Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mengenal Hyperemesis Gravidarium atau Morning Sickness Ekstrem dan Faktor Risikonya

Pada beberapa wanita, morning sickness yang gejalanya parah dapat berlanjut menjadi hyperemesis gravidarium atau morning sickness ekstrem.

Penulis: Noviana Windri | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Shutterstock via Bangka Pos
Ilustrasi Mual 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tanda dan gejala morning sickness antara lain mual, kehilangan nafsu makan, muntah, efek prikologis, misal depresi dan kecemasan.

Berbagai gejala inj biasanya muncul sejak awal wanita mengandung dan akan membaik di minggu ke-12 kehamilan dan kondisi ini mungkin akan terus muncul selama kehamilan.

Morning sickness merupakan salah satu tanda kehamilan normal.

Baca juga: Masih Latihan, Tiga Jenis Olahraga Ini Rutin Dilakukan Brwa Nouri

Baca juga: Kembangkan Mina Padi, 8.000 Ekor Bibit Ikan Nila Ditebar di Subak Kedu Buleleng

Baca juga: Kapolri Idham Azis Akan Memasuki Masa Pensiun, Berikut Daftar Kandidat Calon Penggantinya

Walaupun tidak membahayakan ibu dan janin, morning sickness dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari. 

Pada beberapa wanita, morning sickness yang gejalanya parah dapat berlanjut menjadi hyperemesis gravidarium atau morning sickness ekstrem.

Hyperemesis gravidarum adalah mual dan muntah parah yang dialami ibu hamil.

Baca juga: Apakah Morning Sickness Berbahaya? Ini Penjelasannya

Baca juga: Dosen Ditemukan Tewas Gantung Diri, Dikenal Sosok Pekerja Keras

Baca juga: 7 Perkiraan Penyebab Morning Sickness, dari Peningkatan Kadar Hormon Hingga Kekurangan Nutrisi

Kondisi ini rentan menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan drastis.

"Jika ibu hamil mengalami hyperemesis gravidarium, penanganan dari tenaga kesehatan perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi. Segera cari pertolongan kepada dokter," jelas dr. Sofani Munzila, Sp.OG dalam webinar 'How to Deal With Morning Sickness' yang digelar oleh KECC, Kamis (19/11/2020).

Beberapa faktor dikaitkan dengan terjadinya hyperemesis gravidarium di antaranya masih kontroversi.

Baca juga: Disperindag Bangli Ajukan Usulan PAD Naik Rp 700 Juta Lebih

Baca juga: 6 Fakta Sidang Putusan Jerinx, JRX SID Peluk Sejenak Nora Alexandra hingga Hukuman 14 Bulan Penjara

Diperkirakaan hyperemesis gravidarium disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor yang sudah disebutkan di atas.

Faktor tersebut dapat bervariasi antar beberapa wanita seperti generik, stres, hormonal, dan lainnya.

Beberapa faktor risiko hiperemesis gravidarum, antara lain.

1. Hamil pada usia yang sangat muda.

2. Kehamilan pertama.

3. Kelebihan berat badan (obesitas).

4. Memiliki keluarga dekat (misalnya ibu, kakak, atau adik) yang pernah mengidap hiperemesis gravidarum.

5.Mengidap mola hidatidosa (hamil anggur).

6. Mengandung anak perempuan atau anak kembar.

7.Pernah mengalami hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved