dijual Nuryasta dengan harga  murah, kisaran Rp3 ribu hingga Rp4 ribu. Bila cuaca sedang terik, 100 hingga 150 gelas pun habis terjual.

Omzet yang didapatkan oleh pria murah senyum ini mencapai Rp450 ribu per hari.

"Selalu ramai pembelinya, karena tuakmya murni. Tidak dicampur dengan gula," tandasnya. 

Baca juga: Kandang Unggas di Pasar-Pasar Buleleng Disemprot Disinfektan


Sementara salah satu pembeli Kadek Yoga Sariada (25) mengaku sering membeli es tuak manis sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). 

Namun pria asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini mengaku membeli es tuak hanya untuk menghilangkan dahaga.

"Saya tidak melihat ada khasiat di dalam minumannya. Saya beli untuk menghilangkan dahaga saja. Rasanya manis, sepetnya ada asam yang khas dari daun belimbingnya," ucapnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Tuak Manis

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved