Berita Buleleng

Sakral, Ribuan Krama Ikuti Tradisi Bukakak, Warisan Leluhur Desa Sangsit Dangin Yeh Buleleng Bali

prajuru desa adat akan nunas petunjuk kepada Ida Batara Mutering Jagad Sesuhunan di Pura Gunung Sekar. 

Tribun Bali/ Muhammad Fredey Mercury 
BUKAKAK - krama Desa Adat Sangsit Dangin Yeh saat mengusung Sarad Ageng dalam tradisi Bukakak, Minggu (13/4). Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Ratusan krama Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng tumpah ruah mengikuti tradisi Ngusaba Bukakak, Minggu 13 April 2025. 

Tradisi yang digelar dua tahun sekali ini merupakan salah satu tradisi asli Buleleng, yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh kementerian.

Ketua Panitia Ngusaba Bukakak, Wayan Sunarsa mengatakan, tradisi Ngusaba Bukakak ini hanya ada di Desa Giri Emas. 

Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang sangat sakral, dan tetap dilestarikan turun-temurun. 

Baca juga: SAKRAL Warisan Lelulur Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Ribuan Krama Ikuti Tradisi Bukakak, Sudah WBTB

Dijelaskan dia, pada dinasti Kerajaan Dauh Panjalu, Raja saat itu Sri Aji Jayapangus (1181-1193 masehi) berupaya menyatukan sekta Wisnu dengan sekta Siwa Sambhu dengan konsep dwi tunggal. Yang mana simbol pemujaannya berupa Nandi Garuda. 

Pada tradisi ini terdapat Sarad Ageng yang terbuat bambu dan ambu (daun enau muda) dengan dihiasi bunga kembang sepatu (pucuk bang). Sarad Ageng setinggi tiga meter ini dibuat oleh Krama Pasek Bedulu. 

"Di dalam Sarad Ageng itu juga terdapat seekor babi hitam yang diguling hanya bagian punggungnya saja. Sehingga babi itu memiliki tiga warna yakni merah, hitam dan putih," jelasnya. 

Kali ini Sarad Ageng yang dibuat, melancaran (berkunjung) ke Pura Kaja Desa Adat Sangsit Dauh Yeh. Penentuan lokasi melancaran ini sesuai bhisama alias berdasarkan petunjuk leluhur. 

Biasanya H-3 acara bukakak, prajuru desa adat akan nunas petunjuk kepada Ida Batara Mutering Jagad Sesuhunan di Pura Gunung Sekar. 

"Kita tidak bisa mengatur ke mana melancaran. Karena dulu melancarannya bisa sampai ke Pengastulan, Labuan Aji, ke Menyali juga pernah," ucapnya. 

Krama yang mengusung (pengogong) Sarad Ageng terlebih dahulu menjalani ritual mejaya-jaya ke Pura Pancoran Emas. 

Uniknya setelah menjalani ritual mejaya-jaya, Krama pengogong pantang mandi atau cuci muka. 

"Apabila melanggar pantangan, maka dipercaya kekuatannya akan hilang," ucapnya. 

Setelah dari Pura Pancoran Emas, Krama selanjutnya akan ke Pura Desa, selanjutnya ke Pura Gunung Sekar untuk kembali mejaya-jaya, agar diberikan kekuatan dan semangat saat mengusung Sarad. 

"Karena Krama pengogong ini bisa mengusung Sarad sampai 10 kilometer," jelasnya. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved