Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Banjir di Buleleng

Hujan Lebat Bukan Satu-satunya, Pakar Ungkap Penyebab Banjir Berulang di Pancasari Buleleng

Sebanyak 47 rumah warga di wilayah Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng terendam akibat hujan deras pada Minggu (11/1/2026).

Tayang:
Tribun Bali/ISTIMEWA
Terendam – Sejumlah rumah terendam air akibat banjir yang melanda di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Minggu (11/1). Masyarakat bersama BPBD Buleleng melakukan gotong royong pasca genangan air yang berdampak pada sejumlah rumah warga. 

Longsor terjadi di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, menimpa dapur rumah warga. Longsor juga terjadi di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, yang merusak rumah dan dua sepeda motor milik warga, dengan estimasi kerugian mencapai Rp15 juta.

Di Desa Galungan, Kecamatan Sawan, longsor merusak pondasi sanggah kemulan milik warga dengan kerugian sekitar Rp5 juta.

Selain itu, pohon beringin tumbang di SMPN 3 Seririt dan menimpa gedung TIK, perpustakaan, serta bangunan pengelolaan sampah sekolah. Kerusakan ditaksir mencapai Rp350 juta.

Terkait penyebab banjir yang kerap terjadi di Pancasari, Pengamat Isu Perkotaan dan Akademisi Universitas Warmadewa, Gede Maha Putra, menilai banjir di wilayah tersebut bersifat berulang dan terprediksi.

Menurutnya, genangan terutama terjadi di wilayah tengah desa yang secara topografis lebih rendah dibanding area sekitarnya.

“Banjir di Pancasari tidak bisa dilihat sebagai faktor alam semata. Ada pertemuan antara kondisi hidrologi, kontur lahan, serta aktivitas manusia dalam pengelolaan ruang,” jelasnya.

Ia menilai, banjir terjadi karena limpasan air hujan yang tinggi tidak diimbangi dengan daya resap tanah dan jalur aliran air yang memadai.

Penutupan lahan, pembangunan di area rawan genangan, serta perubahan jalur alami aliran air turut memperparah kondisi tersebut.

Menurutnya, penanganan banjir perlu dilakukan secara terpadu melalui penataan ruang berbasis resapan, rekayasa drainase dan jalur aliran air, serta pengamanan infrastruktur penting seperti jalan.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif untuk mengurangi risiko banjir berulang dibanding penanganan darurat semata.

BPBD Buleleng mengimbau masyarakat tetap waspada karena potensi cuaca ekstrem masih diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.

Warga diminta memantau informasi cuaca dari BMKG dan meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah rawan banjir dan longsor. (*)

 

 

Berita lainnya di Banjir di Buleleng

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved