Corona di Bali

Kuasa Hukum Minta Penerbitan SP3 Kasus Ngaben Sudaji

Pada Selasa (25/5/2020), kuasa hukumnya terpantau mendatangi Mapolres Buleleng, untuk memohon kepada Kapolres Buleleng, agar segera menerbitkan SP3

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Kuasa Hukum Gede S, bersama Waketum DPP Persadha Nusantara Gede Suardana saat mendatangi Mapolres Buleleng, untuk menyampaikan permohonan penerbitan SP3 atas kasus pengabenan Desa Sudaji, Selasa (26/5/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Upaya untuk mencabut status Gede S sebagai tersangka atas kasus pengabenan di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, terus dilakukan.

Pada Selasa (25/5/2020), kuasa hukumnya terpantau mendatangi Mapolres Buleleng, untuk memohon kepada Kapolres Buleleng, agar segera menerbitkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan).

Kepada Tribun Bali, kuasa hukum tersangka Gede S, I Nyoman Agung Sariawan mengatakan, permohonan penerbitan SP3 ini dilakukan lantaran pihaknya menilai, prosesi Ngaben Sudaji dilaksanakan saat Bali khususnya Buleleng tidak dalam status PSBB atau Karantina Wilayah.

Pun saat hendak melakukan upacara Ngaben, pihak penyelenggara sudah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, seperti Gugus Tugas Covid-19 Provinsi, Camat Sawan, Babinsa dan Babinkamtibmas.

Organisasi Kesehatan Dunia Ingatkan Negara-negara yang Alami Penurunan Covid-19 Soal Puncak Kedua

Ini Alasan Kuasa Hukum Minta Penerbitan SP3 ke Penyidik Atas Kasus Ngaben Sudaji Buleleng

Baru Pulang Bulan Februari Lalu, PMI asal Desa Kamasan Ini Kini Ditangkap Pakai Narkoba

"Mendagri juga menyampaikan bagi yang melanggar PSBB, hukum yang diberikan hanyalah hukum sosial berupa push-up. Sementara pakar hukum tata negara, Prof Yusril Ihza Mahendra menyatakan dalam pelaksanaan PSBB tidak bisa dipidana. Tersangka juga sudah minta maaf," terang Sariawan.

Berdasarkan alasan itu, Sariawan berharap agar Kapolres Buleleng bisa segera mengeluarkan surat SP3.

Namun bila saja Kapolres Buleleng tidak segera menerbitkan SP3, maka Sariawan mengaku pihaknya akan mencoba melaporkan kasus ini ke Komnas HAM.

Sementara Waketum DPP Persadha Nusantara Gede Suardana yang turut hadir di Mapolres Buleleng mengatakan jika tersangka Gede S hingga saat ini masih tetap patuh menjalani wajib lapor, setiap Senin dan Kamis.

BREAKING NEWS: Ada Patung Nyi Roro Kidul di Pantai Water Blow, 2 Oknum Ini yang Diduga Menaruhnya

Masih Peralihan Musim, BMKG Prakirakan Hujan Turun di Wilayah Bali Barat dan Tengah

Kondisi kesehatan dan psikilogisnya juga saat ini sudah berangsur membaik.

"Dia (Gede S,red) memang sempat terpuruk. Karena upacara Nagben yang dihaturkan untuk leluhurnya tiba-tiba ditetapkan sebagai tersangka. Tidak ada pihak yang ikut mengayomi dan men-support seperti PHDI atau MDA."

"Makanya kami turun membantu dia. Sekarang psikologis Gede S berserta keluarganya saat ini sudah membaik, tenang, dan tabah menghadapi persoalan ini," jelasnya.

Terpisah, Kasubag Humas Polres Buleleng, Iptu Sumarjaya mengatakan, permohonan penerbitan SP3 ini akan dipelajari terlebih dahulu oleh pihaknya, untuk menentukan langkah apa selanjutnya yang akan diambil oleh Polres Buleleng. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved