LSD di Bali
TEMUKAN 1 Sapi Positif Terjangkit Penyakit LSD, Distan Buleleng Berupaya Lockdown Desa? Ini Katanya!
Upaya tersebut menindaklanjuti pasca temuan terbaru satu sapi positif terjangkit penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Buleleng berencana melakukan Lockdown di dua desa wilayah Kecamatan Gerokgak.
Upaya tersebut menindaklanjuti pasca temuan terbaru satu sapi positif terjangkit penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).
Hal tersebut diungkapkan Kepala Distan Buleleng, Gede Melandrat. Dikatakan dia, hingga saat ini total ada tiga ekor sapi di wilayah Kecamatan Gerokgak positif terjangkit penyakit LSD. Seluruhnya tersebar di dua desa.
“Dua Sapi positif LSD sebelumnya ditemukan di wilayah Desa Sumberkelampok. Selanjutnya kami melakukan tracing terhadap 25 ekor sapi di sekitar. Setelah diambil sampel darah ternyata hasilnya positif,” jelasnya, Jumat (23/1).
Satu sapi yang teridentifikasi positif berada di wilayah Desa Pejarakan. Menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya berencana melakukan koordinasi dengan perbekel dari dua desa itu dan Camat Gerokgak untuk melakukan lockdown.
“Tujuannya untuk memastikan sapi yang ada di Desa Sumberklampok dan Pejarakan tidak ada keluar ataupun masuk, alias lockdown,” imbuhnya.
Baca juga: KREDIT Perbankan Tumbuh 9,3 Persen, Didorong Segmen Korporasi hingga Sektor Properti, UMKM Kontraksi
Baca juga: TEWAS 2 Pekerja Proyek Longsor di Ungasan, Kecelakaan Kerja & Tertimbun, Jenazah Telah Dievakuasi!
Dikatakan pula, pihaknya telah melakukan komunikasi ke pusat maupun provinsi untuk meminta vaksin LSD. Hanya saja masih dikoordinasikan.
“Kalau semisal diberikan vaksin kami sudah siap. Karena kami ada 27 dokter hewan yang siap melakukan vaksinasi,” tandasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini vaksin LSD belum tersedia di Buleleng karena masih difokuskan di Kabupaten Jembrana.
Namun Distan telah mengajukan permohonan vaksin dan siap melakukan vaksinasi apabila hasil uji laboratorium menyatakan positif LSD. “Kalau sudah ada kejadian, yang divaksin itu sapi sehat, bukan yang terinfeksi,” katanya.
Vaksin LSD juga berbeda dengan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Sebab LSD merupakan penyakit virus yang hanya menyerang sapi dan tidak menular ke manusia. Penularannya umumnya melalui vektor seperti nyamuk dan lalat, terutama saat musim hujan.
Kendati tingkat kematiannya rendah, Melandrat mengatakan LSD berpotensi menyebabkan kecacatan pada sapi. Tentunya hal ini berdampak pada penurunan nilai jual.
Untuk diketahui, kasus LSD di Buleleng berawal dari seorang peternak membeli dua anakan sapi secara online melalui media sosial Facebook.
Sapi itu didatangkan dari luar daerah, diduga dari wilayah timur Bali. Setelah dipelihara sebulan, sapi itu menunjukkan gejala berupa bercak-bercak pada kulit menyerupai cacar.
Walaupun kondisi kedua sapi yang diduga terjangkit LSD dilaporkan mulai membaik dan masih memiliki nafsu makan, Distan tetap mengambil langkah pencegahan dengan mengisolasi satu desa.
Sebelumnya Distan Buleleng memberlakukan langkah antisipatif menyusul temuan dua ekor sapi milik peternak di salah satu desa di Kecamatan Gerokgak, yang diduga terjangkit penyakit LSD.
Untuk mencegah penyebaran lebih luas, Distan langsung menerapkan karantina wilayah di tingkat desa dengan membatasi pergerakan dan distribusi sapi.
Melandrat menjelaskan temuan tersebut merupakan laporan pertama yang masuk ke pihaknya, setelah sebelumnya Bali berada dalam status waspada LSD berdasarkan informasi dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Bali.
Laporan diterima pada Senin (19/1), setelah peternak melaporkan adanya sapi yang menunjukkan gejala penyakit kulit.
“Awalnya kami hanya menerima informasi kewaspadaan dari BBVet Bali dan belum ada temuan di lapangan. Namun pada Senin kemarin, peternak melapor ada dua ekor sapi yang menunjukkan gejala mengarah ke LSD,” ujar Melandrat, Rabu (21/1).
Hasil penelusuran menunjukkan dua sapi tersebut merupakan anakan sapi yang dibeli secara online melalui media sosial Facebook dan didatangkan dari luar daerah, diduga dari wilayah timur Bali.
Sapi-sapi tersebut telah dipelihara sekitar satu bulan sebelum akhirnya menunjukkan gejala berupa bercak-bercak pada kulit menyerupai cacar.
“Inilah yang menjadi perhatian kami, karena pembelian ternak secara online membuat asal-usul dan riwayat kesehatannya sulit dipantau,” jelasnya.
Meski kondisi kedua sapi yang diduga terjangkit LSD dilaporkan mulai membaik dan masih memiliki nafsu makan, Distan tetap mengambil langkah pencegahan dengan mengisolasi satu desa.
Pembatasan tidak hanya berlaku pada sapi yang sakit, tetapi juga seluruh sapi di wilayah tersebut. “Sapi dari desa itu sementara tidak boleh keluar sampai benar-benar dinyatakan steril,” tegas Melandrat.
Distan Buleleng juga telah melakukan pengambilan 25 sampel sapi untuk diuji di BBVet Denpasar. Sampel diambil tidak hanya dari sapi yang menunjukkan gejala klinis, tetapi juga dari sapi-sapi di sekitar lokasi temuan guna memastikan potensi sebaran penyakit.
Berdasarkan data Distan, populasi sapi di Kabupaten Buleleng mencapai 69.076 ekor yang tersebar di sembilan kecamatan.
Kecamatan Gerokgak menjadi wilayah dengan populasi sapi tertinggi, yakni 23.539 ekor, disusul Kecamatan Kubutambahan sebanyak 10.242 ekor dan Kecamatan Seririt 7.783 ekor. “Saat ini kami optimistis, penyakit ini masih bisa dikendalikan,” kata dia. (mer)
| Lalulintas Ternak Sapi dan Kerbau di Jembrana Diperketat, Pemulihan Pasca Diserang LSD |
|
|---|
| HANYA Kecamatan Pekutatan Tak Ada Suspek LSD, Baru 456 Ekor Ternak Warga Terima Vaksinasi |
|
|---|
| TAMBAHAN Dosis Khusus untuk Zona Tertular LSD, Masih Jauh Kurang Dari Total Estimasi Populasi |
|
|---|
| Kasus LSD, Jembrana Bali Dapat Tambahan 3.940 Dosis Vaksin, Kurang Dari Total Estimasi Populasi |
|
|---|
| BATAL Lockdown di Buleleng, 3 Sapi LSD Sembuh, Ini Kata Dinas Peternakan! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Petugas-Distan-Buleleng-saat-mengambil-sampel-sapi-di-salah-satu-desa-dv.jpg)