Berita Bali

Pengamat : Bali Tergesa-gesa Bangun LRT, Transportasi Umum Diberikan Gratis Malah Kosong

Guru Besar Arsitektur Universitas Udayana (Unud) itu mengatakan Bali terlalu tergesa-gesa membangun LRT.

Tribun Bali/Dwi S
Ilustrasi LRT di Bali 

TRIBUN-BALI.COM  - Arsitek dan Pengamat Tata Ruang Perkotaan, Prof Dr Ir Putu Rumawan Salain, menyoroti rencana pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Bali.

Guru Besar Arsitektur Universitas Udayana (Unud) itu mengatakan Bali terlalu tergesa-gesa membangun LRT.

“Kalau kita melihat Bali, tentu terlalu tergesa-gesa berbicaranya. Bali akan terhubung karena ada jalur kereta api. Sedangkan jenis perkeretaapian yang akan ada itu jenis LRT. LRT yang sedang dibahas ini akan difokuskan di Bali selatan. Titiknya ada di Badung,” katanya ketika dikonfirmasi, Jumat (6/10).

Lantas, apakah LRT yang di titik Badung ini sudah begitu penting? Menurut Prof Rumawan, tergantung sudut pandang. Menurutnya, saat melihat secara umum, mungkin belum perlu karena yang konsumen sasaran dituju ini belum jelas siapa sebenarnya.

Sedangkan di titik kepadatan lalu lintas hampir semua lini yang menghubungkan kota atau wilayah Bali selatan, Badung ke Denpasar, maupun ke Gianyar, hampir semua titik mengalami kemacetan. Sehingga dengan demikian Prof Rumawan menilai perlu ada manajemen transportasi yang lebih serius yang mencari alternatif-alternatif pemberdayaan atau memperkuat public transport.

Baca juga: Ranking 1 Secapa 2005 dan Jago Jurnalistik, Mayor Inf Manupriyana Raih Kartika Eka Paksi Nararya

Baca juga: Selisih 58 Suara Memicu Gugatan, Sonen Ungkap Pelanggaran Pilkades Sangsit

“Karena jujur saya katakan public transport yang ada di Denpasar atau Bali sekarang ini kan lebih banyak kosongnya. Sudah diberi gratis, juga masih kosong. Artinya mungkin ketepatan layanan yang menjadi masalah,” imbuhnya.

Rencana LRT akan berada di titik-titik kegiatan pariwisata yakni salah satunya di Central Parkir Kuta dinilai belum juga bisa mengatasi kemacetan. Pasalnya biasanya titik kemacetan justru berada di Jalan Imam Bonjol, Denpasar. Sedangkan jika dalam beberapa tahun lagi nantinya akan ada 25 juta penumpang seperti yang dikatakan oleh beberapa pejabat dimana nantinya para penumpang dari airport. Dia menilai LRT hanya akan hanya melancarkan transportasi dari Bandara. Sementara belum tentu semua yang dari Bandara itu tujuannya hanya ke Kuta.

“Kalau semua ditumplekkan ke Central Parkir, lalu dari Central Parkir menyebar ke wilayah-wilayah lainnya, kita bisa bayangkan bahwa titik macet yang sudah terjadi itu melancarkan yang sekitar airport, tetapi tidak melancarkan di kawasan sekitar Central Parkir. Saya tidak mendapatkan jawaban yang lebih (kuat) karena berita yang ada sepotong-sepotong. Jadi sulit mengomentari secara teknis kalau kita tidak melihat gambar arahnya,” paparnya.

Memang salah satunya pemerintah harus membenahi transportasi publik yang ada. Prof Rumawan mengaku belum melihat upaya untuk melakukan review terhadap manajemen transportasi di Bali. Terlebih masyarakat masih menikmati membawa kendaraan sendiri, belum beralih ke public transport. Sehingga untuk beberapa orang yang akan keluar Bali mereka pergi ke Bandara dengan membawa mobil pribadinya dan menitipkan di parkiran Bandara. Ini memang cukup mahal, tapi masih mempermudah pemilik kendaraan.

Setelah adanya LRT ini, kata Prof Rumawan, kita harus mengetahui terintegrasinya di mana. Apakah semua (penumpang yang keluar) wajib dibawa ke LRT? Berarti seluruh transportasi yang terintegrasi pindah ke Central Parkir. Karena kalau seperti ini tetap saja akan membuat macet di sekitar Kampus (Unud), Nusa Dua, Sanur, dan sekitarnya.

Namun secara image, proyek ini perlu. Bali sempit untuk penggunaan kereta, namun Bali jauh ke depan dan sudah menerapkan green transport. Sehingga dengan demikian LRT ini merupakan salah satu pemecahannya. Tapi apakah green transport itu menjadi pemenang untuk environment? Walaupun transportasi hijau, tetapi dengan menggali tanah di bawah ini sebagai underground luar biasa. Underground masih bisa dikembangkan dengan sistem terowongan yang ada.

“Tetapi sekali lagi permasalahannya adalah kepadatan yang sudah demikian padatnya di antara Tuban sampai Central Parkir melalui Kuta. Kemudian kalau mau dilanjutkan lagi sampai Seminyak atau Canggu yang sudah kita ketahui bahwa Canggu itu sudah menjadi titik (macet) yang luar biasa. Butuh kesabaran yang tinggi untuk lewat di jam-jam tertentu,” kata dia.

Ia pun khawatir dana yang sudah dianggarkan untuk pembangunan LRT akan terbuang percuma karena estimasi kedatangan orang ke Bali yang dinilai belum pasti. Sedangkan untuk pendanaan pembangunan LRT masih simpang siur antara investor atau penyertaan pemerintah. Namun jika investor ditawarkan untuk melakukan pendanaan LRT, pastinya investor akan berpikir berkali-kali lipat kalau dia tidak bisa cepat memperoleh pengembalian modal.

Yang ia tanyakan apakah proyek ini bersifat bisnis atau tidak? Karena jika kita berbicara transportasi publik, sulit itu bicara bisnis. Jadi pengembalian modalnya sulit. Kecuali dibuat sewanya tinggi luar biasa. Karena dia akan mendapatkan nilai rupiah dari penyewa di stasiun dan lain-lain.

“Jadi mohon pemerintah yang ikut mengambil keputusan, tolong dong sosialisasikan kepada masyarakat. Jangan gangsaran tindak, kuangan daya. Buktinya Tol Mengwi-Gilimanuk terbengkalai sekarang. Saya tidak ingin nanti groundbreaking LRT ini malah jadi umpan balik perkembangan pariwisata,” katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved