Berita Buleleng

Penyu Hasil Sitaan Dilepasliarkan di Buleleng, Ajak Masyarakat Tidak Lakukan Perdagangan Ilegal

Dari 15 ekor penyu, ternyata ada 1 ekor penyu yang mengalami kondisi medis serius berupa prolapsus hemipenis. 

istimewa
Suasana pelepasliaran penyu hijau di wilayah Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Kamis 21 November 2024 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Seekor penyu dilepasliarkan ke habitatnya di wilayah Kecamatan Gerokgak pada Kamis 21 November 2024. 

Penyu tersebut merupakan hasil sitaan Satpolairud Polres Jembrana pada 27 Mei 2024 lalu. 

Diketahui, penyu tersebut jenisnya adalah penyu hijau (Chelonia Mydas). 

Penyu berjenis kelamin jantan ini memiliki panjang karapas 89 sentimeter dan lebar 71 sentimeter. 

Baca juga: BAU BUSUK! Penyu Lekang Ditemukan Mati, KKP Kurma Asih Perancak Serukan Stop Perburuan Liar

Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko mengungkapkan, penyu hijau merupakan salah satu satwa dilindungi. 

Satwa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, terutama melalui peran ekologisnya di habitat pesisir dan terumbu karang.

Sejatinya total ada 15 ekor penyu yang disita oleh Satpolairud pada 27 Mei 2024 lalu. 

Dari 15 ekor, ternyata ada 1 ekor penyu yang mengalami kondisi medis serius berupa prolapsus hemipenis. 

Ini merupakan kondisi medis, di mana organ kelamin tidak bisa masuk, sehingga tidak dapat dilepasliarkan langsung ke alam. 

"Selama lima bulan terakhir, penyu telah menjalani perawatan intensif dan tiga kali operasi di Klinik Veterinary Kedonganan, Badung dan Klinik Omah Lumba milik Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI). Setelah rangkaian operasi dan perawatan rehabilitasi, penyu akhirnya dinyatakan sehat dan siap untuk dilepasliarkan," ungkapnya. 

Hingga pada Kamis 21 November 2024, penyu hijau ini bisa dilepasliarkan. 

Kegiatan ini melibatkan BKSDA Bali bersama Polres Jembrana dan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI). 

Ratna mengatakan, kegiatan pelepasliaran penyu ini menjadi momen edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa laut, terutama penyu yang terancam punah akibat perburuan, perubahan lingkungan, dan polusi laut.

Pihaknya mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat pada kegiatan ini. 

Ia berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut demi menjaga ekosistem laut yang sehat dan lestari. 

"Kami juga mengajak masyarakat untuk tidak melakukan perdagangan ilegal satwa dan melaporkan segala bentuk pelanggaran hukum terkait satwa liar kepada pihak berwenang," ungkapnya. (mer)

Kumpulan Artikel Buleleng

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved