Kronologi Gede Rai Meninggal Digigit Anjing Rabies, Firasat Aneh Sang Ibu: Minta Sembahyang Bersama

Suasana duka yang mendalam masih dirasakan Anak Agung Gede Ngurah Yasa (56) dan istrinya Anak Agung Istri Anom Putri Asih

Kronologi Gede Rai Meninggal Digigit Anjing Rabies, Firasat Aneh Sang Ibu: Minta Sembahyang Bersama
Tribun Bali/Eka Mita Suputra/Istimewa
AA Ngurah Yasa, ayah dari korban rabies AA Gede Rai, mendengar penjelasan petugas Keswan Dinas Pertanian Klungkung di rumahnya Banjar Peninjoan, Desa Paksebali, Klungkung, Senin (20/5/2019). Inzet: Korban AA Gede Rai Karyawan semasa hidup. 

Gede Rai merupakan korban meninggal rabies pertama, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Korban meninggal dunia karena rabies di Klungkung terakhir terjadi tahun 2016, yaitu Anak Agung Gede Yoga, bocah usia 9 tahun asal Dusun Koripan Tengah, Banjarangkan.

Ramai-ramai Minta VAR

Setelah Gede Rai meninggal karena positif rabies, rekan dan kerabatnya ramai-ramai mencari VAR ke Puskesmas Dawan II, kemarin.

Meskipun tidak digigit anjing, mereka khawatir terjangkit rabies dari air liur Gede Rai.

Sebelum meninggal, mereka sering kali pesta miras (tuak) dengan Gede Rai, dan menggunakan satu gelas secara bergiliran.

"Rabies memang ditularkan dari air liur. Mengurangi resiko itu, warga yang sempat pesta tuak dengan pasien kami berikan VAR," ujar dr Made Swapatni.

Tidak hanya kepada rekan-rekannya, VAR juga diberikan kepada petugas medis dan kerabat yang sempat terpapar muntahan dari Gede Rai saat menjalani perawatan.

"Setidaknya ada sekitar 25 orang yang kita berikan VAR terkait kasus ini," tambahnya.

Sementara Kadiskes juga memastikan, stok VAR di Klungkung saat ini masih aman.

Selain stok VAR sebanyak 200 vial, Diskes Klungkung juga sudah melakukan pengadaan VAR tahun ini sebanyak sekitar 1.700 vial dan bantuan dari Pemprov Bali sekitar 2.000 vial VAR.

Mengantisipasi penyebaran ini, tim Diskes dan Bidang Keswan (Kesehatan Hewan) dari Dinas Pertanian Klungkung dan Provinsi Bali telah turun ke Desa Paksebali untuk melakukan penyelidikan epidemiologi guna memutus penularan rabies.

Selain meminta keterangan keluarga pasien terkait riwayat gigitan HPR (Hewan Penular Rabies), petugas Keswan juga melakukan eliminasi terhadap anjing-anjing liar di sekitar Paksebali untuk mencegah penularan semakin meluas.

Pada tahun 2019 ini, Desa Paksebali sudah masuk zona merah rabies.

Sebelumnya sudah ada beberapa wilayah yang menjadi zona rabies di Klungkung, yakni Desa Sulang, Sampalan Kelod, Sampalan Tengah, Gunaksa, dan Desa Dawan Kelod di Kecamatan Dawan. Serta Desa Akah, Kelurahan Semarapura Kelod, Kelurahan Semarapura Kelod Kangin di Kecamatan Klungkung.

Sesuai data yang dihimpun, pada tahun 2018 angka gigitan rabies di Klungkung sebanyak 11 kasus. Dan hingga April tahun 2019 ini, telah terjadi tiga kasus gigitan anjing positif rabies di Klungkung dengan satu korban meninggal dunia.

5 Anjing Belum Divaksin

Terpisah, Kabid Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Viteriner dan Pengolahan Pemasaran, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, drh Ni Made Sukerni, menyebut korban Gede Rai sudah digigit anjing sejak Januari lalu.

Saat itu korban tidak diberikan vaksin usai digigit.

“Dia tidak mau datang ke Puskesmas. Rata-rata yang meninggal seperti itu. Padahal sudah diingatkan sama kelian-nya,” kata Sukerni saat dihubungi melalui sambungan seluler, Senin (20/5).

Ketika itu juga belum dilakukan vaksinasi massal di Bali. Vaksinasi dilakukan Maret hingga April 2019.

“Kejadiannya kan bulan Januari. Kita belum melaksanakan vaksinasi saat itu, mulainya baru Maret,” ujarnya.

Adapun estimasi populasi anjing di Banjar Peninjoan, Desa Paksebali, adalah 67 ekor.

“Hasil vaksinasi 68 ekor, yang tidak dapat ditangkap 5 ekor. Artinya anjing di sana sudah bertambah,” ungkap Sukerni.

Sebelumnya Kementerian Pertanian RI telah menggelontorkan dana Rp 18 miliar di tahun 2019 ini untuk menangani rabies di Bali.

Ditambah Rp 5 miliar dari APBD Provinsi Bali. Kucuran dana ini untuk vaksinasi massal di daerah yang masuk zona merah rabies.

Namun hingga kini kasus gigitan HPR masih terus terjadi di Bali, terutama di daerah-daerah yang tergolong zona merah. Bahkan yang terbaru menyebabkan korban meninggal dunia di Klungkung. (mit/wem)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved