Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sejak Kapan Sebenarnya Makanan Siap Saji Berubah Jadi Junk Food?

Fast food sudah ada jauh sebelum makanan nirnutrisi. Lalu, kapan sebenarnya makanan siap saji sering disamakan dengan junk food?

Tayang:
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Banyak orang sulit membedakan term fast food dengan junk food.

Kebanyakan orang ketika mendengar dua istilah tersebut langsung membayangkan hamburger, kentang goreng, dan sebagainya.

Padahal keduanya punya pengertian yang berbeda.

Makanan siap saji punya pengertian sebagai makanan yang bisa dimasak dan/atau dimakan segera setelah kita membelinya.

Sedangkan junk food atau makanan nirnutrisi merupakan makanan yang memiliki nutrisi relatif rendah dan tidak sehat.

Meski begitu, kebanyakan makanan siap saji yang kita kenal juga masuk dalam term junk food.

Sebaliknya juga, fast food tidak selalu nirnutrisi.

Baca: Malam Mingguan di Creative Food Truck Pasar Badung, Tukarkan Botol Plastik dengan Hadiah Menarik

Baca: 3 Food Blogger Indonesia Ikuti Adu Pedas Challenge, Makan Mi dengan 500 Cabai di UFF 2019

Dengan kata lain, perbedaannya terletak pada kandungan nutrisi suatu makanan yang akan kita santap.

Di luar itu, fast food sudah ada jauh sebelum makanan nirnutrisi. Lalu, kapan sebenarnya makanan siap saji sering disamakan dengan junk food?

Jauh sebelum diidentikan dengan hamburger, kentang goreng, ayam goreng dan sebagainya; orang Roma kuno telah mengenal makanan siap saji.

Seperti saat ini, pada masa Romawi Kuno, kebanyakan orang mulai tinggal di perkotaan.

Mereka tinggal di gedung-gedung bertingkat yang sebagian besar tidak mempunyai tempat untuk memasak.

Melihat kesempatan ini, para pedagang kaki lima dan restoran mulai menjual makanan yang bisa segera dimakan setelah membelinya.

Mereka menjual roti yang direndam dalam anggur, sayuran yang sudah dimasak, dan semur.

Ini menjadi tonggak sejarah lahirnya makanan siap saji, di mana terjadi perubahan sosial orang tidak lagi memasak sendiri makanannya.

Baca: Warung Losin Tawarkan Berbagai Sajian Menu Seafood, dengan Bumbu Khas Bali dan Nasi Merah

Baca: BBPOM Denpasar Cek Hidangan Buka Puasa di Klungkung,Witariathi Imbau Waspadai Warna Makanan Ngejreng

Pada abad pertengahan, fast food makin berkembang di Eropa.

Orang mulai terbiasa untuk tidak menyiapkan makanan mereka sendiri.

Kehidupan kota-kota seperti Paris atau London yang sibuk, membuat makanan siap saji tumbuh subur.

Apalagi, wisata ziarah ke situs suci makin berkembang pada masa tersebut.

Turis yang datang silih berganti membuat kebutuhan makanan yang bisa segera disantap makin meningkat.

Meski begitu, pada masa tersebut term mengenai makanan nirnutrisi belum banyak terdengar.

Junk food sendiri mulai dikenal pada abad ke-19, ketika restoran siap saji mulai banyak bermunculan.

Era Junk Food Andrew F Smith, seorang sejarawan makanan, mencatat bahwa era perubahan dari fast food menjadi junk food dimulai pada 1820-an.

Baca: 7 Makanan dan Bahan Alami Ini Bisa Bantu Kurangi Peradangan yang Mengganggu

Baca: Mengonsumsi Terlalu Banyak Makanan Manis Ternyata Penyebab Timbulnya Jerawat, lho!

Tahun-tahun itu, perkembangan teknologi dan inovasi membuat tepung putih (atau dikenal sebagai tepung gandum) murah bagi masyarakat.

Bahan inilah yang membuat fondasi roti burger, kue, dan camilan lain menjadi rendah serat tapi tinggi karbohidrat.

Dengan kandungan nutrisi tidak seimbang inilah yang menandai kelahiran junk food.

Hal ini diperburuk dengan Perang Sipil America pada 1860-an. Selama perang, para prajurit terbiasa makan dari kaleng dan toples jatah diproduksi secara massal.

Ketika kembali ke rumah setelah perang, mereka mendambakan makanan yang bisa menggugah selera.

Masalahnya, industrialisasi membuat pertanian makin jauh dari kehidupan masyarakat Amerika.

Salah satu jalan keluarnya adalah mendapatkan makanan cepat saji.

Pada 1896, Max Sielaff di Berlin menemukan mesin "automats" atau mesin penjual otomatis yang menyediakan makanan dan minuman sederhana.

Baca: Makanan Organik Jadi Trend Kesehatan, Perlu Perubahan Mindset, Ini Kata Wagub Bali

Baca: Dari Buah hingga Ikan, Ini Jenis Makanan Sehat yang Wajib Dikonsumsi saat Buka Puasa

Kemunculan mesin ini segera mendapatkan tempat di masyarakat dunia.

Mesin penjual otomatis ini membuat makanan siap saji makan digandrungi, meskipun kandungan gizinya kadang tidak seimbang.

Tahun 1916, salah satu restoran makanan nirnutrisi pertama dibuat, yaitu gerai hot dog di New York.

Lima tahu kemudian, restoran hamburger pertama di dunia dibuka di Kansas dengan nama White Castle.

Masih pada medio 1920-an, layanan tanpa turun atau "drive-thru" pertama kali dibuat.

Restoran yang menggunakan metode penjualan ini adalah A&W, yang sebelumnya adalah toko Root Beer.

Saat itu, drive-thru tidak seperti sekarang yang memiliki jendela untuk memesan.

Pada masa tersebut, pelayan akan mengantarkan makanan yang dipesan pada pelanggan yang menunggu di mobil.

Meski terkesan tidak praktis, praktik ini menjadi sangat populer dan menyebar ke seluruh negeri.

Jendela untuk drive-thru baru muncul pada 1948. Penggagasnya adalah kakak beradik Richard dan Maurice McDonald.

Mereka menciptakan jalur khusus untuk memesan hamburger dan kentang goreng di restoran mereka, McDonald.

Selanjutnya, berbagai jenis makanan siap saji yang nirnutrisi mulai bermunculan. Sebut saja ayam goreng yang dibuat oleh Harlan Sanders hingga bisnis donat dan kopi.

Baca: 10 Jenis Makanan Ini Mengandung Alkali yang Ampuh Meluruhkan Lemak Tubuh

Baca: Akibat Perubahan Iklim, Peneliti Prediksi 10 Jenis Makanan Ini Bakal Langka di Masa Depan

Hebatnya, kebanyakan makanan nirnutrisi itu diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah karena junk food selalu berhasil menggugah selera.

Meski berhasil menciptakan berbagai jenis makanan nirnutrisi, istilah junk food sendiri baru muncul pada 1972. Istilah ini diambil dari lagu "Junk Food Junkie" milik Larry Groce.

"Kecanduan" Junk Food

Menyandang kata junk food tidak lantas membuat makanan nirnutrisi itu ditinggalkan.

Bahkan, makanan ini juga mulai disebut dengan happy meal. Tidak berlebihan jika menyebut junk food sebagai makanan yang membuat bahagia.

Itu bukanlah sebuah kebetulan. Makanan nirnutrisi itu telah direkayasa dengan cermat oleh para ilmuwan dan produsen untuk mencapai "sweet spot".

Baca: Tingkatkan Hormon Bahagia dengan Mengonsumsi 5 Jenis Makanan Ini, Cokelat dan Susu?

Hal inilah yang membuat kita kecanduan. Rasa tersebut membuat kita menginginkan lebih banyak dan lebih banyak lagi makan junk food.

Ini juga menjadi ciri khas makanan nirnutrisi, rasanya begitu akrab dan membuat kita berselera.

Kebiasaan makan manusia menjadi berubah dengan hal ini. Jika pada ratusan tahun lalu manusia selalu menyiapkan makananya sendiri, kini kebanyakan dari kita lebih memilih untuk menyantap fast food bahkan junk food.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penemuan yang Mengubah Dunia: Makanan Siap Saji, Kapan Jadi "Junk Food"?"
Penulis : Resa Eka Ayu Sartika

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved