Rabies di Bali

Singakerta Ditetapkan Zona Merah Rabies, Ada Anjing Gigit 8 Orang di Banjar Tunon

Santiarka menjelaskan, penyebab utama anjing rabies adalah anjing yang dilepas liarkan, sehingga hidupnya tak terawat, sehingga mudah terserang virus

Freepik
ILUSTRASI - Anjing yang menggigit delapan orang di Banjar Tunon, Desa Singakerta, Ubud belum lama ini, dinyatakan positif rabies. Hal tersebut pun menyebabkan desa ini menjadi zona merah atau zona rawan rabies. 

TRIBUN-BALI.COM  - Anjing yang menggigit delapan orang di Banjar Tunon, Desa Singakerta, Ubud belum lama ini, dinyatakan positif rabies. Hal tersebut pun menyebabkan desa ini menjadi zona merah atau zona rawan rabies.

Dalam menangani hal ini, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) melalui Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) akan menggenjot vaksinasi dan eliminasi anjing liar di kawasan tersebut. 

Kepala Bidang Keswan Distannak Gianyar, Made Santiarka, Senin (17/3) menjelaskan, begitu dinyatakan anjing yang menggigit delapan orang warga tersebut positif rabies, wilayah yang terjadi gigitan langsung masuk zona merah.

Baca juga: TEWAS 3 Anggota Polisi dalam Insiden Baku Tembak di Lokasi Tajen, Polda Lampung Benarkan Tragedi Ini

Baca juga: NYAWA NPDP Tak Tertolong! Perempuan Asal Tabanan Tewas Laka Lantas di Teuku Umar

Sedangkan desa sebelah, seperti Singapadu Kaler, Lodtunduh dan Sayan ditetapkan sebagai zona kuning. "Kini Singakerta masuk zona merah, sementara desa tetangga masuk zona kuning," ujarnya.

Santiarka menjelaskan, penyebab utama anjing rabies adalah anjing yang dilepas liarkan, sehingga hidupnya tak terawat, sehingga mudah terserang virus rabies. "Anjing yang lepas liar dan anjing liar ini kami sedang cari. Pertama kita usahakan vaksinasi dan bila terduga rabies maka dilakukan eliminasi selektif," jelas Santiarka.

Dalam kondisi seperti ini, Santiarka sangat berharap agar pemilik anjing peliharaan melakukan perawatan yang benar dan baik terhadap peliharaannya, dan saling mengingatkan satu sama lain. Sebab pemberantasan rabies tidak bisa dilakukan hanya dengan kesadaran satu pemilik anjing, tetapi juga harus dilaksanakan secara kolektif.

"Pertama yang harus dilalukan adalah vaksinasi rutin, kedua perawatan seperti pakan, kesehatan, vitamin yang layak. Terpentingnya adalah tidak melepas liarkan peliharaan," harapnya. 

Diakui, anjing lepas liar di wilayah tersebut masih ada, dimana ada orang yang sengaja membuang anakan anjing yang tidak ingin dipelihara.

"Kami meminta masyarakat setempat agar menjaga lingkungannya dari orang-orang yang suka membuang anjing. Sebab hal tersebut akan membahayakan keselamatan masyarakat dari bahaya rabies," tandasnya. (weg)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved