Breaking News:

Berita Bali

MDA Bali Tegaskan Ogoh-ogoh Tak Wajib Saat Nyepi

SKB tentang Pelaksanaan Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1943 di Bali, melarang pengarakan ogoh-ogoh

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Ogoh-Ogoh Sang Hyang Penyalin di Banjar Dangin Peken, Sanur,Denpasar, Senin 16 Maret 2020 - MDA Bali Tegaskan Ogoh-ogoh Tak Wajib Saat Nyepi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali mengeluarkan surat keputusan bersama (SKB) tentang Pelaksanaan Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1943 di Bali.

SKB yang dikeluarkan pada 19 Januari 2020 itu salah satunya melarang pengarakan ogoh-ogoh karena masih berada dalam situasi pandemi Covid-19.

Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet, menilai pelarangan ogoh-ogoh yang ditiadakan serangkaian Hari Raya Nyepi pada Maret 2021 semestinya tidak menjadi polemik di masyarakat.

"Arak-arakan ogoh-ogoh ditiadakan mestinya di masyarakat tidaklah menjadi polemik lagi. Karena mengapa? Bahwa kita dalam suasana pandemi, di mana Covid-19 ini semakin mengganas, semakin mengkhawatirkan," kata Sukahet saat ditemui awak media usai konferensi pers di kantornya, Sabtu 23 Januari 2021.

Baca juga: MDA Bali Minta Pelarangan Ogoh-ogoh Serangkaian Nyepi Tak Jadi Polemik, Sebut Kesehatan Alasan Utama

Baca juga: Pengarakan Ogoh-ogoh Menjelang Nyepi 2021 Ditiadakan, Disbud Denpasar Akan Bahas Degan PHDI Dan MDA

Baca juga: Desa Adat Gulinten Karangasem Gelar Nyepi Adat, Jika Ada Krama Melanggar Didenda 25 Kg Beras

Selain untuk meminimalisir penularan, protokol kesehatan ini juga memiliki aspek hukum.

"Aspek hukum itu bukan hukum di Bali, tapi hukum sudah nasional, kepolisian bisa bertindak. Ada aspek pidananya juga disamping aspek kesehatan," jelasnya.

Sukahet menerangkan, arak-arakan ogoh-ogoh bukanlah rangkaian wajib dari Hari Raya Nyepi.

Menurutnya, di dalam berbagai tatwa ogoh-ogoh tidak diwajibkan, akan tetapi merupakan kreasi budaya dan adat yang bagus.

Kreasi ini lalu dikaitkan dengan rangkaian Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Sasih Kesanga.

"Tapi di sastranya apakah itu kewajiban, tidak! Oleh karena itu secara agama itu tidak wajib. Yang wajib tawur kesanga-nya kemudian catur bratha penyepian," kata dia.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved