Kapal Kandas di Gilimanuk

TANGIS Febriani Pecah Buka Kantong Jenazah! Istri Jadi Korban Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya

12 orang terombang-ambing di kapal karet semalaman. Hingga pukul 07.00 WITA, terlihat kapal nelayan. Seluruh orang berusaha teriak memanggil kapal itu

Tribun Bali/ Muhammad Fredey Mercury 
Tangis - Febriani tak kuasa menahan tangis setelah melihat jenazah istrinya bernama Cahyani, yang baru tiba di Posko ASDP Gilimanuk.  

TRIBUN-BALI.COM - Tragedi maut kecelakaan kapal laut terjadi di Selat Bali. Dikabarkan sampai berita ini turun, sudah 6 korban meninggal dunia ditemukan. 

Salah satu korban jiwa, adalah pasangan Febriani, salah seorang penumpang KMP Tunu Pratama Jaya. Siapa sangka, ia harus kehilangan istri tercinta selama-lamanya. 

Mereka adalah pengantin baru, yang belum genap dua pekan membina rumah tangga. Namun sayangnya, pria 27 tahun itu harus merelakan kepergian sang istri tercinta bernama Cahyani, yang menjadi korban tewas tragedi tenggelamnya kapal KMP Tunu Pratama Jaya pada Rabu (2/7/2025).

Tangis dan penyesalan pun pecah serta menyelimuti Febriani, yang tak menyangka perjalanan singkat menyeberang selat Bali, berujung perpisahan abadi.

"Kejadiannya begitu cepat. Tidak ada yang mengira kapal KMP Tunu Pratama Jaya akan tenggelam," ucapnya ditemui di Posko ASDP Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Kamis (3/7/2025).

Baca juga: KORBAN Jiwa Ibu & Balita 3 Tahun, Tercatat 6 Korban Tewas Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya! 

Baca juga: 34 Penumpang KMP Tunu Pratama Jaya Ditemukan, 6 Meninggal, 28 Selamat, Pencarian Terus Dilakukan!

TANGIS - Febriani tak kuasa menahan tangis setelah melihat jenazah istrinya bernama Cahyani, yang baru tiba di Posko ASDP Gilimanuk. Ia bersama istrinya menumpang KMP Tunu namun terpisah saat di laut.
TANGIS - Febriani tak kuasa menahan tangis setelah melihat jenazah istrinya bernama Cahyani, yang baru tiba di Posko ASDP Gilimanuk. Ia bersama istrinya menumpang KMP Tunu namun terpisah saat di laut. (Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury)

Febriani dan Cahyani (30) sama-sama merantau ke Denpasar, Bali untuk bekerja. Keduanya memutuskan pulang kampung di Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi untuk menikah pada tanggal 20 Juni 2025 lalu. 

12 hari menikah, Febriani memutuskan kembali merantau ke Denpasar untuk bekerja. Jejak sang suami pun diikuti oleh istrinya, hingga keduanya memesan travel untuk mengantar perjalanan. 

"Kami berangkat pukul 22.00 WITA, sampai Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 22.30 WITA, dan langsung naik kapal," ujarnya.

Sebagai orang yang kerap melakoni perjalanan Bali-Jawa, Febriani merasa olengnya kapal yang ia rasakan saat itu adalah hal biasa. Menurutnya itu karena pengaruh gelombang air laut. 

Namun lama kelamaan, hal yang dianggap biasa menjadi perasaan cemas. Bagian depan kapal terlihat miring ke kiri. Apalagi ditambah beban yang berat di sisi depan, kapal pun mulai oleng kurang dari tiga menit.

Semua orang sontak berhamburan berupaya menyelamatkan diri. Mirisnya saat itu tidak ada informasi dari pihak kapal maupun alarm bahaya. "Kami semua menyelamatkan diri sendiri, ambil pelampung sendiri," ungkapnya. 

Kondisi kapal saat itu semakin miring. Lampu dan mesin kapal juga telah mati. Cahyani yang tak bisa berenang diminta memeluk tubuh Febriani, kemudian keduanya memutuskan melompat ke laut.

Namun sayangnya disaat bersamaan kapal yang terjatuh mengakibatkan gelombang kuat. "Pada saat itulah pelukan istri saya terlepas," katanya.

Febriani yang baru sadar saat muncul ke permukaan, berusaha mencari sang istri. Pandangannya menyapu sekitar, sembari berteriak memanggil nama sang istri. 

Sayangnya setelah sekian lama, panggilannya tak kunjung mendapat jawaban dari sang istri. Marah, kesal, kecewa, hingga putus asa berkecamuk di perasaan Febriani. Terlebih saat itu kondisi sekitar gelap.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved