Ramalan Cuaca di bali
BMKG Sebut Cuaca Masih Dinamis dan Ekstrem, Transportasi Darat, Laut dan Udara Diminta Waspada!
Salah satunya adalah insiden kapal KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali pada 2 Juli 2025, serta sejumlah gangguan penerbangan akibat cua
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Bibit siklon tropis 98W yang terpantau di sekitar Luzon memang tidak berdampak langsung ke Indonesia, namun menyebabkan peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan.
Sementara itu, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatera dan Samudera Pasifik utara Papua Nugini menciptakan zona konvergensi dan konfluensi di beberapa perairan Indonesia, seperti Laut Jawa, Laut Flores, dan wilayah Maluku bagian utara.
“Fenomena ini meningkatkan risiko gelombang tinggi dan hujan lebat di perairan terbuka. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius bagi sektor pelayaran dan nelayan,” tegasnya.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa prakiraan cuaca mingguan periode 4 hingga 10 Juli 2025 menunjukkan potensi hujan lebat masih tinggi di berbagai wilayah.
Dalam periode 4 hinggq 6 Juli, wilayah yang perlu diwaspadai antara lain Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua Selatan untuk kategori siaga hujan lebat.
Sementara angin kencang berpotensi terjadi di Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, dan beberapa wilayah di Sulawesi dan Papua.
“Pada 7 hingga 10 Juli, potensi hujan sangat lebat bahkan diperkirakan di Papua Pegunungan, sementara wilayah Maluku masih masuk kategori siaga. Masyarakat harus tetap waspada, terutama terhadap banjir bandang, longsor, dan gangguan aktivitas harian,” jrlas Andri.
Menyikapi kondisi tersebut, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, mengimbau seluruh operator transportasi darat, laut, dan udara untuk secara aktif memantau dan mematuhi informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.
Dwikorita menekankan bahwa kepatuhan terhadap informasi meteorologi harus menjadi bagian dari prosedur standar operasional transportasi, demi keselamatan jiwa dan kenyamanan masyarakat luas.
“Keselamatan harus menjadi prioritas. Pengambilan keputusan dalam operasional transportasi harus mengacu pada data meteorologi yang kami sampaikan secara resmi dan berkala,” tegas Dwikorita.
Dwikorita juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak mengabaikan informasi cuaca, terutama ketika merencanakan perjalanan selama masa liburan sekolah.
Selain itu, pemangku kepentingan di sektor pemerintahan, kebencanaan, pertanian, logistik, hingga pariwisata diimbau untuk menggunakan data cuaca sebagai dasar perencanaan kegiatan.
“Cuaca saat ini tidak bisa diprediksi hanya dengan kebiasaan atau intuisi. Kita semua perlu berbasis data dan bersiap menghadapi dinamika iklim yang terus berubah. Informasi cuaca lengkap dapat diakses melalui berbagai kanal komunikasi resmi BMKG," demikian kata Kepala BMKG Dwikorita. (*)
| BMKG Jelaskan Alasan 2 Hari Terakhir Bali Dilanda Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasannya! |
|
|---|
| RAMALAN Cuaca Bali, Musim Kemarau 2026 Lebih Awal Terjadi di Sejumlah Daerah Termasuk Bali |
|
|---|
| CUACA EKSTREM Beberapa Hari Terakhir di Bali, Disebabkan Adanya Gangguan Atmosfer! |
|
|---|
| RAMALAN Cuaca Bali, Musim Kemarau Tapi Masih Terjadi Hujan? Ini Kata BBMKG Wilayah III Denpasar |
|
|---|
| RAMALAN Cuaca Selama April 2025, Masih Ada Hujan, Berikut Area Rawan Bencana di Bali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sf-bdern-rtd-nmrtmn.jpg)