Berita Buleleng
Pedagang di Singaraja Pilih Untung Tipis, Daripada Pelanggan Kabur, Kenaikan Harga Dampak Perang
Pedagang di Singaraja Pilih Untung Tipis, Daripada Pelanggan Kabur, Kenaikan Harga Dampak Perang
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Perang di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, berdampak pada kenaikan harga. Para pedagang kecil semakin tercekik, sebab keuntungan kian tipis namun tak memungkinkan menaikkan harga.
Seperti yang dialami Han, pedagang gorengan di jalan Ahmad Yani, Singaraja. Dikatakan dia, sejak dua pekan terakhir harga kantong plastik alias tas kresek mengalami peningkatan hingga 100 persen lebih.
"Sebelumnya harga tas kresek masih Rp2 ribu per pack, sejak dua mingguan itu harganya naik jadi Rp5 ribu per pack. Itu untuk yang tebal. Sedangkan yang kualitasnya tipis harganya sudah Rp4 ribu per pack," sebutnya, Senin (20/4/2026).
Baca juga: Kasus Dugaan Perzinahan Konten Kreator di Klungkung, Terlapor Akan Divisum
Selain kantong plastik, kertas minyak juga mengalami kenaikan harga. Dari awalnya Rp23 ribu per pack, kini harganya Rp28 ribu per pack. "Itu juga naik sejak dua minggu belakangan," imbuhnya.
Selain kantong plastik dan kertas minyak, berbagai kebutuhan lainnya juga ikut mengalami kenaikan. Sebut saja minyak goreng. Bagi para penjual gorengan, ini merupakan kebutuhan pokok.
Baca juga: Cacahan Sampah Organik dari Denpasar Terus Dikirim ke Klungkung, Sudah Mencapai 556 Ton
Seperti dikatakan bu Arza. Harga minyak goreng terus mengalami kenaikan sejak beberapa pekan. Terakhir, ia membeli minyak goreng senilai Rp228 ribu per dus, isi kemasan 2 liter. Kini, harganya sudah mencapai Rp250 ribu hingga Rp260 ribu per dus. "Itupun untuk merk yang paling murah," ucapnya.
Selain harganya terus mengalami kenaikan, Arza juga mengeluhkan ketersediaan barang yang tidak selalu ada. "Jangankan di pasar. Di toko grosir besar saja sering kosong barangnya. Makanya saat ada barang, walaupun harganya naik saya tetap beli," ujarnya.
Sayangnya, kenaikan harga kebutuhan tidak bisa dibarengi dengan kenaikan barang dagangan. Baik Han maupun bu Arza sama-sama tidak berani menaikkan harga, karena khawatir kehilangan pelanggan. Keduanya juga berharap Perang di Timur Tengah bisa segera berakhir, agar harga kebutuhan kembali normal.
"Terpaksa tidak naikkan harga, karena khawatir pelanggan kabur. Walaupun untung tipis yang penting bisa tetap jalan," tandasnya. (mer)
| KONI Buleleng Bali Siapkan Sponsorship Untuk Atlet, Akui Anggaran Terbatas |
|
|---|
| Persoalan Pembebasan Lahan Shortcut Pegayaman Bali, Warga Cari Jalan Komunikasi ke Gubernur |
|
|---|
| ASTAGA Baru Awal 2026 Sudah 11 Kasus Kekerasan Sek5ual di Buleleng, Polisi: Korban Jangan Ragu Lapor |
|
|---|
| Solusi Tekan Over Kapasitas, Pemkab Buleleng Siapkan SMPN 7 Tejakula Bali |
|
|---|
| Genjot Kemandirian Pangan, Pemkab Buleleng Salurkan Traktor ke Subak dan Bangun Irigasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Pedagang-gorengan-di-jalan-Ahmad-Yani-Singaraja.jpg)