Ojol Non DK di Bali
Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali Demo DPRD Bali, Tuntut Pembatasan Kuota Taksi Online
Demo ke DPRD Bali. Anggota Paguyuban dari Klungkung, Wayan Widiasa menyampaikan beberapa aspirasi.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali dengan jumlah ratusan orang menggelar aksi demonstrasi di Kantor DPRD Bali, Senin 6 Januari 2025.
Mereka diterima Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya (Dewa Jack), seluruh perwakilan Komisi DPRD Bali serta instansi-instansi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali di Wantilan DPRD Bali.
Ketua Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali, I Made Darmayasa menjelaskan terdapat 6 tuntutan yang dibawa.
Adalah menuntut pembatasan kuota mobil taksi online Bali, menertibkan dan menata ulang keberadaan vendor-vendor Angkutan Sewa Khusus di Bali termasuk juga rental mobil dan motor, membuat standarisasi tarif untuk Angkutan Sewa Khusus (ASK), melakukan pembatasan rekrutmen driver hanya KTP Bali, mewajibkan mobil pariwisata bernopol Bali (Plat DK) dan memasang identitas yang jelas di kendaraan dan melakukan standarisasi pada driver pariwisata yang berasal dari luar Bali.
Baca juga: Ketua DPRD Bali Pastikan Driver Pariwisata BerKTP Bali, Akan Ubah Pergub 40 Tahun 2019 Jadi Perda
“Hasil dari pembahasan kami menerima sementara, tetapi selanjutnya ada lagi dibahas. Jadi 6 tuntutan yang kami sampaikan sudah diterima, sekarang kami menghadap (Ketua DPRD Bali) untuk pemantapan,” jelas Darmayasa.
Darmayasa menegaskan ulah oknum taksi online plat non DK yang beroperasi di Bali ini jelas merugikan driver pariwisata asli Bali.
“Kami hanya menjalankan kewajiban tetapi hak kita dirampok pariwisata Bali tidak baik-baik saja,” jelasnya.
Sejumlah kurang lebih 100 Paguyuban mengikuti aksi kemarin. Di antaranya Celepoek Bali Driver, Joosssss Team, Bali Tourism Driver, United Bali Driver, Bali Driver Comunnity Kesiman Trans, Mr Bali Tour, Katiklantang Trans (KDC), Merta Sari Trans, Bali Driver Team, Ubud Raya Transport, De Carik Transport, Ceking Driver Community, Rhonda Bali Family, Boy Bali Driver, Taman Transport Community Ubud, Peliatan Trans, Bali Female Driver, Ketewel Transport, Yogi bali driver, Lady Bali Driver, Serdadu Lubak Bali Driver, Tabanan Tourism Transport, Vonest Taxi, New Peterpan Transport, dan berbagai paguyuban lainnya.
Anggota Paguyuban dari Klungkung, Wayan Widiasa menyampaikan beberapa aspirasi.
Menurutnya para pejabat tidak pernah melihat kejadian yang ada di jalan karena selalu dikawal dan tidak pernah menemukan kemacetan.
“Apa penyebab macet? Karena sistem online terlalu banyak, kedua anggota polisi tidak berjaga,” kata Widiasa.
Widiasa mengaku selama 21 tahun bekerja di sektor pariwisata Bali, tumben melihat tidak ada polisi berjaga saat kemacetan sedang berlangsung.
Widiasa juga mempertanyakan Imigrasi karena terjadi fenomena baru di pariwisata Bali yakni tamu jemput tamu.
“Jeruk makan jeruk lo Pak. Saya sampai kaget. Jadi guide juga, ke mana tugas Imigrasi? Tolong ditertibkan dan Imigrasi juga, kalau kami baik-baik mungkin saya tidak di sini. Sebagai pengaman kami jangan seperti polisi India baru ada kejadian baru datang,” tandasnya.
Ketua DPRD Bali, Dewa Mahayadnya (Dewa Jack) mengatakan pihaknya berjanji agar melakukan koordinasi terkait beberapa keluhan driver yang telah disampaikan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.