Berita Bangli
Putu Eka Olah Ikan Predator Tak Berharga Jadi Lezat Renyah dan Bernilai Ekonomis di Kintamani Bali
Pasalnya ikan ini tidak tahan lama di udara terbuka. Di samping itu ikan red devil memiliki banyak duri dan siripnya tajam.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Diakui Putu Eka, banyak yang bertanya kenapa diolah menjadi crispy. Menurutnya jika diolah dengan dipotong kecil-kecil dan diberi tepung, maka tampilannya akan lebih gelap. Sehingga hasil produksi kurang menarik di pasaran.
Lanjut Putu Eka, red devil secara umum memiliki rasa hampir sama dengan nila. Yang membedakan adalah tulangnya yang lebih banyak, dan daging yang lebih sedikit.
"Dagingnya yang sedikit ini juga jadi alasan kenapa tidak diolah menjadi abon. Saya pernah bikin jadi abon, tapi untuk harga jualnya tentu lebih mahal mengingat antara daging dengan tulangnya, lebih banyak tulangnya.
Oleh sebab itulah dipilih olahan crispy. Sebab dari daging sampai tulangnya bisa dikonsumsi," jelas ibu tiga anak ini.
Proses pengolahan red devil crispy membutuhkan waktu selama sehari. Dimulai dengan merendam ikan dengan jeruk nipis dan cuka makanan, untuk menghilangkan lendir. Selang beberapa menit, ikan dibersihkan dari sisik dan siripnya.
"Selanjutnya dikeluarkan jeroannya, kemudian dibelah menjadi tiga bagian. Saya belahnya lewat punggung, bukan lewat perut. Ini dikarenakan bagian punggung ikan lebih tebal, sehingga dengan cara ini dalam proses penggorengan bisa lebih hemat waktu dan hasilnya lebih garing," jelasnya.

Setelah dibelah menjadi tiga bagian, ikan selanjutnya direndam kembali dengan asam Jawa.
Setalah ikan dicuci bersih, dilanjutkan dengan diungkep menggunakan bumbu genep.
Setelahnya baru dilakukan proses penggorengan.
"Untuk mendapat tekstur yang crispy maka ikan harus di goreng dua kali. Semisal hari ini digoreng pertama, maka besok baru digoreng untuk kedua kalinya. Ikan yang sudah digoreng pertama harus didiamkan selama 24 jam," sebutnya.
Tidak sampai disitu, ikan yang sudah melalui proses penggorengan dua kali, akan kembali diberikan bumbu kering. Dengan demikian ikan semakin memiliki cita rasa.
Pembuatan red devil crispy dibantu para tetangga. Dalam sekali pembuatan, Putu Eka mengolah 5 hingga 10 kilogram red devil. "Sekilo isi 15 sampai 20 ekor. Biasanya sekali beli 5 sampai 10 kilo. Untuk harganya, per kilo red devil dijual Rp 10 ribu," sebutnya.
5 kilo red devil yang diolah bisa jadi 70 kemasan, dengan berat 40 hingga 45 gram per kemasan. Dalam sebulan rata-rata Putu Eka bisa memproduksi hingga 250 kemasan.
Harga per kemasan dijual Rp 5 ribu. Pemasarannya saat ini masih di lingkungan sekitar, dengan cara menitip di warung-warung makan hingga kantin Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli.
"Ini skalanya masih usaha rumah tangga. Selain nitip di warung dan kantin, saya juga jual di warung saya," ucap wanita yang memiliki bisnis warung bakso ini.
PASCA Melahirkan Bayi Kembar 4, Kondisi Widayani Membaik, Masih Jalani Perawatan di RS BMC |
![]() |
---|
KESAKSIAN Ibu Muda Asal Bangli yang Lahirkan Bayi Kembar 4, Ni Komang Widayani: Rejeki Tuhan |
![]() |
---|
Kisah Ibu Bayi Kembar Empat di Bangli Bali, Tidak Direncanakan, BB Naik 10 Kg dan Perut Terasa Berat |
![]() |
---|
Widayani Lahirkan Bayi Kembar 4 di RS BMC Bangli Bali, Wahyuni: Persalinannya Section |
![]() |
---|
BAYI Kembar 4 di Bali, Widayani Lahirkan Anaknya di RS BMC Bangli, Dikira Awalnya Kembar 2 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.