Berita Bali

Lawar Plek Telah Lama Dikonsumsi, Kenapa Baru Ditemukan Meningitis di Bali? Berikut Penjelasannya

Lawar plek merupakan kuliner khas Bali berbahan dasar daging babi mentah yang diolah dengan bumbu masakan khas Bali

ist/via Kompas.com
Ilustrasi bakteri Streptococcus pneumoniae penyebab penyakit radang selaput otak atau meningitis. Lawar Plek Telah Lama Dikonsumsi, Kenapa Baru Ditemukan Meningitis di Bali? Berikut Penjelasannya 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Lawar plek merupakan kuliner khas Bali berbahan dasar daging babi mentah yang diolah dengan bumbu masakan khas Bali atau yang biasa dikenal dengan nama base genep


Masyarakat Bali sudah lama mengonsumsi lawar ini.

Namun belakangan Bali kembali dihebohkan dengan satu keluarga di Gianyar yang terjangkit Meningitis Streptococus Suis (MSS) seusai menyantap lawar plek.

Baca juga: Meningitis Bikin Harga Anjlok, GUPBI Bangli: Babi Sangat Sensitif dengan Kasus dan Isu

Namun demikian, sejatinya penyakit ini banyak faktor penyebabnya, salah satunya adalah mengonsumsi daging babi yang tidak dimasak dengan benar. 

Bukan daging babi yang penyebab utamanya, namun cara pengolahannya yang perlu digarisbawahi.

Lantas mengapa baru sekarang penyakit Meningitis ini muncul?

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Nyoman Gede Anom memberikan penjelasannya. 

Baca juga: Pasien Meningitis di Gianyar Capai 34 orang, 4 Orang Masih Opname di RSUD Sanjiwani


“Banyak yang bertanya, memang dulu lawar plek sudah ada dulu kan orang berternak babi mungkin makanannya organik misalnya dagdag (makanan babi) sekarang kan sudah berubah itu adalah peran dari Dinas Peternakan untuk melakukan pengecekan."

"Kita tidak tahu juga mobilisasi kita seperti apa,” jelasnya pada, Kamis 27 April 2023. 

Baca juga: Dinkes Badung Catat Dari Tahun 2023 Ada 3 Kasus Meningitis, Warga Diminta Makan Olahan Babi Matang


Ia pun tak menampik sejak lama masyarakat Hindu Bali memang sudah mengonsumsi lawar plek.

Namun sekarang kita tidak tahu kondisi dari tubuh kita dan seberapa banyak mereka mengonsumsi lawar plek dan mungkin saja dari dulu sudah ada keluhan terkait MSS namun mungkin tidak terdeteksi di fasilitas kesehatan karena dianggap biasa.

Bedanya juga saat ini faskes sudah banyak berada di sekitar masyarakat. 

“Masyarakat Bali sebaiknya mengurangi makan olahan lawar yang tidak dimasak. Boleh makan daging babi tapi dimasak dengan benar,” ingatnya. 

Baca juga: Tabanan Nihil Kasus Meningitis

Tentunya kasus MSS ini bisa juga merembet ke kabupaten lain di Bali yang masih melakukan pengolahan lawar dengan mentah.

Sebenarnya kasus MSS ini sudah terulang dari tahun ke tahun dan memang ada di Bali.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved