Sampah di Bali
TPST dan TPS3R Overload, Sampah Organik di Denpasar Bali Membeludak, Hasil Cacahan Menumpuk
hasil cacahan sampah organik belum dapat keluar dari gudang sebab bingung membuang hasil cacahan sampah organik.
Pola ini dikhawatirkan akan menghambat penanganan jika terjadi kerusakan alat, mengingat pengadaan suku cadang melalui mekanisme anggaran pemerintah cenderung memakan waktu.
DPRD menyarankan agar pihak penyedia mesin dilibatkan langsung dalam operasional agar lebih efektif dan responsif terhadap kendala teknis.
“Kebijakan pemilahan sampah di hulu sudah sangat tepat karena menjadi kunci kinerja mesin di hilir. Namun, manajemen operasional mesinnya juga harus fleksibel agar tidak terhambat birokrasi saat terjadi kerusakan,” katanya.
Sekretaris DLHK Kota Denpasar, I Wayan Tagel Sidarta, menjelaskan bahwa saat ini dua mesin berkapasitas 200 ton tersebut sedang dalam tahap persiapan commissioning atau uji coba operasional.
Pihaknya menargetkan seluruh proses uji coba rampung pada akhir April 2026. TPST ini beroperasi 20 jam dalam sehari dengan sistem tiga shift.
“Fokus kami saat ini adalah memastikan dua mesin ini bekerja optimal sesuai target 200 ton per hari. Setelah stabil, pengembangan jalur pengolahan tambahan untuk mencapai target yang lebih tinggi akan kami evaluasi lebih lanjut,” jelas Tagel.
Dengan target pengoperasian penuh dalam waktu dekat, sinergi antara kebijakan pemilahan di tingkat rumah tangga dan keandalan teknologi di TPST diharapkan mampu menjadi jawaban jangka panjang bagi permasalahan lingkungan di Kota Denpasar. (sar/sup)
Pemilahan Sampah di Denpasar Capai 84 Persen
Pemilahan sampah masyarakat Denpasar disebut mengalami peningkatan signifikan.
Peningkatan signifikan terjadi pasca pelarangan sampah organik ke TPA Suwung pada 1 April 2026.
Bahkan persentase pemilahan di tingkat rumah tangga mencapai 84 persen.
Hal itu diungkapkan Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa yang diwawancarai usai peringatan Serangan Umum Kota Denpasar, Senin 13 April 2026.
“Per 1 April, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah mengalami peningkatan. Kami ucapkan terima kasih atas dukungan masyarakat,” paparnya.
Sebelum 1 April, menurutnya masyarakat melakukan pemilahan sampah berkisar antara 20 hingga 25 persen.
Kini, antusias masyarakat melakukan pemilahan sampah juga meningkat.
Berdasarkan data dari aplikasi Denpasar Prama Sewaka (DPS), sebanyak 35.384 rumah tangga atau setara dengan 84 persen melakukan pemilahan sampah dari sumber.
Data tersebut per tanggal 12 April 2026 yang akan terus berubah setiap harinya.
Arya Wibawa mengatakan, momen peringatan Serangan Umum Kota Denpasar ini bisa menjadi semangat untuk menjaga semangat bersama membangun Kota Denpasar serta menghadapi persoalan-persoalan yang terjadi. Termasuk soal sampah saat ini.
“Kalau kita bergotong royong dengan semangat kebersamaan kita bisa menghadapi permasalahan termasuk soal sampah ini,” katanya.
Pihaknya berterima kasih kepada masyarakat yang telah ikut berjuang menghadapi persoalan sampah saat ini dengan melakukan pemilahan. Ia yakin, dengan kolaborasi semua pihak, masalah ini bisa dituntaskan. (sup)
Jasa Pengelola Sampah Bali Gulung Tikar
Jasa pengelola sampah gulung tikar akibat kesulitan membuang sampah pasca TPA Suwung tak menerima sampah organik per 1 April 2026. Beberapa di antara mereka menjual motor cikar (moci).
“Untuk kepastiannya kita belum tahu, cuma mereka sudah bilang ke grup di sana mereka menyampaikan. Bisa ada yang diam-diam jual, ada yang bersihkan mobilnya kemudian ditaruh begitu saja,” kata Ketua Forum Swakelola Sampah Bali, I Wayan Suarta, Senin 13 April 2026.
Lebih lanjut Suarta mengatakan, jasa pengelola sampah kini kebingungan membawa sampah.
Sementara, pembuangan sampah residu dan non organik sangat ketat di TPA Suwung.
“Terus organiknya ini katanya pemerintah sudah menyiapkan seperti dibilang tadi yang Kertalangu (TPST). Tapi kenyataannya baru bekerja beberapa hari saja sudah tidak mampu mereka menampung sampah organik, baik kering maupun basah dari masyarakat, apalagi dari hotel-hotel itu. Kan kebanyakan sampah organiknya itu di hotel-hotel,” imbuhnya.
Menurutnya, pimpinan di Bali saat ini tidak dapat mengatasi sampah kecuali tempat pembuangannya lebih banyak dan besar dan itupun harus disediakan mesin yang siap untuk mengerjakan itu.
“Sudah putus asa, ada yang sudah berhenti ada yang sekadar dia bisa ambil dia ambil. Kalau tidak ya tidak, akhirnya takutnya sampah masyarakat tidak ada yang mengangkut karena sudah bermasalah,” bebernya.
Kondisi ini jika dibiarkan lama-lama pastinya masyarakat yang akan dirugikan juga merembet ke pariwisata.
“Ketika tidak ada yang melayani akhirnya masyarakat yang dirugikan dan tumpukan sampah ada di mana-mana akhirnya yang rugi kita semua termasuk pemerintah, masyarakat karena berdampak pada pariwisata,” tandasnya. (sar)
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Para-pekerja-melakukan-proses-pengolahan-sampah-di-TPST-Tahura-I-Denpasar-kemarin.jpg)