Longsor di Bali
1 TEWAS 2 Selamat, 3 Tertimbun Longsor di Tegenungan, 14 Warga Terdampak Senderan Jebol di Denpasar!
Hujan deras kembali mengguyur Bali dan sekitarnya, Kamis (12/2). Akibatnya, dilaporkan sejumlah kejadian bencana alam
Kepala BPBD Kota Denpasar, Ida Bagus Joni Arimbawa, menjelaskan kejadian bermula dari dinding parit yang ambrol. Runtuhnya senderan tersebut turut menarik pondasi rumah yang berada tepat di sebelahnya hingga ikut longsor.
“Material longsor ini menutup akses jalan menuju kos-kosan yang berada di belakang pondasi yang jebol tersebut,” ujar Joni.
Selain menutup akses, rumah yang pondasinya ikut tergerus kini dalam kondisi rawan. Pemilik rumah tidak berani menempati bangunan tersebut karena risiko roboh yang tinggi, sehingga mereka terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Total ada 4 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak di lokasi ini. Rinciannya, 3 KK merupakan warga penyewa kos dengan jumlah sekitar 10 orang, dan 1 KK adalah pemilik rumah yang terdiri dari 4 anggota keluarga,” paparnya merinci jumlah warga terdampak.
Kejadian berlangsung sekitar pukul 15.10 WITA ini sempat memicu kepanikan warga sekitar. Pasalnya, salah satu penghuni yang terjebak adalah seorang perempuan berusia 18 tahun, Intan Nuraeni, yang mengandung tujuh bulan. Kondisi TKP terlihat mengkhawatirkan.
Selain bangunan kos yang roboh, pondasi bangunan rumah tampak menggantung setelah tanah di bawahnya amblas sedalam beberapa meter.
Material longsor berupa bongkahan batu, tanah merah, dan puing-puing bangunan menutupi gang sempit yang menjadi akses utama warga.
Tim gabungan dari TRC BPBD Kota Denpasar, Damkar, hingga kepolisian melakukan evakuasi. Petugas terlihat dengan hati-hati membantu warga menyelamatkan perlengkapan dan barang-barang dari bangunan.
Joni memastikan bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka dalam musibah ini. Namun, dampak kerusakan infrastruktur membuat lokasi tersebut tidak lagi aman untuk ditempati sementara waktu.
Joni menambahkan total ada tiga keluarga yang berhasil dievakuasi dari rumah kos tersebut yakni keluarga Ni Made Anggreni asal Karangasem bersama suami dan 2 anaknya.
Lalu, keluarga Wayan Sudiartini asal Negara bersama suami dan 2 anaknya serta keluarga Intan Nuraeni ibu hamil 7 bulan bersama suaminya, Komang Supratna.
“Yang tinggal di kos-kosan ada 3 KK, mereka sempat terjebak longsor dan sudah dievakuasi di rumah warga setempat, tidak bisa keluar dari tempat kos karena gangnya ambrol, tidak ada yang cedera,” kata Joni.
“Untuk korban jiwa nihil,” imbuhnya.
Selain menutup akses kos-kosan, longsor juga merusak satu pelinggih milik warga. Satu keluarga lain yang tinggal di area terdampak, yakni keluarga Putu Agus Eka (45) bersama istri dan anak memilih untuk mengungsi ke rumah mertua demi keamanan.
Joni mengakui proses penanganan di lapangan menghadapi tantangan yang cukup sulit dan berisiko. Penggunaan alat berat dinilai bukan opsi yang aman saat ini. “Jika dipaksakan menggunakan alat berat dari PU (Dinas Pekerjaan Umum), kami khawatir getaran mesin justru akan memicu keruntuhan total pada bangunan rumah yang sudah labil,” jelasnya.
Opsi penanganan darurat lainnya, seperti pemasangan penyangga bambu secara manual untuk menahan bangunan, juga dinilai memiliki risiko tinggi bagi keselamatan pekerja. Sebagai langkah awal, pihak BPBD akan melibatkan partisipasi warga sekitar.
| Longsor Tutup Jalur Tegallalang–Cebok, Tebing Setinggi 7 Meter Ambrol |
|
|---|
| Jalan Penghubung Desa Peken Belayu-Desa Kukuh Kembali Longsor, Tebing Tergerus |
|
|---|
| 27 KK di Buleleng Terisolasi Pasca Longsor di Gitgit, Siswa Tidak Bisa Sekolah |
|
|---|
| Longsor Saat Hujan Deras di Nusa Penida, Tembok Penahan Pekarangan Rumah Warga Roboh |
|
|---|
| Korban Tanah Longsor di Kintamani Ditemukan Meninggal, Tertimbun Material 100 Meter |
|
|---|