Imlek 2021

Jro Gede Kuning Bangun Kelenteng Sing Bie di Denpasar Bali, Setiap Saraswati Dilaksanakan Odalan

Jro Gede Kuning yang mendirikan Kelenteng Sing Bie. Di Kelenteng ini menganut ajaran Siwa Budha yang sangat kental dengan budaya Bali-nya.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Jro Sung Arsini melakukan pembersihan Wihara Sing Bie Bio, Jalan Kartini, Denpasar, Rabu 10 Februari 2021. Wihara Sing Bie Bio merupakan salah satu wihara yang ada di pusat perekonomian atau pecinan di kota Denpasar - Jro Gede Kuning Bangun Kelenteng Sing Bie di Denpasar Bali, Setiap Saraswati Dilaksanakan Odalan 

Ada tiga suku besar dari etnis Tionghoa yang menempati kawasan ini yakni Suku Kek atau Hakka, Suku Hokkian, dan Suku Tiociu.

Dalam lipsus Imlek kali ini, Tribun Bali merangkum tentang etnis Tionghoa yang hampir ratusan tahun menempati kawasan Gajah Mada.

Diperkirakan, mereka telah datang dan menempati kawasan Jalan Gajah Mada sekitar tahun 1920-an pada masa penjajahan Belanda.

Menurut penuturan salah seorang warga etnis Tionghoa, Sujadi Prasetio atau Tio Sing Khoei (87) etnis Tionghoa yang menetap di Gajah Mada dulunya datang dari Lombok.

Setelah itu beberapa dari mereka merantau dan menempati wilayah Kuta, Badung.

Dari Kuta inilah mereka kemudian mulai datang ke kawasan Gajah Mada termasuk Jalan Kartini hingga ke Jalan Gunung Agung Denpasar.

“Waktu tahun 1920-an awal saya kira di Denpasar ini belum berkembang betul (etnis Tionghoa). Orangtua saya itu di Lombok dulu membuat pabrik beras di sana. Di seputaran Gajah Mada waktu itu masih alang-alang,” kata Tio yang ditemui di kediamannya Jalan Kartini Gang II, Denpasar Rabu 10 Februari 2001 kemarin.

Saat masa awal, kebanyakan etnis Tionghoa yang menempati Gajah Mada kebanyakan suku Tiociu yang berasal dari Provinsi Guangsong.

“Awalnya di Gajah Mada banyak tukang sepatu, tukang gigi, tukang kayu, kemudian baru ada palen-palen. Dulu Gajah Mada belum begini, sederhana, semua seng, di rumah saya semua seng dulu dan sengnya bertahan lama sampai ratusan tahun,” katanya.

Bahkan menurutnya, dulu Jalan Gajah Mada belum bernama Gajah Mada.

Akan tetapi sampai saat ini masih belum ditemukan apa nama kawasan tersebut.

“Sudah saya tanya yang tua, belum juga ada yang tahu. Setelah berkembang baru namanya Gajah Mada,” katanya.

Saat pindah dari Kuta, orangtuanya membawa hasil bumi ke Gajah Mada, mulai dari kopra, bawang putih, juga kedelai.

Ia pun menuturkan, saat awal perkembangannya, wilayah Jalan Gunung Agung merupakan persawahan.

Orangtuanya pun sangat dekat dengan Puri Pemecutan kala itu.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved