Gebrakan Pemimpin Bali

KOSTER : Nama Nyoman & Ketut Harus Tetap Ada di Bali, Jangan Sampai Punah! Simak Penjelasannya

Pidato Gubernur Bali, Wayan Koster, yaitu menjelaskan terkait visi dan misi dari kebijakan pembangunan Bali dari periode 2025 hingga 2030.

Istimewa
PIDATO - Gubernur Bali, Wayan Koster saat pidato pertama setelah dilantik, Selasa 4 Maret 2025. Ia menyoroti terkait praktik prostitusi hingga pembelian aset yang menggunakan nama warga lokal. 

TRIBUN-BALI.COM, Denpasar - Telah diadakan agenda sidang paripurna istimewa di gedung DPRD Bali, Pada selasa 4 Maret 2025.

Dalam sidang paripurna tersebut, Gubernur Bali, Wayan Koster memberikan pidato perdananya. Adapun isi dari pidato Gubernur Bali, Wayan Koster, yaitu menjelaskan terkait visi dan misi dari kebijakan pembangunan Bali dari periode 2025 hingga 2030.

Provinsi Bali sampai tahun 2024, Bali memiliki 57 kecamatan, 1.500 desa adat, 636 desa, dan 80 Kelurahan. Luas wilayah Bali sebesar 5.590 Km2 atau 0,1 persen dari luas wilayah Indonesia.

Jumlah penduduk Bali sebanyak 4,4 juta jiwa atau hanya sekitar 1,6 persen dari penduduk Indonesia. Pertumbuhan penduduk Bali pertahun sebesar 0,66 persen cenderung melambat dari tahun ke tahun.

Baca juga: KOSTER: Jaga Bali & Tidak Eksploitasi Alam, Soroti Kepemilikan Asing & Harap Ekonomi Kian Membaik!

Baca juga: INFORMA Beri Banyak Berkah di Bulan Suci Ramadan & Kesempatan dengan Berbagai Kemudahan Berbelanja

Sehingga lebih rendah dari pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,04 persen per tahun. Gubernur Bali, Wayan Koster, juga mengatakan ini perlu menjadi perhatian semua pihak karena menurunnya pertumbuhan penduduk Bali termasuk tergerusnya budaya Bali.

"Nama depan nyoman dan ketut hampir punah di Bali, harus kita jaga ini. Kalau enggak maka nama nyoman dan ketut itu tinggal di museum saja ke depan,” ucapnya.

Pada tahun 2024, secara umum kondisi makro ekonomi Bali mengalami kemajuan. Pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,48 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03 persen.

Ini mengindikasikan bahwa perekonomian Bali telah pulih dan bangkit kembali pasca pandemi Covid-19. Ini merupakan perumbuhan yang luar biasa cepat, karena pada tahun 2020 minus 9,31 persen.

Pendapatan Domestik Regional Bruto per Kapita sekitar Rp67.000.000 per tahun, lebih tinggi dari tahun 2019 sebesar Rp 58.000.000 per tahun.

Tingkat kemiskinan 3,80 persen, merupakan yang terendah di Indonesia, sementara nasional  8,57 persen. Tingkat Kesenjangan dengan indeks rasio sebesar 0,348 persen lebih rendah dari indeks Nasional  sebesar 0,381persen.

Tingkat pengangguran terbuka sebesar 1,79 persen terendah di Indonesia , lebih rendah dari angka nasional sebesar 4,91persen. 

Indeks pembangunan manusia tertinggi ke-5 di Indonesia sebesar 78,63 persen, lebih tinggi dari angka nasional sebesar 75,02 persen.

Umur harapan hidup sebesar 75 tahun, angka tersebut di atas nasional sebesar 74 tahun. Serta angka stunting sebesar 7,2 persen merupakan yang terendah di Indonesia jauh di bawah nasional  21,5 persen.

Dan Gubernur Bali, Wayan Koster menargetkan pada tahun 2025 turun menjadi di bawah 6 persen. Wilayah Sarbagita dengan luas 1.738 Km2 atau sekitar 31 persen, sedangkan luar Sarbagita dengan luas 3.852 Km2 atau sekitar 69 persen.

Akan tetapi jumlah penduduk Sarbagita sebanyak 2,3 juta jiwa atau sekitar 52 persen angka ini lebih tinggi dari luar Sarbagita yang hanya 2,1 juta jiwa atau sekitar 48 persen.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved