Berita Karangasem

Kisah Galung Berbagai 1 Kasur untuk 4 Orang, Akhirnya Dapat Kasur Dari ZAP Clinic di Karangasem

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menyebutkan, bahwa Karangasem masih menjadi kabupaten termiskin di Bali. 

|
ISTIMEWA
Galung (tengah) saat menerima bantuan kasur, bantal dan selimut dari ZAP Clinic dan ditemani Founder Kakak Asuh. 

“Jadi kami menyerahkan kotak P3K, makanan, sembako, alat tulis, kasur, bantal hingga selimut. Ada pula hadiah gimmick dari games, biar murid-murid semangat,” katanya 8 Desember 2024, di Karangasem, Bali. Pemberian vitamin dan pemeriksaan kesehatan juga dilakukan oleh Dokter Yoga dan Dokter Dewi. 

Anne mengerti, usai mendapatkan penjelasan kepala sekolah bahwa masyarakat setempat masih banyak yang belum aware pada pendidikan. Kemudian keterbatasan akses kesehatan ke puskesmas juga menjadi kendala, sehingga cek kesehatan dasar dilakukan oleh para dokter ZAP Clinic

“Donasi swadaya internal kami (ZAP Clinic), setelah mendapatkan masalah pokoknya kami lalu membahasnya dengan managemen,” sebutnya. Tentu saja, harapan membantu anak-anak, khususnya di Karangasem bisa terus kontinu.

Walaupun harapannya, bantuan bukan dari ZAP Clinic saja, tapi CSR juga bisa dari perusahaan lain yang peduli dan ingin kontribusi. 

“CSR kami sudah sejak 2016, walaupun pandemi Covid-19 juga tetap kami salurkan. Tak hanya bantuan ke eksternal, di internal karyawan ZAP Clinic pun kami bantu,” tegasnya. Khusus bantuan ke Karangasem ini, ia berharap bahwa tidak ada lagi anak yang putus sekolah ke depannya. 

Pemeriksaan kesehatan siswa di Karangasem oleh Dokter Yoga dari ZAP Clinic Bali Dewi Sri.
Pemeriksaan kesehatan siswa di Karangasem oleh Dokter Yoga dari ZAP Clinic Bali Dewi Sri. (ISTIMEWA)

Harapan yang sama juga diutarakan Kepala Sekolah SD Negeri 3 Bhuana Giri. I Gede Widiarta menjelaskan, bahwa sekolah yang berjarak 4 Km di kaki Gunung Agung ini sangat berguna bagi anak didiknya.

Ia pun tak menampik dan menceritakan masih ada anak didik putus sekolah, entah alasan ekonomi atau alasan lainnya. 

“Saya ucapkan terimakasih, semoga bisa berguna dan menjadi pemantik semangat anak-anak,” katanya. Luh Putu Krisna Yanti, Founder Kakak Asuh Bali, juga turut berterimakasih pada ZAP Clinic. Sebagai pendiri Komunitas Kakak Asuh, ia sangat senang atas CSR dari ZAP Clinic yang sangat berguna bagi anak didik di Karangasem, khususnya di Bebandem. 

Krisna, sapaannya, dan para kakak asuh menemani sekitar 41 siswa perwakilan saat ZAP Clinic hadir ke SD Negeri 3 Bhuana Giri.

Dari siswa SD, SMP hingga SMA pun antusias merasakan acara yang dibuat ZAP Clinic, baik itu pendidikan kesehatan dan kebersihan, pemeriksaan kesehatan, hingga games dan diakhiri makan siang bersama. 

“Harapannya CSR begini rutin dilakukan, sehingga sangat meringankan beban anak asuh di sini. Semoga saja dengan kehadiran rekan-rekan ZAP Clinic membuat anak asuh bahagia, dan peduli pada pendidikan serta tidak sampai putus sekolah,” jelasnya. 

Krisna menjelaskan, bahwa kondisi anak didik di pelosok khususnya di wilayah Karangasem masih memprihatinkan. Ia bercerita, untuk uang seragam saja siswa bisa dibebankan ratusan ribu hingga jutaan.

Kerjasama ZAP Clinic dengan Komunitas Kakak Asuh, dalam membantu anak-anak di Karangasem agar tidak putus sekolah.
Kerjasama ZAP Clinic dengan Komunitas Kakak Asuh, dalam membantu anak-anak di Karangasem agar tidak putus sekolah. (ISTIMEWA)

Tentu saja ini memberatkan, mengingat warga Karangasem dominan petani dan hidup di garis kemiskinan
Dengan sokongan dari para kakak asuh dan bantuan CSR seperti dari ZAP Clinic, akan sangat meringankan beban anak-anak, sehingga mereka bisa semangat sekolah hingga minimal tamat SMA atau SMK.

“Selain faktor ekonomi, faktor geografi alam di sini juga menjadi penyumbang anak putus sekolah,” katanya. Wanita asal Gianyar ini menjelaskan, bahwa banyak anak yang tidak sekolah karena jarak rumah dan sekolah sangat jauh, kemudian tidak ada kendaraan atau yang mengantarkan. 

Belum lagi seragam yang rusak, sepatu yang rusak, membuat mereka harus sekolah dengan sandal jepit. Budaya anak perempuan tidak perlu sekolah, juga menjadi pencetus banyaknya anak tidak mengenyam pendidikan.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved