Berita Bali
BKSDA Lepasliarkan 12 Ekor Curik Bali Hasil Penangkaran, Usul Penetapan Hari Curik Bali Nasional
BKSDA Lepasliarkan 12 Ekor Curik Bali Hasil Penangkaran, Usul Penetapan Hari Curik Bali Nasional
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Aloisius H Manggol
Dimana Kelompok Kehati Pertiwi Lestari anggotanya dulu adalah para pemburu hewan atau satwa.
Namun berubah 180 derajat mereka kini menjadi kelestarian hewan atau satwa khususnya Curik Bali.
Lalu dari sisi regulasi pihaknya mengeluarkan awig-awig dengan peraremnya.
"Sehingga kami membackup ini dengan awig-awignya, kemudian dengan pararemnya. Pararemnya itu adalah peraturan teknis dari awig-awignya. Jelas disitu diatur bahwa tidak diperkenankan atau dilarang berburu satwa, apalagi burung Curik Bali. Itu ada sanksinya," tegasnya.
Sementara itu Guru Besar Bidang Ekologi Hewan Program Studi Biologi FMIPA Unud, Prof. Dra. Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni, M.Sc., Ph.D, menyampaikan populasi Curik Bali kurang lebih 600 ekor paling banyak berada di Taman Nasional Bali Barat tetapi kini sudah tersebar ke luar kawasan.
"Jadi sekitar ada 600 ekor dan juga tersebar sampai ke luar kawasan. Kemudian ada juga kantong-kantong lain yang mana berada di luar kawasan taman nasional seperti di di Tejakula, Tengkuda, kemudian ada di Nusa Penida yang pertama, kemudian ada juga di Besikalung," urai Prof. Eswaryanti.
Ia pun berharap dengan makin banyaknya populasi Jalak Bali atau Curik Bali terus dapat berkembang dengan baik tidak hanya terkonsentrasi di satu tempat.
Dan kita harapkan juga dengan semakin banyaknya Curik Bali yang ada di alam, ke depannya kita bisa menurunkan status Curik Bali mungkin ke depannya.
Dimana menurut IUCN saat ini Curik Bali berstatus kritis dan terancam punah di alam liar akibat perburuan.
"Semoga salah satu indikator keberhasilannya. Dengan jumlah individu dan jumlah distribusi yang semakin meluas di kawasan statusnya turun," kata Prof. Eswaryanti.
Terkait usulan tanggal Hari Nasional Curik Bali bisa menggunakan tanggal 24 Maret karena pada tanggal itu di tahun 1911 Dr. Baron Stressman terdampar di sekitar Taman Nasional Bali Barat.
Dan saat menunggu perbaikan kapalnya, ia berjalan-jalan dan menemukan Jalak Bali yang tersebar di Bubunan, Seririt, Buleleng.
Waktu itu cukup banyak populasinya kurang lebih 800-an ekor kemudian ia kembali ke Inggris.
Kemudian didanai oleh Walter Rothschild, untuk melakukan penelitian di sana dan di Inggris burung ini di namai Leucopsar Rothschildi.
"Mungkin memang ada tanggal, mungkin perlu pertimbangan, mungkin tanggal pertama kali ditemukannya mungkin bisa digunakan. Dalam pelestarian Jalak Bali tentu saja itu tidak bisa khusus kepada kita bebankan kepada pemerintah," tutur Prof. Eswaryanti.(*)
| RSUP Prof Ngoerah Bali Buat Kegiatan ‘Mepunia’ Pas Purnama, Sasar Keluarga Pasien Kurang Mampu |
|
|---|
| Peringati Seabad Pengarang Made Sanggra, Sang Anak Luncurkan Geguritan Katemu ring Tampaksiring Bali |
|
|---|
| Puncak May Day di Bali Berlangsung Damai, Ratusan Buruh Jalan Santai, 1.880 Polisi Jaga Pintu Dialog |
|
|---|
| FSPM Adakan Diskusi Publik May Day, Soroti Pekerja Sektor Pariwisata Bali |
|
|---|
| Aliansi Buruh dan Mahasiswa Bali Tuntut Penetapan Status PKWTT Untuk Pekerja DW dan Magang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Burung-Curik-Bali-yang-akan-dilepasliarkan-ke-alam-bebas-wfc.jpg)