Berita Denpasar
Ribuan Umat Hindu Gelar Persembahyangan Saraswati di Pura Jagatnatha Denpasar
Merayakan hari raya Saraswati pada Sabtu, 6 September 2025, ribuan umat hindu melaksanakan persembahyangan di Pura Jagatnatha Denpasar.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Merayakan hari raya Saraswati pada Sabtu, 6 September 2025, ribuan umat hindu melaksanakan persembahyangan di Pura Jagatnatha Denpasar.
Pamedek membawa sarana persembahyangan, baik canang, maupun banten dan telah berbondong-bondong sejak pagi.
Mereka juga terlihat antre dengan tertib untuk bisa masuk ke dalam pura dan bergiliran dan dijaga pecalang di pintu masuk pura.
Baca juga: Ketiduran Saat Video Call dengan Pacar, Handphone Pemuda di Denpasar Digasak Kawannya Sendiri
Suasana kusyuk juga terlihat dalam persembahyangan ini dengan bau harum dupa memenuhi halaman pura.
Salah seorang pemedek, Nyoman Yogi Kusuma datang bersembahyang ke Pura Jagatnatha dengan rekan kerjanya.
Ia yang berasal dari Karangasem ini tak bisa pulang kampung karena harus bekerja.
"Hari ini tidak dapat libur. Sebelum kerja saya dan teman bersembahyang dulu," akunya.
Baca juga: BERKAS Administrasi Kurang, GA dan WA Cabut Gugatan di PTUN Denpasar
Selain itu, beberapa siswa sekolah juga bersembahyang ke pura ini.
Salah satunya adalah Komang Fajar yang bersembahyang usai bersembahyang di sekolahnya.
"Setelah di sekolah langsung ke sini sembahyang dengan teman-teman," kata siswa SMKN 3 Denpasar ini.
Terkait pelaksanaan Hari Raya Saraswati termuat dalam Lontar Sundarigama.
Baca juga: DIBONGKAR Polda Bali! 21 Orang di Pelabuhan Benoa Denpasar Hanya Diberi Makan 2 Sendok Mie
Menurut Dosen Unud, Putu Eka Guna Yasa, Lontar Sundarigama ini merupakan pedoman pelaksanaan upacara di Bali baik berdasarkan sasih maupun wuku.
Dalam Lontar Sundarigama disebutkan jika pada Saniscara Umanis, merupakan hari pemujaan untuk Dewi Saraswati.
Dalam pemujaan ini, upakaranya yaitu suci, peras, daksina palinggih, kembang payas, kembang cana dan kembang biasa, sesayut saraswati, prangkatan atau rantasan putih kuning, serta buah-buahan beserta runtutannya.
Baca juga: Kanwil Kemenkum Bali Gelar Sidang Pewarganegaraan, WNA Italia Diuji Komitmen Kebangsaan Denpasar
Sang Hyang pustaka atau ontar-lontar keagamaan, tempat menuliskan aksara ditata dengan sebaik-baiknya, dipuja, dan diupacarai dengan puspa wangi.
Hal inilah yang disebut memuja Sang Hyang Bayu yaitu gerak, kata-kata dan pikiran.
Dalam melakukan pemujaan dengan banten tidak wajar menulis surat, tak wajar membaca buku-buku weda, dan kidung kekawin, dan yang wajar yaitu melakukan yoga.
Sehingga saat perayaan Saraswati ini hendaknya melakukan yoga samadhi, dengan memusatkan bayu, sabda, idep.
Juga memaknai hakikat atau intisari dari pengetahuan itu sendiri. (*)
Berita lainnya di Berita Denpasar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Persembahyangan-Saraswati-di-Pura-Agung-Jagatnatha-Denpasar-478.jpg)