Kapal Tenggelam di Gilimanuk

PELUKAN Sang Istri Lepas Saat Kapal Karam di Laut, Tangis Febriani Pecah Saat Lihat Jasadnya Membeku

KMP Tunu Pratama Jaya berlayar dari Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
TANGIS - Febriani tak kuasa menahan tangis setelah melihat jenazah istrinya bernama Cahyani, yang baru tiba di Posko ASDP Gilimanuk. Ia bersama istrinya menumpang KMP Tunu namun terpisah saat di laut. 

TRIBUN-BALI.COM  - Kebahagiaan Febriani berubah jadi duka mendalam. Belum genap dua pekan membina rumah tangga, pria 27 tahun itu harus merelakan kepergian sang istri tercinta bernama Cahyani, yang menjadi satu di antara korban meninggal dunia tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya pada Rabu (2/7).

KMP Tunu Pratama Jaya berlayar dari Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana. Berdasarkan laporan petugas di lapangan, kapal tenggelam pada pukul 23.35 WIB di koordinat 8° 9'32.35"S 114°25'6.38"E.

Data manifest sementara, kapal mengangkut 53 orang penumpang, 12 orang awak kapal, serta 22 unit kendaraan dari berbagai golongan. Hingga Kamis (3/7) pukul 21.00 WITA, sebanyak 29 penumpang telah dievakuasi dalam kondisi selamat, sedangkan 6 penumpang ditemukan meninggal dunia dan 30 orang lagi masih proses pencarian.

Tangis dan duka mendalam menyelimuti Febriani. Ia benar-benar tak menyangka perjalanan singkat menyeberang selat Bali, berujung perpisahan abadi. “Kejadiannya begitu cepat. Tidak ada yang mengira kapal KMP Tunu Pratama Jaya akan tenggelam,” ucapnya ditemui di Posko ASDP Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Kamis (3/7).

Baca juga: CUACA Saat KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam, Status Waspada! Ini Kata BBMKG Wilayah III

Baca juga: KAPAL Karam, Imron 30 Menit Kejar Pelampung, 16 Orang Diselamatkan Kapal Nelayan Pesisir Pebuahan 

Baca juga: 3 Posko Tanggap Darurat di Jembrana, Polisi Imbau Masyarakat Tak Sebarkan Konten Tak Pantas

KAPAL FERI - Kapal Feri KMP Tuna Pratama Jaya saat bersandar di salah satu demaga.
KAPAL FERI - Kapal Feri KMP Tuna Pratama Jaya saat bersandar di salah satu demaga. (Istimewa via Surya.co.id)

Febriani dan Cahyani (30) sama-sama merantau ke Denpasar untuk bekerja. Keduanya memutuskan pulang kampung di Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi untuk menikah pada tanggal 20 Juni 2025 lalu.

Kemudian 12 hari menikah, Febriani memutuskan kembali merantau ke Denpasar untuk bekerja. Jejak sang suami pun diikuti istrinya, hingga keduanya memesan travel untuk mengantar perjalanan. “Kami berangkat pukul 22.00 Wita, sampai Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 22.30 Wita, dan langsung naik kapal,” ujarnya.

Sebagai orang yang sering melakoni perjalanan Bali-Jawa, Febriani merasa olengnya kapal yang ia rasakan saat itu adalah hal biasa. Menurutnya itu karena pengaruh gelombang air laut. Namun lama kelamaan, hal yang dianggap biasa menjadi perasaan cemas. Bagian depan kapal terlihat miring ke kiri. Apalagi ditambah beban yang berat di sisi depan, kapal pun mulai oleng kurang dari tiga menit.

Semua orang sontak berhamburan berupaya menyelamatkan diri. Mirisnya saat itu tidak ada informasi dari pihak kapal maupun alarm bahaya. “Kami semua menyelamatkan diri sendiri, ambil pelampung sendiri,” ungkapnya. 

Kondisi kapal saat itu semakin miring. Lampu dan mesin kapal juga telah mati. Febriani meminta Cahyani untuk memeluk tubuhnya, karena ia tak bisa berenang. Kemudian keduanya memutuskan melompat ke laut.

Namun sayangnya disaat bersamaan kapal yang terjatuh mengakibatkan gelombang kuat. “Pada saat itulah pelukan istri saya terlepas,” katanya.

Febriani yang baru sadar saat muncul ke permukaan, berusaha mencari sang istri. Pandangannya menyapu sekitar, sembari berteriak memanggil nama sang istri.

Sayangnya setelah sekian lama, panggilannya tak kunjung mendapat jawaban dari sang istri. Marah, kesal, kecewa, hingga putus asa berkecamuk di perasaan Febriani. Terlebih saat itu kondisi sekitar gelap.

Ia akhirnya memutuskan untuk menaiki kapal karet, bergabung dengan 11 penumpang lainnya yang selamat. “Saya akhirnya dibantu orang-orang naik ke kapal karet. Saat itu masih coba memanggil istri saya. Tetapi tetap tidak ada jawaban. Di situlah saya putus asa, tetapi masih berusaha berpikir positif, mungkin istri saya di perahu karet lain,” ujarnya. 

Sebanyak 12 orang terombang-ambing di kapal karet semalaman. Hingga pukul 07.00 wita, terlihat kapal nelayan. Seluruh orang berusaha teriak memanggil kapal itu. Namun karena ukurannya yang kecil, terpaksa hanya setengah yang bisa diangkut. 

Sedangkan sisanya dijemput setelah nelayan itu memberi informasi pada rekannya. Setibanya di darat, Febriani segera dibawa ke Posko ASDP Gilimanuk pukul 9.30 wita. Di tempat inilah ia menerima kabar bahwa Cahyani telah ditemukan namun meninggal dunia.

Febriani juga diberi kesempatan untuk melihat wajah istrinya. Ketika kantong jenazah dibuka, tangis Febriani langsung pecah, dan segera ditenangkan oleh kerabatnya. 

Kronologi tenggelam 

KMP Tunu Pratama Jaya berangkat dari Pelabuhan Ketapang pada Rabu (2/7) pukul 22.56 WIB. KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan tenggelam di Selat Bali. Kapal tersebut membawa 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan.

KMP Tunu berangkat dari Pelabuhan Ketapang pukul 22.56 WIB, dan hanya berselang sekitar 25 menit kemudian, yakni pada pukul 23.20 WIB, kapal tersebut mengirimkan panggilan darurat (distress call). Lima belas menit setelahnya, kapal dilaporkan tenggelam.

Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin mengungkapkan, peristiwa tersebut pertama kali terpantau pada pukul 23.20 WIB. Saat itu, KMP Tunu Pratama Jaya mengalami gangguan dan menyampaikan permintaan bantuan melalui saluran komunikasi radio. “Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapal mengalami blackout pada pukul 23.35 WIB,” ujar Shelvy seperti dilansir Kompas.com, Kamis (3/7). 

Tidak lama berselang, kapal tersebut terbalik dan hanyut ke arah selatan. Koordinator Pos SAR Banyuwangi, Wahyu Setiabudi mengatakan, 24 menit setelah berangkat berlayar, kapal mengirim sinyal darurat atau distress call. “Pukul 23.20 WIB kami mendapat info dari perwira jaga KMP Tunu Pratama Jaya mengenai panggilan distress,” ucapnya. 

Selang 15 menit atau pada pukul 23.35 WIB, petugas jaga Syahbandar melihat kapal tersebut tenggelam. Pada pukul 00.22 WITA, kapal dilaporkan terbalik dan hanyut ke arah selatan, usai mengirimkan pesan darurat melalui saluran komunikasi maritim channel 17. Beberapa menit berikutnya, KMP Tunu Pratama Jaya kehilangan daya (blackout) dengan kondisi kapal makin memburuk.

“Pukul 23.35 WIB kapal tenggelam, terlihat dari petugas jaga syahbandar,” ujar Koordinator Pos SAR Banyuwangi, Wahyu Setiabudi, Kamis (3/7) 

Informasi yang beredar di antara petugas pelabuhan menyebutkan bahwa kapal diduga mengalami kebocoran di ruang mesin, yang kemudian menyebabkan kapal terbalik di tengah pelayaran. Dalam komunikasi di kanal radio pelayaran, diketahui bahwa pada pukul 00.16 WITA, kapal meminta pertolongan karena mengalami kebocoran. 

“Pada pukul 00.16 WITA, KMP Tunu Pratama Jaya ketika berlayar dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk, terdengar informasi di channel 17 untuk KMP Tunu Pratama Jaya meminta tolong dan mengalami kebocoran mesin kapal,” tertulis dalam laporan informasi pelabuhan. 

Hanya tiga menit berselang, kapal mengalami pemadaman total (blackout). Pada pukul 00.22 WITA, kapal dikabarkan telah terbalik dan hanyut ke arah selatan, dengan koordinat -08°09.371', 114°25.1569. 

Menanggapi kondisi darurat ini, tim gabungan dari Pos SAR Banyuwangi segera dikerahkan pada pukul 00.18 WIB untuk melakukan proses pencarian dan evakuasi.  Sebuah RIB (Rigid Inflatable Boat) dikerahkan menuju lokasi terakhir kapal terpantau.

Namun, proses evakuasi mengalami hambatan karena cuaca buruk dan tinggi gelombang laut di titik kejadian. “Kami belum terhubung dikarenakan terkendala cuaca buruk. Di titik lokasi, ombak mencapai 2,5 meter,” jelas Wahyu. 

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah menerima laporan terkait insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Perairan Selat Bali.

“Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menyampaikan bahwa telah terjadi insiden kecelakaan kapal KMP Tunu Pratama Jaya di Perairan Selat Bali, tepatnya pada koordinat 8° 9'32.35"S 114°25'6.38"E, pada Rabu 2 Juli 2025 sekitar pukul 23.35 WIB,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, Kamis (3/7).

Hingga saat ini, tim SAR masih dalam proses penanganan di lapangan dan terus melakukan upaya evakuasi di tengah tantangan cuaca ekstrem. Pantauan di Posko ASDP Gilimanuk, ambulans pembawa jenazah para korban tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya tiba sekitar pukul 19.00 Wita.  

Proses pencairan awal sebanyak 33 penumpang kapal KMP Tunu Pratama Jaya ditemukan oleh tim SAR gabungan. “Adapun berdasarkan data manifest sementara, kapal mengangkut sebanyak 53 orang penumpang, 12 orang awak kapal, serta 22 unit kendaraan dari berbagai golongan,” imbuh Muhammad Masyhud.

Sementara itu, RSU Negara mengkonfirmasi jenazah terakhir yang dievakuasi, Kamis (3/7) sore. Adalah seorang anak berusia 3 tahun yang diketahui bernama Afnan Agil Mustafa. Korban merupakan anak dari jenazah yang sebelumnya ditemukan, Fitri April Lestari (33).

Saat ini masih berada di ruang jenazah RSU Negara. “Sudah diidentifikasi, anaknya korban yang datang sebelumnya, Ibu Fitri,” ungkap Direktur RSU Negara, dr Ni Putu Eka Indrawati saat dikonfirmasi, Kamis (3/7). 

Dengan kedatangan satu jenazah tersebut, total 6 orang korban meninggal dunia tragedi KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam ditemukan. Dari update data Tribun Bali hingga pukul 21.00 WITA, jumlah korban yang ditemukan sebanyak 35 ditemukan. Dari jumlah tersebut, 6 penumpang ditemukan meninggal dunia, 29 dievakuasi selamat dan 30 orang lainnya masih pencarian.

Saat ini, operasi SAR masih berlangsung dengan dukungan armada laut dan tim penyelamat dari berbagai instansi terkait. “Upaya pencarian terhadap penumpang lainnya masih terus dilakukan. Proses evakuasi menghadapi tantangan berupa kondisi gelombang laut yang tinggi (2 hingga 2,5 meter), angin kencang, serta arus kuat di sekitar lokasi kejadian,” jelasnya.

Ditjen Hubla menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian ini dan memastikan bahwa setiap langkah penanganan dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan mengedepankan keselamatan jiwa. “Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung kelancaran operasi pencarian dan penyelamatan,” kata Masyhud.

Saat ini telah dibuka Posko Terpadu Penanganan Evakuasi KMP. Tunu Pratama Jaya di Kantor ASDP Cabang Gilimanuk. “Kami akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut seiring informasi resmi dari tim SAR di lapangan,” ujarnya. 

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas) Bali, I Nyoman Sidakarya mengatakan, secara umum jumlah penumpang kapal KMP Tunu Pratama Jaya sebanyak 53 orang ditambah 12 kru kapal. “Mengenai penampang yang belum ditemukan, saat ini tengah dilakukan pendataan kembali agar tidak ada nama yang ganda,” tegasnya.

Terhadap penumpang yang selamat, khususnya asal Banyuwangi, selanjutnya akan diserahkan kepada pihak keluarga. Pemulangan korban selamat, akan dikawal kapal langsung dari ASDP maupun pemiliknya. “Untuk yang dibawa ke Banyuwangi sesuai data 20 orang,” ucapnya.

Para penumpang selamat asal Banyuwangi dipulangkan pukul 16.30 Wita. Mereka menaiki kapal Dharma Rucitra yang berangkat pukul 16.50 Wita. Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) telah dilakukan sejak dini hari oleh Tim Gabungan dari unsur Basarnas, TNI/Polri, Syahbandar, KPLP, ASDP, serta unsur terkait lainnya di bawah koordinasi Kantor Pencarian dan Pertolongan. (mer/mpa/zae/ali)

Pulang - Suasana para penumpang selamat KMP Tunu Pratama Jaya saat dipulangkan ke Banyuwangi. Kamis (3/6/2025).
Pulang - Suasana para penumpang selamat KMP Tunu Pratama Jaya saat dipulangkan ke Banyuwangi. Kamis (3/6/2025). (Tribun Bali/ Muhammad Fredey Mercury)

Instruksi Percepatan Pencarian dan Pertolongan

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menginstruksikan jajaran Kementerian Perhubungan dan stakeholder terkait, untuk mempercepat proses pencarian dan pertolongan kecelakaan pada insiden kecelakaan Kapal KMP Tunu Pratama Jaya.

“Saya turut prihatin atas kejadian ini. Saat ini operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung. Saya instruksikan proses tersebut dipercepat, dengan mengedepankan koordinasi dan keselamatan,” ujar Dudy, di Jakarta, Kamis (3/7).

Sementara itu, upaya pencarian terhadap para penumpang tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya masih terus dilakukan. Pencarian para korban juga melibatkan helikopter untuk pemantauan dan pencarian dari udara.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas) Bali, I Nyoman Sidakarya menyebut sejak menerima laporan kapal tenggelam KMP Tunu Pratama Jaya, pihaknya telah mengerahkan personel dari POS Jembrana. Para personel melakukan pencarian menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dan Rubber Boat.  

Untuk lebih memaksimalkan upaya pencarian, pihaknya akan melibatkan Helikopter Atang Sendjaja untuk mencari penumpang yang belum ditemukan dari udara. Tak hanya itu, Kantor Basarnas Bali juga akan mengerahkan satu kapal KN SAR Arjuna untuk membantu pencarian. “KN SAR Arjuna dan akan stay di sini (Selat Bali) melakukan pencarian,” ucapnya. 

Dalam pencarian penumpang yang belum ditemukan, Basarnas Bali melibatkan 53 personel gabungan. Lokasi pencarian akan menyasar arah selatan dari titik kejadian tepatnya di sekitar Pantai Pebuahan, Desa Banyu Biru, Kecamatan Negara, Jembrana. “Pertimbangannya karena angin dan arus air menuju ke selatan. Sedangkan kondisi cuaca saat ini, ombak sudah mulai naik,” imbuhnya.

Sidakarya berharap ada informasi dari masyarakat terutama nelayan mengenai keberadaan korban. “Mudah-mudahan korban yang belum ketemu terdampar di sana, sehingga semua bisa kita evaluasi,” harapnya. 

Sejak dini hari kemarin, operasi pencarian dan pertolongan telah dilakukan oleh tim gabungan dari unsur Basarnas, TNI/Polri, Syahbandar, KPLP, ASDP, serta unsur terkait lainnya di bawah koordinasi Kantor Pencarian dan Pertolongan.

Upaya pencarian terhadap penumpang lainnya masih terus dilakukan dengan dukungan armada laut dan tim penyelamat dari berbagai instansi terkait.  Proses evakuasi menghadapi tantangan berupa kondisi gelombang laut yang tinggi (2 hingga 2,5 meter), angin kencang, serta arus kuat di sekitar lokasi kejadian. (mer/zae)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved