PMI Asal Bali Pulang dari Lebanon

KISAH Santi, PMI Pulang ke Bali dari Lebanon, Akui Dengar Puluhan Ledakan Bom di Malam Hari

Santi menyebutkan, setiap malam ia sedikitnya mendengar puluhan kali suara ledakan dari tempatnya tinggal dan tempatnya bekerja.

ISTIMEWA
Ni Ketut Santi Suryaningsih (31), salah satu PMI asal Jembrana yang sebelumnya bekerja di Lebanon saat menceritakan kondisi perang di negara tempatnya bekerja, Minggu 13 Oktober 2024. 

TRIBUN-BALI.COM  - Ni Ketut Santi Suryaningsih (31), adalah salah satu PMI asal Jembrana yang sebelumnya bekerja di Lebanon.

Ia merasa penuh syukur bisa pulang kembali, ke rumah asalnya dan keluar dari wilayah konflik alias perang di Lebanon.

Santi menyebutkan, setiap malam ia sedikitnya mendengar puluhan kali suara ledakan dari tempatnya tinggal dan tempatnya bekerja.

Dan suara ledakan kian mendekat dengan tempat tinggalnya, sejak dua pekan belakangan sebelum pulang ke Indonesia.

Hal ini menyebabkan ia merasa begitu trauma, dengan peristiwa yang terjadi di sana. Namun begitu, Santi mengharapkan kondisi di negara tersebut bisa kembali normal dan tenang. Sebab, dirinya berencana untuk kembali lagi karena memang butuh pekerjaan.

Baca juga: Santi Dengar Puluhan Suara Ledakan Bom, Cerita PMI Kerja di Lebanon, Ucap Syukur Bisa Pulang ke Bali

Baca juga: Produk Tembakau Alternatif Punya Potensi Dukung Pertumbuhan Pariwisata Bali & Ramah Lingkungan!

 

"Saya berangkat Januari tahun 2023 lalu, jadi hampir dua tahun bekerja di sana (Lebanon). Kami sangat berterimakasih kepada negara yang sudah menyarankan kami dan memfasilitasi pemulangan," kata Santi Suryaningsih, Minggu 13 Oktober 2024.

Dia melanjutkan, sejak awal bekerja di Lebanon situasi dan kondisinya cukup aman. Lingkungannya nyaman dan indah. Namun sejak beberapa waktu belakangan ini, situasinya sudah tak kondusif lagi. Sebab, ia mendengar suara ledakan bom yang terjadi setiap hari dan membuat dirinya beserta orang lainnya yang tinggal di Lebanon merasa tak nyaman. Sehingga, keputusan untuk pulang kampung untuk bertemu sank saudara dan keluarga adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

"Kalau malam itu tegang sekali karena ledakan bomnya. Terutama pada pukul 11 malam hingga 4 dinihari itu, sampai tidak bisa tidur karena was-was dengan bomnya. Jadi rasa trauma itu sudah pasti," ingatnya. 

Selain itu, kata dia, dirinya juga merasa sangat khawatir ketika berada di sebuah gedung. Sebab, ditakutkan bom tersebut menyasar tempatnya tinggal dan ditakutkan roboh.

Dalam sehari, ia bisa mendengar puluhan kali suara ledakan bom akibat peristiwa peran di Lebanon. Suara sirine ambulance yang mengevakuasi korban bom lalu lalang di jalanan menjadi hal yang biasa bagi dirinya belakangan ini.

"Malam hari sampai puluhan kali (dengar suara ledakan bom). Dan itu jelas sekali kedengeran. Mungkin karena jaraknya yang dekat. Awalnya jaraknya sekitar 20 menitan dari tempat tinggalnya, tapi belakangan ini hanya berjarak sekitar 5 menitan," kenangnya.

Meskipun begitu, Santi mengaku hendak bekerja kembali ke Lebanon. Sebab, selain sangat butuh pekerjaan, negara tersebut juga dianggap sebagai tempat yang nyaman dan indah bagi dirinya. Ia berharap, semoga kondisi di negara tersebut segera membaik dan peristiwa perang pun usai.

"Semoga lebih baik aja, semoga perangnya cepat selesai. Tidak ada lagi yang seperti itu (perang, bom dan lainnya)," harapnya. 

Disinggung mengenai warga indonesia yang masih memilih untuk tinggal di Lebanon, Santi menyebutkan kemungkinan masih ada. Terutama mereka yang memilih sudah menikah di negara tersebut dan sepertinya tidak akan meninggalkan keluarganya di negara tersebut. Namun begitu, WNI yang masih berada di negara tersebut lebih dominan memilih untuk tinggal sementara di KBRI setempat.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved