Rencana Bali Akan Dibuka, PHRI Badung Sebut Siap Hadapi New Normal dengan SOP dan Protokol Kesehatan
Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, turut bahagia dengan rencana re-opening Bali pada 9 Juli 2020.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, turut bahagia dengan rencana re-opening Bali pada 9 Juli 2020.
Walaupun belum sepenuhnya, setidaknya ada titik terang nanti setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan Bali.
Ia juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi Bali dan stakeholder terkait dalam upaya menekan transmisi lokal, sehingga impian re-opening tahap selanjutnya bisa terlaksana.
“Ini kan baru 18 Juni 2020, kalau 2 minggu ke depan transmisi lokal bisa ditekan dengan baik. Melandai, tidak ada peningkatan kasus, bahkan penyembuhan naik. Tentu akan bertahap Bali dibuka,” jelasnya kepada Tribun Bali, (18/6/2020).
Rencana Pemprov Bali, tanggal 9 Juli nanti dibuka khusus untuk masyarakat lokal Bali.
“Rencana tanggal 5 matur piuning di Besakih, dilanjutkan hari baik untuk re-opening,” sebutnya.
• Kasus Positif Covid-19 di Bali Melonjak dengan Penambahan 66 Orang, Pasien Sembuh 11 Orang
• Terseret Arus Saat Mancing di Pantai Candikusuma, Tim SAR Belum Berhasil Temukan Keberadaan Agus
• KPU Denpasar Sebut Pemilih Akan Dibatasi Maksimal 500 orang per-TPS Guna Cegah Penyebaran Covid-19
Pria yang juga Ketua BPPD Badung ini, mengatakan Bali lekat dengan adat istiadat dan agama serta budaya Hindu.
Dengan mengusung konsep Tri Hita Karana, maka keseimbangan antara semua lini harus dilakukan.
Satu di antaranya, meminta izin kepada Tuhan agar diberikan berkah saat re-opening Bali.
“Ini sesuai visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, dalam menjaga keharmonisan sekala dan niskala,” tegasnya. Intinya meminta izin.
Upaya membuka pelan-pelan Pulau Dewata ini, tidak hanya ditujukan bagi warga lokal Bali saja.
Namun juga bagi ekspatriat, dan wisman yang masih menetap di Bali dan tidak kembali ke negaranya.
Rai mengatakan jumlahnya ribuan di Bali.
• PPDB Jalur Disabilitas di Badung Hanya Diikuti Empat Orang
• Pariwisata Dibuka Bertahap, Badung Keluarkan Panduan New Normal
• Kondisi Pemain Bali United Paulo Sergio Sangat Bagus di Portugal, Siap Jalani Liga I Indonesia 2020
“Baik keluarga konsul jenderal, atau keluarga ekspatriat yang bekerja di Bali. Punya usaha di Bali serta menikah di Bali, ada yang memperpanjang izinnya tinggal di Bali karena belum ada penerbangan balik ke negaranya,” jelas Rai.
Ia berharap, tahap kedua bulan Agustus dan tahap ketiga bulan September bisa terlaksana dengan baik.
Sehingga pariwisata kembali jalan perlahan, sampai nanti kembali seperti semula.
Seperti diketahui, rencana tahap ketiga bulan September baru Bali dibuka untuk market internasional.
Ia berharap kerja sama dengan partner bisnis di beberapa negara khususnya negara dengan investasi di Indonesia seperti Australia, Korea, Jepang, dan China.
“Dari negara ini juga ada direct flight,”imbuhnya.
• RSUP Sanglah Miliki Makanan Khusus untuk Pasien Covid-19
• Terapkan Dua Pola, KPU Badung Rancang Pola Pilkada di Tengah Pandemi Covid-19
Rai menjelaskan, satu di antara kerja sama adalah travel bubble antar dua negara. Guna mendatangkan turis asing, dari negara yang telah membuka penerbangan dan perbatasannya.
“Tentu dengan protokol kesehatan yang sangat ketat, persiapan juga sudah matang,” tegasnya.
Selama 3 bulan penutupan Bali, telah dilakukan training dan pelatihan dalam persiapan re-opening di managemen hotel, villa, hingga condotel yang ada di Bali.
Travel bubble, kata dia, adalah kesepakatan dari satu negara dengan negara lain untuk saling mendatangkan warganya sebagai turis.
Tentunya dengan syarat dan protokol kesehatan yang ketat.
Sehingga negara yang bekerja sama, adalah termasuk zona hijau.
Untuk Bali dan Indonesia, telah dirundingkan dengan 4 negara di atas mengenai penerapan travel bubble ini.
“Pembicaraan sudah dilakukan baik dari kementerian, KBRI yang ada di masing-masing negara dan partner bisnis di sana dalam melakukan pendekatan,” jelasnya.
Rai mengatakan strategi komunikasi pariwisata dalam menghadapi new normal, sangat penting dilakukan sehingga informasi lebih jelas.
Webinar merupakan satu di antara penerapan new normal.
Kemudian menginformasikan, mengedukasi masyarakat tentang new normal.
Layaknya new normal ketika bom Bali, keamanan ditingkatkan dengan semua security guard membawa metal detector.
Kemudian new normal dalam pandemi Covid-19, adalah konsen terhadap CHS atau kebersihan, kesehatan, dan keamanan.
Ia menyebutkan, room night di Bali adalah 146 ribu dan dari itu di Badung saja sebanyak 102 ribu room night.
“Jadi sebanyak 70 persen ada di Kabupaten Badung tepatnya di Bali selatan,” sebutnya.
Selama pandemi hampir semua hotel di Bali tutup, karena tidak ada tamu.
Kini, sebagai pilot project dalam re-opening Bali sesuai era baru adalah di kawasan ITDC.
“Ini sudah dicek langsung oleh Kemenparekraf, dan fasilitas di Nusa Dua area ini dianggap lebih memadai, komplit, keamanan dan semua memenuhi standar sesuai CHS,” tegasnya.
Walau demikian, ketika turis menginginkan menginap di luar wilayah Nusa Dua.
Rai mengklaim bahwa semua hotel di Bali siap menerima tamu, dengan protokol dan SOP kesehatan yang ketat.
“Seperti Kuta yang dianggap sebagai kampung dari turis Australia selama ini,” sebutnya.
Sesuai konsep tamu adalah raja, sehingga semua tempat harus siap baik Sanur hingga ke wilayah Ubud.
Rai juga mengingatkan bahwa okupansi tidak akan kembali seperti semula.
Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana, berharap semua akan berjalan normal dan transmisi lokal bisa menurun.
“Semua tergantung sikon dan kondisi Bali,” jelasnya.
Ia berharap Swab mampu menjadi filter, dan keamanan bagi yang mau masuk ke Bali.
Sehingga jelas terlacak kesehatan dan lain sebagainya.
Gus Agung, sapaan akrabnya, melihat pelaku pariwisata sudah siap dengan standar dan protokol kesehatan dalam new normal dan rencana re-opening Bali dalam 3 tahap.
“Nah yang perlu sekarang adalah pemetaan kasus yang terjadi, misalkan saja di pasar atau sumber kerumunan lainnya,” tegasnya.
Sehingga tugas satgas bisa terfokus di sana, tidak dipukul rata dan tidak efektif dalam mengatasi kasus Covid-19.
Apalagi saat ini sebagian besar telah terjadi karena transmisi lokal. Ia berharap dengan upaya sekala-niskala sesuai kepercayaan Hindu di Bali dapat memberikan titik terang dan jalan bagi Pulau Dewata ke depannya.
Sehingga semua segera kembali seperti sediakala. (*)