Tragedi di Jembatan Bangkung

SEDIH, Sebelum Ulah Pati di Jembatan Bangkung, Sutama Sempat Ngutang Bensin di Warung

Setelah kedua orang tua meninggal dunia, Sutama dan saudara-saudaranya menjadi yatim piatu. Otomatis ia sebagai kakak tertua menjadi tulang punggung.

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Ratu Ayu Astri Desiani/Tribun Bali
Foto semasa hidup Ketut Sutama (23) dan Putu Yasa Sari Dana (5). 

Untuk menghidupi kakak dan adiknya, Sutama membuka jasa memperbaiki barang-barang elektronik milik warga sekitar dengan harga seikhlasnya.

"Dia (Sutama) tidak pernah pasang tarif. Kalau ada yang membayar lebih, dikembalikan sama dia. Orang yang datang ke rumahnya, jadi barang-barang elektronik itu dia perbaiki di rumahnya. Dia jarang keluar rumah, kalau pun keluar paling hanya ke warung," jelas Resmini.

Sutama yang mulanya terkenal pendiam itu, kemudian tiba-tiba curhat kepada keluarga besarnya saat sehari sebelum ditemukan ulah pati.

Ia mengaku bingung dan capek. Resmini pun mengaku tidak menyangka jika akhirnya Sutama nekat mengajak adik bungsunya untuk mengakhiri hidup, dengan terjun dari Jembatan Bangkung.

"Mungkin dia merasa putus asa sejak orangtuanya meninggal dunia. Harus jadi tulang punggung untuk kakak dan adiknya. Tapi setahu kami, Sutama ini tidak pernah punya utang. Tidak mau meminjam uang sama keluarganya juga. Dia ingin mandiri," ungkap Resmini.

Ditambahkan Resmini, seluruh keluarga tidak tau saat Sutama pergi bersama adik bungsunya ke Desa Pelaga.

Namun berdasarkan penelusuran keluarga, sebelum berangkat ke Desa Pelaga tepatnya pada Minggu (26/5/2024) sekitar pukul 15.00 Wita, Sutama rupanya sempat berutang bensin di salah satu warung Banjar Dinas Rendetin.

"Ke pedagang bensin itu Sutama mengaku mau dulu pergi sebentar. Katanya nanti sore ada dah yang bayarin bensinnya," tutur Resmini lirih. (*)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved