Berita Buleleng
Sakral, Ribuan Krama Ikuti Tradisi Bukakak, Warisan Leluhur Desa Sangsit Dangin Yeh Buleleng Bali
prajuru desa adat akan nunas petunjuk kepada Ida Batara Mutering Jagad Sesuhunan di Pura Gunung Sekar.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Keunikan lainnya, krama pengogong dibedakan menjadi dua melalui busana yang dikenakan.
Bagi Krama yang sudah menikah, maka ia akan mengenakan pakaian adat berwarna putih - merah. Mereka yang nantinya mengusung Sarad Ageng.
"Sedangkan Krama yang belum menikah, mengenakan pakaian putih - kuning. Mereka nantinya mengusung sarad alit," jelasnya.
Perbedaan warna busana keduanya punya makna filosofi sendiri.
Untuk warna putih- kuning, diartikan sebagai simbol keharmonisan para remaja.
Sedangkan busana putih - merah, merupakan lambang penyatuan alam semesta. (mer)
Wujud Syukur
Secara umum, tradisi ini merupakan wujud syukur pada Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Kesuburan, atas kesuburan tanah dan segala hasil pertanian yang melimpah.
Dalam rangkaian Ngusaba Bukakak ini, krama nunas tirta untuk dipercikan di areal sawah, kebun hingga pekarangan.
Memohon agar kembali diberikan kesuburan tanah dan hasil pertanian yang melimpah.
Menurut Sunarsa, tradisi Bukakak semestinya digelar tiap tahun. Namun karena dulu ada kendala biaya, akhirnya tradisi ini digelar dua tahun sekali.
Pun pelaksanaannya juga bergeser dari yang awalnya setiap Purnama Jiyestha (bulan ke 11 kalender Bali), akhirnya menjadi Purnama Sasih Kadasa (bulan 10 kalender Bali).
Kata Sunarsa, pergeseran pelaksanaan tradisi ini karena bertabrakan dengan pelaksanaan pemilu.
"Sesuai hasil paruman, pelaksanaan tradisi Ngusaba Bukakak ini akan dikembalikan ke konsep awal. Yakni dilakukan setiap Purnama Jiyestha (bulan ke 11 kalender Bali), dengan pembiayaan gabungan dari krama subak dan krama gede," tandasnya. (mer)
Kumpulan Artikel Buleleng
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.