Serba Serbi

TIDAK Boleh Keramas & Malukat, Tepat Purnama Wuku Wayang & Disebut Dina Gamya, Simak Penjelasannya!

Masih juga termasuk ke dalam Wuku Wayang. Lalu benarkah, pada Purnama 21 Juni 2024 ini tidak boleh malukat atau keramas?

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Malukat - Masih juga termasuk ke dalam Wuku Wayang. Lalu benarkah, pada Purnama 21 Juni 2024 ini tidak boleh malukat atau keramas? 

Sebab hari tersebut, memang merupakan hari terakhir menjelang memasuki puncak peralihan yang terjadi besok harinya. Yakni pada Sabtu Kliwon Wayang atau dinamakan Tumpek Wayang.

Tumpek Wayang dianggap hari yang paling keramat, karena merupakan hari pertemuan dari waktu-waktu yang dipandang sakral atau keramat. Hari Sabtu merupakan hari terakhir, menurut perhitungan Saptawara. Kliwon merupakan hari terakhir menurut perhitungan Triwara.

Wuku Wayang merupakan wuku terakhir dari 30 wuku yang memiliki tumpek. Sehubungan dengan itu, umat Hindu disarankan mengenakan sarana penolak bahaya dengan menyelipkan pandan berduri di pinggang.

Serta menorehkan kapur sirih di ulu hati. Termasuk pula memasang pandan berduri di pintu masuk rumah atau di bawah tempat tidur. Kemudian besok paginya, sarana penolak bahaya itu dikumpulkan dan ditempatkan di atas sidi sebagai simbol bahwa telah berhasil menyelamatkan diri.

Menghindari berbagai rintangan dan bencana. Lalu sarana pandan berduri itu dibuang di jalan. Diberi segehan dan diiringi doa permakluman membuang segala noda, kotoran, penderitaan dan bencana.

Pada hari Sabtu Kliwon Wayang, disebut Tumpek Wayang. Umat Hindu meyakini bahwa pada hari Tumpek Wayang merupakan hari suci pemujaan kepada Bhatara Iswara sebagai dewa penguasa segala alat kesenian. Baik gamelan gong, gambang, gender, angklung, selonding dan lain sebagainya.

Termasuk kentongan, genta, dan wayang. Adapun sesajen yang patut dibuat untuk mengupacarai alat-alat kesenian tersebut. Antara lain, suci, peras ajuman, rayunan parangkatan, sajeng, daging itik putih, sedah woh, canang raka, pasucian.

Suasana saat Dewa Mangku Dalang Samerana melakukan ruwatan sekaligus menjadi dalang wayang dalam upacara ruwatan melik kelahiran Wuku Wayang.
Suasana saat Dewa Mangku Dalang Samerana melakukan ruwatan sekaligus menjadi dalang wayang dalam upacara ruwatan melik kelahiran Wuku Wayang. (Anak Agung Seri Kusniarti - Tribun Bali)

Sedangkan sesajen untuk mengupacarai diri manusia adalah sasayut agung satu, prayascita, panyeneng. Maknanya adalah membangkitkan kesadaran diri, bahwa diri kita adalah bayangan atau tiruan wujud Sang Hyang Suksma. Diri kita merupakan wayang dari Sang Hyang Suksma.

Dan Sang Hyang Iswara bertindak sebagai dalang. Kodratinya sebagai dalang, maka Sang Hyang Iswara memiliki peran ganda, yaitu yang diundang dan sekaligus mengundang. Sebagaimana halnya seorang dalang.

Jika dalang tidak diundang, maka dia tidak akan mau pentas. Ketika sedang pentas, dalang pun mengundang kehadiran para dewa ataupun roh-roh yang datang memberikan kekuatan serta perlindungan. Sehingga ia dapat melakukan tugas dengan baik.

Kemudian pementasannya berjalan lancar. Orang yang menganggapnya pun menemukan keselamatan dan kesejahteraan lahir batin. Dengan demikian perayaan suci Tumpek Wayang, dapat berjalan lancar. (ask)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved