Tanaman Hias Jadi Incaran di Masa Pandemi, Janda Bolong Paling Diburu
Sejumlah pembeli tampak sibuk melihat dan memilih tanaman yang akan diburu di sebuah tempat penjualan tanam hias di Jalan Raya Marga-Petiga
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Sejumlah pembeli tampak sibuk melihat dan memilih tanaman yang akan diburu di sebuah tempat penjualan tanam hias di Jalan Raya Marga-Petiga, Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan, Jumat (6/11/2020).
Di masa pandemi ini, banyak masyarakat yang mulai menekuni kegiatan berkebun, khususnya tanaman hias untuk mengisi kekosongan waktu.
Sehingga, tak heran harga tanaman hias saat ini jauh meroket.
Tanaman yang paling diburu adalah tanaman Monstera Adansonii atau yang lebih dikenal dengan nama "Janda Bolong".
Baca juga: Terbukti Edarkan Sabu dan Ekstasi, Hendrik Akui Pasrah Dibui 13 Tahun
Baca juga: Cerita Mistis Hotel Hantu Bedugul, Ini Yang Harus Dilakukan Saat Lewat atau Mendatanginya
Baca juga: Bisnis Ukir Buah untuk Resepsi di Tengah Pandemi, Ketut Alit Terima Banyak Pesanan
Menurut pantauan, sejumlah masyarakat tampak berdatangan ke dua desa yang mayoritas warganya sebagai penjual tanaman hias yakni Desa Geluntung dan Desa Petiga di Kecamatan Marga.
Pembeli dikatakan mayoritas sedang memburu tanaman hias indoor (dalam ruangan) serta tanaman jenis aglonema.
"Yang paling banyak dicari akhir-akhir ini itu tanaman indoor atau dalam ruangan. Contohnya yang paling diburu adalah tanaman janda bolong ini," kata salah satu penjual tanaman di Desa Geluntung, Ibu Dyona sembari menunjukan tanamannya saat dijumpai di Dhyona Garden, Jumat (6/11/2020).
Baca juga: Viral di Medsos Dua Bule Duel Layaknya Adegan MMA di Tibubeneng, Ini Dugaan Penyebabnya
Baca juga: Ada Ambulans Khusus Hewan di Jembrana, Seperti Ini Penampakannya
Baca juga: Listibiya Gelar Kesenian Berbasis Kearifan Lokal Menuju Pemajuan Kebudayaan Bali di Era New Normal
Dia menceritakan, awal mula bisnisnya adalah sebagai pecinta tanaman yang kemudian berkembang menjadi penjual tanaman.
Sebab, selain merupakan kegiatan yang sangat positif, bercocok tanam dalam hal ini tanaman hias justru bisa mendatangkan rezeki atau bisa menjadi peluang bisnis jika ditekuni.
Terbukti, kata dia, awalnya dia hanya menjual secara rumahan saja. Hanya beberapa saja yang dijual.
Namun seiring perkembangan waktu, dirinya kemudian mulai mencoba fokus untuk menjual tanaman hias di pinggir jalan raya Marga-Apuan.
Di sana, ia pun menyewa lahan milik warga lain untuk dijadikan sebuah tempat pembibitan hingga penjualan yang saat ini dikenal dengan nama Dhyiona Garden.
Baca juga: 7 Perubahan Ini Akan Terjadi Pada Tubuh Anda Jika Sering Begadang, Apa Saja Itu?
Baca juga: Kelian Subak Karang Dalem Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Tindak Korupsi
Baca juga: Pemprov Bali Lakukan Ujicoba Kendaraan Angkutan Bus Listrik di Denpasar
"Sampai sekarang saya sudah 10 tahun di jalanan, dulunya saya cuma di rumahan saja," kata perempuan asal Banjar Petiga Kangin, Desa Petiga, Kecamatan Marga ini.
Dia melanjutkan, singkat cerita dulunya tanaman yang ia jual biasanya diambil langsung oleh pengepul tanaman yang ada di Kabupaten Badung.
Saat normal, tanamannnya selalu diambil untuk proyek pengembangan akomodasi pariwisata seperti untuk taman villa, taman hotel, bahkan juga untuk taman rumahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/seorang-pedagang-tananam-hias-saat-menunjukan-tanaman-janda-bolong.jpg)