Serba Serbi
TIDAK Boleh Keramas & Malukat, Tepat Purnama Wuku Wayang & Disebut Dina Gamya, Simak Penjelasannya!
Masih juga termasuk ke dalam Wuku Wayang. Lalu benarkah, pada Purnama 21 Juni 2024 ini tidak boleh malukat atau keramas?
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Tanggal 21 Juni 2024, adalah hari Jumat dan bertepatan dengan Purnama Mala Sadha.
Masih juga termasuk ke dalam Wuku Wayang. Lalu benarkah, pada Purnama 21 Juni 2024 ini tidak boleh malukat atau keramas?
Yuk simak penjelasannya berikut ini dalam ajaran Hindu di Bali.
Baca juga: Kawasan Yeh Leh Bakal Dilakukan Penataan, Bupati Tamba Percantik Pintu Masuk Jembrana
Baca juga: Pemkab Jembrana Bangun Jalan Terusan di Areal Bawah Pura Rambut Siwi, Akses 10 Meter Buat Pamedek

Dalam Lontar Purwaning Tattwa Wariga disebutkan, bahwa Dina Gamya yaitu tatkala rahina Sukra Wage Wuku Wayang (Dina Kala Paksa). Bertemu dengan rahina Purnama.
Maka umat disarankan agar tidak malukat serta keramas. Kemudian para sulinggih tidak mapuja namun disarankan agar beryoga. Serta umat tidak melakukan Panca Yadnya.
Kemudian masih dalam lontar yang sama disebutkan pula, 21 Juni 2024 adalah Dina Berek Tawukan atau Rahina Saniscara Kliwon ketemu Rahina Purnama.
Namun perlu diketahui, bahwa tidak malukat bukan berarti tidak mandi ya Tribunners. Hanya saja disarankan agar tidak keramas atau malukat.
Kemudian tidak melakukan Panca Yadnya. Hal ini dijelaskan oleh sulinggih, bahwa sesuai duasa tidak baik untuk kegiatan ngenteg linggih, melaspas, ngeruak dan lain sebagainya. Namun jangan lupa menghaturkan canang dan saiban serta segehan sehari-hari.
Dalam lontar disebutkan : Janganlah engkau tidak berbakti kepada Tuhan yang Maha Esa. Jika engkau melanggarnya, celakalah hidupmu, tidak mendapatkan penerangan batin, dan tidak dapat diruwat oleh keluargamu. Pelajarilah selalu ilmu pengetahuan ini sampai sempurna pengetahuanmu dan jangan menentang.
Tentu saja, apa yang telah dituliskan oleh leluhur di dalam lontar ada alasannya. Sehingga lebih baik kita sebagai anak cucu mengikuti, khususnya untuk keramas dan malukat masih bisa diambil hari lain.
Begitu juga dengan upacara Panca Yadnya. Masih bisa dicarikan hari baik sesuai wariga, agar upacara bisa labda karya.

Sementara untuk Wuku Wayang, sejak dahulu kala memang dikenal sebagai wuku yang cukup angker dan keramat.
Dalam kitab Sundarigama, dijelaskan bahwa mulai hari Minggu Wage hingga Jumat Wage wuku Wayang dipandang sebagai waktu yang sakral, sekaligus tabu bagi umat Hindu.
Dalam Alih Aksara, Alih Bahasa, dan Kajian Lontar Sundarigama, disebutkan hari-hari itu adalah hari yang kurang baik. Khususnya untuk melakukan penyucian diri. Karena diyakini sebagai hari-hari pertemuan antara Sang Sinta dan Sang Wayang.
Nah, jika dilanggar hal itu akan dapat menyebabkan punahnya kualitas diri. Sementara itu pada hari Jumat Wage Wayang, dinamakan Alapaksa, yakni hari yang dipandang kotor atau hari tercemar. Ada kemungkinan hari itu dianggap sakral dan tabu, untuk melakukan sesuatu.
keramas
malukat
Purnama
Wuku Wayang
sulinggih
Lontar Purwaning Tattwa Wariga
Dina Gamya
Dina Kala Paksa
Sundarigama
roh
BAHAYA Kelahiran Wuku Wayang, Ruwatan Tumpek Wayang Bantu Terhindar Dari Sifat Bhuta Kala! |
![]() |
---|
TUMPEK Wayang & Kajeng Kliwon Uwudan 22 Juni 2024, Jangan Lupa Siapkan Pandan Berduri! Ini Maknanya |
![]() |
---|
ROH Tumimbal Kaitan Dengan Leluhur yang Akan Bereinkarnasi Kembali, Ini Maknanya Dalam Agama Hindu |
![]() |
---|
Arti Melik, Disenangi Bhatara, Bisa Terkena Musibah, Bagaimana Cara Menetralkannya? |
![]() |
---|
Meninggal Ulah Pati, Ini Hukuman dan Dosa dalam Ajaran Hindu, Saatnya Tingkatkan Bhakti Srada |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.