Breaking News:

Yakeba Gelar FGD Bahas Program Harm Reduction di Bali dalam Buku ‘Mencegah Korban Berjatuhan’

Dalam FGD tersebut membahas tentang peluncuran buku laporan pelaksanaan program Harm Reduction di Bali berjudul ‘Mencegah Korban Berjatuhan’

Penulis: Noviana Windri
Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Noviana Windri
YAKEBA menggelar Focus Grup Discussion (FGD) melalui media virtual membahas tentang peluncuran buku laporan pelaksanaan program Harm Reduction di Bali berjudul ‘Mencegah Korban Berjatuhan’, Jumat (24/4/2020) sore. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Yayasan Kesehatan Bali (YAKEBA) menggelar Focus Grup Discussion (FGD) melalui media virtual, Jumat (24/4/2020) sore.

Dalam FGD tersebut membahas tentang peluncuran buku laporan pelaksanaan program Harm Reduction di Bali berjudul ‘Mencegah Korban Berjatuhan’.

Harm reduction merupakan bentuk upaya pengurangan dampak buruk penggunaan narkoba suntik di kalangan pengguna Napza suntik (penasun).

"Kami susun karena belum ada buku atau laporan yang membahas detail tentang harm reduction. Karena kasus pertama HIV di Indonesia ditemukan di Bali pada tahun 1987. Situasi ini juga sama dengan situasi pendemi covid-19 saat ini. Dimana korban meninggal pertama kali juga ditemukan di Bali," jelas Anton Muhajir, penulis buku 'Mencegah Korban Berjatuhan' selama FGD berlangsung.

Rumah dan 4 Unit Motor Ludes Terbakar, Sudarwan Merugi Ratusan Juta

Rombongan DPRD Bali Kunjungan Kerja ke Buleleng, Cek Penanganan Covid-19 di Kecamatan Banjar

Koster Pastikan Ruang Isolasi untuk Pasien Positif Covid-19 di Bali Mencukupi

Lebih lanjut, Anton Muhajir menjelaskan bahwa peran aktif para aktor seperti lembaga legislatif, pemerintah daerah, lembaga donor, akademisi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan kelompok dukungan sebaya penasun membuat program harm reduction berjalan dengan baik di Bali, terutama pada kurun waktu 2003-2013.

Hasilnya terlihat pada penurunan prevalensi HIV di kalangan penasun, perubahan kualitas hidup penasun dan klien rumatan methadone, hingga masuknya isu harm reduction dalam kebijakan di tingkat nasional maupun daerah.

Namun, keberhasilan tersebut juga memiliki dua sisi.

Di satu sisi dia berhasil menekan penularan HIV di kalangan penasun, tetapi di sisi lain juga menjadi alasan lembaga donor untuk menghentikan program di Bali sejak 2013.

Begitu lembaga donor selesai, program harm reduction langsung mati suri.

“Untuk itu perlu adanya kajian terkait program pengurangan dampak buruk di Bali, terutama di wilayah Denpasar dan Badung. Karena wilayah tersebut merupakan pusat ekonomi politik di Bali.” sambungnya.

Buku ‘Mencegah Korban Berjatuhan’ nantinya akan dicetak terbatas yaitu tahap awal sebanyak 100 exemplar.

Tujuan peluncuran buku adalah mendokumentasikan pelaksanaan program pengurangan dampak buruk di Bali dari prespektif penaggulangan HIV AIDS, menyampaikan pencapaian dan keberhasilan program penanggulangan dampak buruk di Bali, memberikan pembelajaran setelah berjalannya program pengurangan dampak buruk di Bali, dan menjadi referensi terkait HIV AIDS secara umum khususnya pengurangan dampak buruk ke depannya.

“Harapannya agar bisa jadi catatan pelaksanaan program pengurangan dampak buruk di Indonesia, khususnya Bali. Juga pembelajaran tentang penanggulangan HIV AIDS di Bali. Terutama di kalangan pengguna narkoba suntik,” pungkasnya.

Turut bergabung dalam FGD tersebut diantaranya yaitu KPA Provinsi Bali, Dinkes Kota Denpasar, Klinik PTRM Sandat RSUP Sanglah, UPT Puskesmas Denpasar Barat II, UPTD Puskesmas Kuta I, Yayasan Kerti Praja (YKP), Yayasan Gaya Dewata (YGD), Yayasan Kesehatan Bali (YAKEBA), Petugas Lapangan HR (YGD), dan lainnya.(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved