Berita Bali

Kasus Bayi Telantar! Penyebabnya Ada Pada Orangtua, Ini Pesan Kadinsos Bali Jelang Hari Kartini

Kadinsos Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, mengatakan perempuan memiliki peran ganda yang harus dijalankan. Begini katanya.

|
Penulis: Putu Yunia Andriyani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Istimewa
Kadinsos Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, mengatakan perempuan memiliki peran ganda yang harus dijalankan. Simak komentarnya terkait kasus pembuangan bayi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Keberadaan perempuan di Bali perlu mendapatkan perhatian khusus.

Tidak hanya dalam keluarga, perempuan juga memiliki peran yang sangat penting dalam kebudayaan.

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani mengatakan perempuan memiliki peran ganda yang harus dijalankan.

“Perempuan ini tidak hanya sebagai orang tua nantinya, tapi mereka juga di Bali itu juga berperan dalam budaya, kearifan lokal, tradisi,” kata Luh Ayu Aryani.

Perempuan turut berperan untuk kecerdasan sumber daya manusia dalam mencapai tujuan Indonesia unggul.

Kecerdasan SDM sendiri juga bergantung pada orang tua, termasuk perempuan untuk membimbing anak-anaknya.

Meski demikian, hal ini bukan berarti tumpuan binaan sepenuhnya ada pada perempuan, namun ada pada suami istri sehingga dibutuhkan kerjasama.

Baca juga: Kasus Bayi Telantar! Penyebabnya Ada Pada Orangtua, Ini Pesan Kadinsos Bali Jelang Hari Kartini

Baca juga: Bayi yang Ditemukan di Denpasar Dititipkan ke Yayasan, Ini Kata Dinsos Denpasar Soal Prosedur Adopsi

Luh Ayu Aryani saat dimintai keterangan terkait kasus penelantaran bayi di Jalan Hayam Wuruk, mengatakan itu tak lepas dari peran suami istri, harapkan perempuan dapat berdaya dengan baik.
Luh Ayu Aryani saat dimintai keterangan terkait kasus penelantaran bayi di Jalan Hayam Wuruk, mengatakan itu tak lepas dari peran suami istri, harapkan perempuan dapat berdaya dengan baik. (Istimewa)

“Memang terkadang dalam beberapa situasi perempuan dikatakan sebagai faktor utama dalam perkembangan anak.

Di sinilah diperlukan perhatian khusus bahwa bukan saja perempuan, tetapi peran orang tua yang artinya juga melibatkan sang ayah,” tambahnya.

Kesetaraan gender antara suami dan istri ini, harus seiring dan senada untuk mendidik anak-anak karena hal itulah yang dibutuhkan.

Kasus adanya penelantaran anak di Jalan Hayam Wuruk Denpasar, dapat menjadi cerminan bahwa masih ada keluarga yang tidak harmonis, bisa jadi bersumber dari ibu maupun ayah.

Diperkirakan Ayu hal ini karena status antara sang ibu dan anak belum sah menjadi suami istri, percekcokan, atau tidak adanya rasa tanggung jawab dari kedua belah pihak.

Namun terkadang yang menjadi pertanyaan adalah ibu dari bayi tersebut, padahal bayi itu juga memiliki ayah.

Di samping itu, Kadinsos P3A juga merasa perempuan riskan dengan kekerasan sehingga bisa mengakibatkan penelantaran anak.

Oleh karena itu, Dinsos P3A Provinsi Bali telah menyiapkan program pranikah yang merupakan bentuk pembinaan kepada calon orantua.

“Kami membentuk menyiapkan calon pasangan suami istri apabila nantinya punya anak, agar mereka mengetahui bagaimana mereka bertanggung jawab terhadap keluarga sehingga bisa membentuk keluarga yang harmonis,” ujarnya.

Ayu melihat dewasa ini secara umum perempuan-perempuan di Bali ini sudah bertanggung jawab atas segala keputusannya.

Bahkan kerap dirinya merasa untuk mempertahankan keluarga, demi anak-anaknya meski mendapatkan kekerasan.

Kadinsos Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, mengatakan perempuan memiliki peran ganda yang harus dijalankan. Simak komentarnya terkait kasus pembuangan bayi.
Kadinsos Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, mengatakan perempuan memiliki peran ganda yang harus dijalankan. Simak komentarnya terkait kasus pembuangan bayi. (Istimewa)

Mereka enggan untuk bercerai-berai karena posisi anak yang lebih penting daripada mereka.

Pihak Dinsos P3A sendiri telah melakukan berbagai upaya, dengan pembinaan-pembinaan yang ada demi masa depan perempuan.

“Kami menginginkan perempuan-perempuan di Bali itu dapat diperdayakan agar bisa menjadi perempuan yang mandiri. Dan apabila ada permasalahan yang menimpa mereka, mereka juga tidak akan putus asa atau sampai mengakhiri hidupnya,” tutur Ayu.

Perempuan diharapkan dapat bekerjasama dengan kaum laki-laki untuk membimbing anak dengan baik, bahkan saat harus berpisah dengan suaminya.

Menyambut Hari Kartini,  Ayu berpesan agar perempuan-perempuan dapat menjadi lebih baik yang kemudian menjadikan Bali semakin maju.

Perempuan akan semakin banyak memberikan pengaruh baiknya untuk menciptakan generasi-generasi penerus yang berkualitas dan unggul.

Seperti yang diketahui, Bali tidak memiliki sumber daya alam seperti provinsi lainnya yang tentunya akan mengandalkan SDMnya.

Oleh karena itu, SDM yang dihasilkan harus berkualitas dan berpengaruh untuk bonus demografi di Bali. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved