Kisah 3 Bersaudara yang Hidup dalam Keterbatasan di Rumah Bedeng, Ayah Meninggal & Ibunya Pergi

Sang ayah meninggal dunia sekitar 9 bulan yang lalu akibat sakit serangan jantung dan ibunya sekitar 4 hari yang lalu pergi meninggalkan mereka

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Tiga anak yang tinggal bersama kakek dan nenek dengan kondisi memprihatinkan tanpa sosok ayah dan ibu di sebuah rumah bedeng di Jalan Patih Nambi, Perumahan Telkom Banjar Tulang Ampiang, Ubung Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali, Selasa (9/6/2020). 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tak seberuntung kawan-kawan seusianya, tiga bersaudara Gede Suardika (9), Kadek Sugiadnyana (6,5) dan Komang Budisuari (6 bulan) kini harus melanjutkan hidup tanpa belaian kasih sayang kedua orang tuanya.

Sang ayah meninggal dunia sekitar 9 bulan yang lalu akibat sakit serangan jantung dan ibunya sekitar 4 hari yang lalu pergi meninggalkan mereka bertiga tanpa sebab yang pasti.

Diduga sang ibu memilih pergi pulang ke kampung halaman karena didera himpitan ekonomi tidak lagi mampu menghidupi anak-anaknya sepeninggal sang suami.

Kini ketiga anak itu hidup diasuh oleh sang kakek Pekak Ketut Parta (70) dan nenek Luh Ngebek (66) yang sudah berusia renta serta seorang paman Ketut Artawa (31) yang tulus memberikan kasih sayangnya.

BREAKING NEWS: Dua PMI di Karangasem Dinyatakan Positif Covid-19

BKKBN Hitung Potensi Kehamilan pada Masa Pandemi Covid-19 Hingga 500.000 Kasus

Ini Bahaya Begadang bagi Kesehatan, Ikuti Cara Berikut untuk Mengatasinya

Meskipun, kakek dan nenek sendiri hidup dengan penuh kesederhanaan dan keterbatasan di rumah bedeng berukuran sekitar satu are di Jalan Patih Nambi, Perumahan Telkom Banjar Tulang Ampiang, Ubung Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali.

Di rumah beratapkan triplek itu kondisinya sangat memprihatinkan, terlihat lubang-lubang menganga di sejumlah titik dindingnya, lantainya pun hanya beralaskan tanah dan mereka harus tidur bersama di satu kasur dalam satu kamar yang kondisinya tak layak, sempit dan pengap tak terbayang jika hujan deras mengguyur, sedangkan kakek-nenek di satu kamar sebelahnya dengan kondisi yang serupa.

Untuk tinggal di sana pun mereka menyewa lahan kepada pemilik seluas 3,5 are dengan bangunan rumah bedeng sekitar 1 are, per tahunnya disewa dengan harga satu juta rupiah.

Dengan segala keterbatasan mereka berjuang bertahan hidup, apalagi kebutuhan pendidikan dan keberlanjutan kehidupan 3 anak tersebut kedepan tidaklah sedikit.

Keluarga ini sejatinya berasal dari Banjar Singkung Desa Sudaji Kecanatan Sawan, Buleleng, Singaraja, Bali, dan tinggal di rumah bedeng di sudut Kota Denpasar sejak satu setengah tahun yang lalu.

Kakek dan nenek hanya merupakan seorang buruh tani di sawah milik orang, sedangkan paman Ketut bekerja serabutan sebagai kuli bangunan dengan upah Rp 660 ribu per Minggu.

"Ayah mereka meninggal dunia sekitar 9 bulan yang lalu, ibunya sekitar empat hari yang lalu pergi tanpa alasan yang jelas, pamitnya pergi beli bunga untuk sembahyang tapi ternyata tidak pulang-pulang," kata paman Ketut Artawa adik dari Made Restina ayah anak-anak tersebut saat dijumpai Tribun Bali di lokasi, Selasa (9/6/2020).

Made Restina ayah dari ketiga anak itu meninggal dunia karena serangan jantung, sejak kecil juga hidup dengan kondisi keterbatasan di salah satu kakinya, untuk berjalan harus dibantu dengan tongkat.

Almarhum ayahnya dulu seorang pengrajin layang-layang, sedangkan ibunya membuka warung kecil sederhana.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved