Nengah Sukerni Harus Merugi, Tanaman Cabainya Layu Akibat Terus Diguyur Hujan

Petani setempat, Ni Nengah Sukerni tampak sibuk mencabut tanaman cabainya yang sudah mulai menguning.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Ni Nengah Sukerni tampak sibuk mencabut tanaman cabainya yang sudah mulai layu di Desa Selisihan, Klungkung, Kamis (11/6). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Matahari terasa sangat terik di area persawahan Desa Selisihan, Klungkung, Kamis (11/6/2020).

Petani setempat, Ni Nengah Sukerni tampak sibuk mencabut tanaman cabainya yang sudah mulai menguning.

Hampir seluruh tanaman cabai miliknya layu, karena diguyur hujan beberapa hari terakhir.

" Saya rugi total kalau seperti ini keadaannya. Padahal cabai sudah berbuah, tapi terus terkena hujan saat malam harinya. Ini yang layu seperti ini, sudah pasti akan mati," ujar Sukerni sembari menunjukan tumbuhan cabainya yang sudah tampak layu.

Ibu Kandung telah Lepas Status Asuh, 3 Anak Bersaudara Resmi Dibawah Asuhan Kakek & Neneknya

Kuasai 118 Gram Sabu dan 38 Butir Ekstasi, Amrulloh Pasrah Menerima Divonis 12 Tahun Penjara

Kronologi WNI Kepergok Curi Tas Louis Vuitton di Melbourne Australia,Beraksi saat Karyawan ke Gudang

Panasnya terik matahari saat itu tidak dihiraukannya.

Meski keringat menetes di dahinya, ia terus mencabut satu persatu tanaman cabainya yang layu.

Tanaman cabai milik Nengah Sukerni sebenarnya sudah berusia 2 bulan.

Bahkan tanaman cabainya sudah berbuah, dan sudah siap dipanen dibulan ke-4.

Hanya saja cuaca yang tidak menentu tanaman cabainya mulai menguning, layu dan mati.

Bahkan diluas lahan pertaniannya yang sekitar 7 are, semua tanaman cabainya mati.

" Saat malam hari hujan, siangnya panas terik seperti ini. Sampai air hujan itu menggenang dibawah tanaman cabai, makanya layu dan mati," keluh Sukerni.

Agar tidak terlalu merugi, sejak seminggu lalu Sukerni menanam bunga pacar air.

Agar tidak menghambat pertumbuhan bunga pacar airnya, ia harus mencabut tanaman cabai yang tidak bisa lagi diselamatkan.

"Tanaman cabai ini dicabut, agar tidak menghalangi tanaman bunga," ungkapnya.

Yuri Jelaskan Tracing Contact Lebih Masif Jadi Penyebab Rekor Baru Penambahan Kasus Baru Covid-19

KPU Berencana Batasi Jumlah Massa Saat Pendaftaran dan Kampanye Pilkada Serentak 2020

Ratusan WNA Dibubarkan Tim Gabungan di Restoran di Canggu, Satpol PP Panggil Manajemen Restoran

Hal ini tidak hanya dialami Sukerni, tapi juga dialami oleh petani lainnya di desa setempat yang juga sama-sama menanam cabai. Kondisi ini membuat mereka merugi. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved