Ogoh-Ogoh Sang Hyang Penyalin Banjar Dangin Peken Denpasar Simbol Kesuburan dan Penolak Bala
Ogoh-ogoh Sang Hyang Penyalin ini, seluruh badannya menggunakan penyalin atau rotan yang dianyam sedemikian rupa sehingga terlihat alami dan kreatif.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna Dhananjaya, Banjar Dangin Peken, Desa Sanur Kauh, Denpasar, Bali sungguh unik dan kreatif.
Ogoh-ogoh Sang Hyang Penyalin ini, seluruh badannya menggunakan penyalin atau rotan yang dianyam sedemikian rupa sehingga terlihat alami dan kreatif.
Ogoh-ogoh tersebut merupakan perwujudan Bhanaspati Raja dengan satu kaki menyentuh tanah dan satu lainnya mengambang dan di bagian belakang terdapat ekor.
Rotan tak diberi warna.
Warna alaminya dipertahankan.
• Kronologi Baku Tembak TNI-Polri yang Tewaskan 4 Anggota KKSB Papua, Sita Senjata AR-15 & AK-47
• Kisah 3 Pasien Virus Corona di Indonesia Sembuh, Menangis dan Beri Pesan Mendalam untuk Tidak Panik
• Kadek Diana Sesalkan Tak Ada Ruang Klarifikasi Soal Dugaan Selingkuh, Koster: Gak Usah Klarifikasi!
Untuk tapel ogoh-ogoh menggunakan kertas koran dan tanah liat, sedangkan ornamen atau hiasan menggunakan kelopak batang pisang serta kelopak bambu.
Cengkeraman kaki bagian bawah terlihat sangat kuat. Begitu pula gambaran otot kaki dari tumpukan rotan yang tampak kekar.
Arsitek ogoh-ogoh ini, I Wayan 'Apel' Hendrawan mengatakan Sang Hyang Penyalin merupakan tradisi sakral dari Desa Bugbug, Karangasem.
Dikenal sebagai tarian pengundang hujan dan simbol kesuburan.
Rotan yang ujungnya berisi gangsing dan janur itu seolah hidup mengikuti alunan lagu, meliuk-liuk.
• Terkait Corona, Gubernur Koster Sebut 2 Alasan Bali Tidak Perlu Lockdown
• TERKINI: Pasien Virus Corona di Indonesia Jadi 134 Orang, Ini Data Lengkapnya
• Pegawai Pemerintahan dan Pelajar di Bali Beraktivitas dari Rumah untuk Cegah Corona
Seperti yang termuat dalam Lontar Anda Kakacar yang terdapat di Desa Pakraman Bugbug, disebutkan bahwa tarian Sang Hyang Penyalin merupakan pangeruat mala, penolak bahaya (wabah) atau gerubug.
Pada saat berjangkitnya wabah kacacar, tidak diperkenankan melaksanakan upacara keagamaan memuja para Dewa menggunakan "weda" di pura-pura sampai wuku Dungulan (Galungan).
Maka pada saat inilah dipentaskan tari Sang Hyang menggunakan lantunan kidung kidung suci.
Tujuannya menghadirkan roh-roh suci atau mahluk-mahluk astral kesayangan para Dewa dan Sanghyang Catur Pat yang disebut Nyama Catur (Angggpati, Merajapati, Banaspati, Banaspati Raja) untuk memberikan pangaruwatan agar masyarakat terbebas dari segala bentuk bahaya ataupun wabah penyakit.
Menurutnya, ide pembuatan ogoh-ogoh dengan rotan ini bermula dari adanya sisa rotan yang digunakan untuk membuat instalasi.
• Cegah Covid-19, Bupati Giri Prasta Terbitkan SE Larang Perjalanan Dinas dan Minta Bekerja dari Rumah
• Terkait Pelaksanaan Melasti dan Pengarakan Ogoh-Ogoh Nyepi Saka 1942, Ini Imbauan PHDI Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/warga-memotret-ogoh-ogoh-sang-hyang-penyalin-di-banjar-dangin-peken-sanur.jpg)