Berita Bali

Finns Beach Club Harus Gelar 3 Upacara Guru Piduka,Kelian Tegal Gundul Bantah Statement Polda Bali  

Pesta kembang api Finns Beach Club digelar saat krama sedang melangsungkan ritual Mendak Dewata-Dewati, serangkaian Ngaben Ngelanus.

istimewa
Tangkapan layar kembang api meletus saat sulinggih tengau mapuja - Viral Video Kembang Api Saat Sulinggih Sedang Mapuja, Diduga di Pantai Berawa, PHDI Bali Telusuri 

TRIBUN-BALI.COM  - Kelian Adat Banjar Tegal Gundul, Desa Tibubeneng I Made Wira Atmaja menyanggah pernyataan Polda Bali yang menyebutkan ada miskomunikasi atas polemik yang terjadi di Pantai Berawa. Ia menegaskan sudah berkomunikasi dengan Finns sebelum peristiwa ini terjadi.

Pesta kembang api Finns Beach Club digelar saat krama sedang melangsungkan ritual Mendak Dewata-Dewati, serangkaian Ngaben Ngelanus. Dari masukan PHDI Bali, Finns harus menggelar tiga upacara guru piduka. Ritual permohonan maaf secara niskala ini ditujukan kepada warga yang menggelar upacara, sulinggih yang mapuja dan Bhatara Baruna, penguasa laut.

Made Wira Atmaja menyampaikan kronologis kejadian dalam pertemuan yang digelar di Finns Beach Club pada Kamis 17 Oktober 2024. Sebelum kejadian, ia sebenarnya sudah berusaha meminta kepada pihak Finns agar menunda dulu pesta kembang api. Warganya sudah menyiapkan sarana upacara di Pantai Berawa sedari pukul 08.00 Wita.

"Pemasangan tenda jam delapan pagi, jam 11 siang kami ke pantai untuk nganyut setelah pembakaran. Itu jarak stan (kembang api) dengan sulinggih muput cuma lima meter. Sore hari jelang muput, saya tanyakan ke pihak Finns karena melihat akan ada kembang api. Ada sekuriti dan penjamu tamu di sana," ujarnya. 

Baca juga: Kadin Usulkan 7 Kebijakan ke Pemerintah! Panduan Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Baca juga: Pencari Madu Asal Jembrana Tewas Tersengat Lebah di Buleleng, Teman Keluar Hutan Kabarkan Ada Mayat

Kolase foto: Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan dan tangkap layar peluncuran kembang api di Pantai Berawa, Tibubeneng, Kuta Utara saat umat Hindu melakukan persembahyangan yang menjadi kontroversi.
Kolase foto: Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan dan tangkap layar peluncuran kembang api di Pantai Berawa, Tibubeneng, Kuta Utara saat umat Hindu melakukan persembahyangan yang menjadi kontroversi. (Istimewa/Tribun Bali)

"Saya tanya jam berapa mulai peluncuran atau ledakan kembang api. Mereka mengatakan jam tujuh kurang 10. Saat itu ida sulinggih lagi mapuja dan kami berkoordinasi dengan nak lingsir. 'Ida niki jagi wenten peluncuran kembang api, ida jagi muput kirang langkung malih kudang menit?' nak lingsir menjawab kirang langkung 30 menit," sambung Made Wira.

Setelahnya, ia kembali lagi ke Finns dan meminta setidaknya pesta kembang api diundur 30 menit juga. Namun pihak Finns menyatakan acara pesta kembang api sudah terjadwal dan pengunjung beach club sudah tahu ada pesta kembang api. Bisanya DJ menghitung sebelum kembang api diluncurkan.

Pihak Finns menolak saran prajuru dan meminta menghubungi bos mereka jika ingin menunda pesta kembang api. "Setelah itu saya temui lagi nak lingsir dan bilang, 'ida tan prasida antuk dimundurkan. Nggih punapiang yening sakadi puniki'. Upacara harus tetap berjalan juga, karena di rumah juga ada upacara lanjutan yaitu ngelinggihang," tuturnya.

Dalam pertemuan ini, Made Wira juga memberikan masukan tambahan. Ia sebut sebelum ada Finns, krama sudah menggelar upacara di Pantai Berawa. Sebenarnya cukup sering terjadi kebisingan suara beach club yang bersumber dari Finns maupun Atlas saat warga menggelar ritual.  

Atas kejadian ini, ia berharap kedepan dibuatkan nota kesepahaman (MoU) untuk sama-sama menjaga adat Bali agar tidak ada lagi kasus-kasus serupa terjadi. Ia harap investasi tidak merenggut ruang krama Bali dalam menjalankan agama dan tradisi.

Ia meminta agar dentuman musik beach club dikecilkan apalagi saat umat menggelar upacara. Selain itu, ada tata krama atau basic manner yang harus dimiliki orang siapapun itu. Pelanggaran norma tercermin saat sulinggih mapuja di bawah, sedangkan wisatawan kakinya selonjoran di atas.

"Sebelum ada Finns sudah ada upacara di sini. Kami harap kedepan bisa upacara lebih khusyuk, musik diperkecil, Sulinggih ada di bawah, kaki-kaki yang diselonjorkan jangan terlalu ke depan. Mohon dibantu dibuat MoU dengan Finns dan Atlas agar kami lebih khusyuk. Saat ada ritual musik dikecilkan. Mohon tak ada kembang api saat kami ritual," pintanya.

Terkait anggapan miskomunikasi oleh Polda Bali, Made Wira pun membantah. "Bukan miskomunikasi antara Finns dan kelian adat. Saya baca Humas Polda Bali (rilisnya), ada miskomunikasi, (Rilis) itu salah. Saya sudah berkomunikasi, antara staf bawah dan pimpinan (Finns) yang tidak sinkron, itu yang menyebabkan," tandasnya.  

Kami Mohon Maaf

Sementara itu, perwakilan manajemen Finns dalam pertemuan ini menyampaikan permohonan maaf. Manajemen mengaku sangat menyesalkan apa yang terjadi sehingga menjadi sorotan publik. Manajemen berkomitmen tak akan mengulangi lagi.

"Apa yang terjadi kemarin, saya juga sangat menyesali. Dari awal kami membangun hubungan yang baik dengan masyarakat. Tapi saat terjadi hal ini, dari pihak kami hanya menyampaikan minta maaf sebesar-besarnya. Komitmen ke depan, izinkan kami menjalankan Tri Hita Karana, supaya keharmonisan berjalan. Ke depan kami ingin berjalan seiring dengan masyarakat," kata perwakilan manajemen Finns.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved