Nyepi Di Bali
TRADISI Metagel Api di Desa Lantangidung Saat Ngerupuk, Krama Tak Buat Ogoh-ogoh, Tradisi Perang Api
Sujana menjelaskan, makna utama tradisi metagel api sendiri tidak lepas dari filosofi pengerupukan, yakni menetralisir bhuta kala.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Masyarakat di Desa Adat Lantangidung tidak merayakan Pengerupukan dengan arakan ogoh-ogoh. Mereka lebih mempertahankan tradisi leluhur berupa “Metagel Api”.
Di saat banjar-banjar lainnya di Bali berlomba-lomba membuat ogoh-ogoh untuk diarak saat Hari Pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Berbeda dengan masyarakat di Desa Adat Lantangidung di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.
Masyarakat di sana tidak merayakan Pengerupukan dengan arakan ogoh-ogoh. Namun lebih mempertahankan tradisi leluhur berupa “Metagel Api” atau perang api menggunakan sabut kelapa yang dibakar.
Metagel Api digelar pada malam Pengerupukan, setelah warga melaksanakan Ngerupuk di rumah masing-masing.
Baca juga: KOSTER Sebut Kunjungan Wisatawan ke Bali Meningkat 8 Persen, Simak Penjelasannya
Baca juga: KORUPSI di Bali, Kerugian Capai Ratusan Juta, Dua Kurir Ekspedisi di Nusa Penida Gelapkan Uang COD
Sebelum perang api dimulai, warga terlebih dahulu berkumpul di balai banjar, melakukan persembahyangan di Pura Buda Kliwon. Saat langit memasuki sandyakala, warga pun memulai tradisi perang api tersebut.
Perang dilakukan antarwarga. Meskipun tubuh terkena serabut kepala yang terbakar api. Namun tidak ada dendam usai perang.
Sebab, setiap api yang mengenai tubuh, dipercaya dapat membersihkan diri manusia dari hal-hal negatif. Karena itu, semakin sering mereka kena lemparan, semakin baik.
Bendesa Adat Lantangidung, I Wayan Sujana, Jumat (13/3) mengatakan, selama ini krama di desa adatnya memang tidak pernah membuat ogoh-ogoh.
Hal tersebut karena, jauh sebelum ada tradisi ogoh-ogoh, Krama Adat Lantangidung telah diwarisi tradisi metagel api.
“Sejak dulu memang tidak ada ogoh-ogoh di sini. Mungkin para tetua memiliki pemuwus atau pertimbangan tersendiri. Kami hanya melanjutkan apa yang sudah diwariskan,” ujar Sujana, pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) itu.
Ia menjelaskan, tradisi metagel api digelar pada malam pengerupukan setelah krama melaksanakan Ngerupuk di rumah masing-masing.
“Sekitar pukul 19.00 Wita, warga berkumpul di balai banjar. Sebelum permainan dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu melakukan persembahyangan di Pura Buda Kliwon,” jelasnya.
Setelah itu, para pemuda dan pemudi membawa obor atau oncor untuk mengiringi pemangku. Jro Mangku berjalan di depan sambil memerciki tirta dan menaburkan nasi tawur.
Dari sana, barulah sambuk yang telah dibakar mulai dilemparkan dan tradisi metagel api dimulai. “Saat metagel api, suasana sangat magis, karena gelap, hanya ada penerangan dari serabut kelapa yang terbakar,” ujarnya.
Dalam mengantisipasi hal yang tak diinginkan, tradisi ini pun memiliki aturan ketat. Yakni, serabut yang boleh digunakan dalam perang, hanya yang telah terbakar.
| Pawai Ogoh-ogoh Malam Pangerupukan di Denpasar Tanpa Sound System |
|
|---|
| Mapepada Wewalungan di Catus Pata Klungkung, Sucikan Sarana Tawur Agung |
|
|---|
| 373 Ogoh-ogoh Akan Diarak di Denpasar Saat Malam Pengerupukan, Batas Waktu Pukul 24.00 Wita |
|
|---|
| Iringan Melasti di Tengah Macet Panjang Arus Mudik, Warga Adat Gilimanuk Melasti Menuju Pantai |
|
|---|
| BAWA Pulang Rp50 Juta, Ogoh-ogoh Wit Kawit Juara I Kasanga Festival di Denpasar, Begini Alasannya! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sejumlah-pemuda-mengikuti-tradisi-tradisi-Metagel-Api-di-Desa-Adat-Lantangidung-wgv.jpg)